Thursday, December 1, 2022

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO 

Oleh : Qonita Salma Safira (21311103)

A. MA'RIFAT

1. DEFINISI MA’RIFAT 

Secara bahasa berasal dari kata arafa-yu'rifu-Irfan, berarti; mengetahui, mengenal atau pengetahuan illahi. Secara terminologi ma’rifat berarti mengenal dan mengetahui berbagai ilmu secara rinci atau dapat diartikan sebagai pengetahuan maupun pengalaman secara langsung atas realitas mutlak Tuhan. Orang yang mampunyai ma'rifat disebut arif. Ma’rifat merupakan pengetahuan yang objeknya bukan hal-hal yang bersifat eksoteris (zahiri), tetapi lebih mendalam terhadap penekanan esotris (bathiniyyah). Ma’rifat itu bukan hasil pemikiran manusia, tetapi tergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan, marifat merupakan pemberian Tuhan kepada orang yang dipandang Allah sanggup menerimanya.

Ma'rifat Menurut Para Tokoh Tassawuf

Zu Al-nun Al-Misri (Orang pertama yang menganalisis ma'rifat secara konseptual). Hakikat ma’rifat adalah al-haq itu sendiri. Ma’rifat kepada allah tidak dapat ditempuh dengan pendekatan akal dan pembuktianpembuktian,tetapi dengan jala ma’rifat batin yakni Allah SWT menyinari hati manusia dan menjaganya dari kecemasan. Dan sifat yaitu cahaya hati seseorang arif dengan anugerah dari-Nya sanggup menemebus realitas sebagaimana al-Haq melihatnya. Pada tingkatan seorang yang arif ia akan mendapati penyingkatan hijab (Kasyf al-hijab). Sifat-sifat manusia perlahan terangkat keatas dan selanjutnya menyandang sifatsifat luhur yang dimiliki allah swt, sampai akhirnya ia sepenuhnya hidup didalam-Nya.

Jalal Al-Din Ar-Rumi, ketersingkapan tirai atau dinding pemisah yang mengantarai seorang hamba dengan khaliqnya. Dan yang mendasar adalah mengingat Tuhan sebagaimana banyak dianjurkan oleh al-quran dan hadist. Dalam ketersingkapan tersebut segala rahasia dan pengetahuan Tuhan dapat disaksikan. Menurut Rumi seorang muslim harusnya megamalkan apa yang diperintahkan allah swt seberat apapun itu, inilah yang meurut rumi sebagai “jihad al-akbar”. Jihad al-akbar maksudnya membunuh nafs dan meninggalkan keinginan-keinginan diri serta hasrat birahi. Dalam hal ini manusia hanya menginginkan ridho, rahmat dan inayat dari Allah swt. 

Ibnu Taimiyyah, jalan tengah memandang tassawuf pada struktur ajaran islam, dalam pandangannya amaliyyah kesufiyan merupakan pengamalan ajaran islam yang bersumber dari al-quran dan as-sunnah yang pada intinya ia menyebut amaliyyah kesufian dengan amal al-qulb dan amal al-bathin, oleh sebagian kaum sufi dinamakan ahwal dan maqamat atau manazil al-sairin ilaa allah (persinggahan mereka yang kembali ke allah). Itu semua merupakan manifestasi persoalan yang diperintahkan allah dan rosulnya yang wajib diusahakan.

Ma'rifat adalah mengetahui rahasia-rahasia tuhan dengan menggunakan sanubari (hati), sehingga akan memberikan pengetahuan yang menimbulkan keyakinan yang seyakin-yakinnya. Yang dari keyakinan tersebut akan muncul ketenangan dan bertambahnya ketaqwaan kepada Allah SWT. 

2. Cara Mencapai Ma'rifat

Mengenal Diri Sendiri 

Mengetahui terlebih dahulu bahwa diri ini tersusun dari bentuk lahir yang disebut badan dan bathin (qalb)

Melaksanakan Intensitas ubuddiyyah

Kesadaran untuk mendekatka diri kepada allah, dengan melaksanakan hal-hal sebagaimana seorang hamba menyembah kepada tuhan nya .

Melaksanakan Syariat dan Tarekat

Syariat untuk mencapai derajat (Aspek zahir). Tarekat untuk mencapai kedekatan kepada Allah (aspek bathin) . 

Takhally-Tahally-Tajally

Takhally( mengosongkan dan membersihkan diri sifat keduniawian yang tercela. ▪ Tahally menghias jiwa dengan membiasakan diri dengan sifat,sikap dan perbuatan baik. ▪ Tajally lenyapnya sifat kemanusiaan 

3. JENJANG-JENJANG MA'RIFAT 

❑ Ma’rifat al Tauhid sebagai ma’rifatnya orang, yaitu ma’rifat yang diperoleh kaum awam dalam mengenal Allah swt, melalui perantara syahadat, tanpa disertai argumentasi. 

❑ Ma’rifat al Burhan wa Al Istidlal yang merupakan ma’rifatnya mutakallimin dan filsuf (metode akal dan budi), yaitu ma’rifat tentang Allah melalui pikiran dan pembuktian akal. 

❑ Ma’rifat Hakiki merupakanma’rifat waliyullah, yaitu ma’rifat tentang Allah melalui sifat dan ke Esaan Nya, diperoleh melalui hati nurani.

4. MACAM-MACAM MA'RIFAT 

❑ Ma’rifat Ta’limiyat merupakan istilah lain Ma’rifat yang di lontarkan oleh alGhazali25, dapat di definisikan sebagai Ma’rifat yang dihasilkan dalam usaha memperoleh Ilmu. Ta’limiyat berasal dari kata ta’lama, yuta’limu, ta’liman-ta’limiyatan yang berarti mencari pengetahuan atau dalam arti lain memperoleh ilmu pengetahuan. Sedangkan orang yang yang sedang mencari ilmu disebut muta’alim. Oleh karena itu Ma’rifat Ta’limiyat yaitu berjalan untuk mengenal Allah dari jalan yang biasa, “mulai dari bawah hingga keatas”. 

❑ Ma’rifat laduniyah yaitu Ma’rifat yang langsung dibukakan oleh Tuhan dengan keadaan kasf, mengenal kepada-Nya. Jalannya langsung dari atas dengan menyaksikan Dzat yang Suci, kemudian turun dengan melihat sifat-sifat-Nya, kemudian kembali bergantung kepada namanama-Nya. Ibnu ‘Atha’illah memberi istilah lain terhadap Ma’rifat laduniyah dengan sebutan Ma’rifat orang mahjdub. Ma’rifat orang mahjdub yang diungkapkan oleh Ibnu ‘Atha’illah merupakan sebuah Ilmu yang diberikan secara langsung oleh Tuhan kepada manusia yang ada sisi kesamaannya dengan Ma’rifat Laduniya

5. Implementasi Ma'rifat Pada Pendidikan Islam 

❑ Pengaktifan potensi akal dan hati untuk lebih kenal Allah melalui ayat-ayat wahyu dan ayat-ayat semesta. 

❑ Perenungan penciptaan manusia sebagai makhluk Allah memberikan kesadaran tugas dan tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah untuk mengabdikan hidup mati karena Allah. 

❑ Variabel vertikal yaitu pengenalan manusia perannya sebagai hamba Allah yang taat, dan variabel horizontal yaitu pengenalan manusia perannya sebagai khalifah di bumi (pemakmur bumi).

B. RIDHLO 

1. DEFINISI RIDHO 

❑ Secara etimologi kata ridha merupakan ism masdar dari kata radhiya-yardha yang berarti puas, rela hati, menerima dengan lapang dada atau pasrah terhadap sesuatu. 

❑ Secara harfiah yaitu rela,suka, atau senang.Al-ridha merupakan sebuah kata yang sudah menjadi bahasa Indonesia yaitu ridha atau rela. 

❑ Secara terminologi ridha berarti kerelaan yang tinggi terhadap apapun yang diberikan oleh al-Haq baik sesuatu yang menyenangkan atau tidak sebagai sebuah anugerah yang istimewa pada dirinya. 

❑ Menurut Al-Hujwiri istilah ridha mengandung dua pengertian: pertama,ridha Tuhan kepada manusia, kedua, ridha manusia kepada Tuhan. 

❑ Menurut Al-Muhasibi, ridha adalah penyerahan (al-tawakkul) dan ketentraman hati mengahadapi peristiwa-peristiwa yang timbul karena keputusan-keputusan Tuhan. 

Jadi Ridhlo berarti tidak terguncangnya hati seseorang ketika menghadapi musibah dan mampu menghadapi manifestasi takdir dengan hati yang tenang, dengan kata lain yang dimaksud dengan ridha adalah ketenangan hati dan ketentraman jiwa terhadap ketetapan dan takdir Allah SWT, serta kemampua menyikapinya, dengan tabah, termasuk terhadap derita, nestapa, dan kesulitan yang muncul dari-Nya yang dirasakan oleh jiwa

2. Macam- macam Ridhlo 

❑ Adapun riḍa hamba terhadap Allah ada dua, yaitu riḍa billah الرضا هبالل ّdan riḍa anillah هاللّ الرضا عن Al-Riḍa Billah yaitu riḍa terhadap Allah sebagai Tuhan yang berhak diibadahi, dan ditaati syariatsyariat (aturan-aturan) Nya, seperti menauhidkan Allah, melaksanakan ṣalat, menjalankan puasa, menunaikan zakat dan lain sebagainya. 

❑ Al- Riḍa Nillah yaitu riḍa terhadap ukuran-ukuran dan batasan yang telah diciptakan dan diberikan Allah untuk seseorang seperti ukuran dan batas rezeki, kesehatan, bentuk fisik, jenis kelamin kebangsaan, cuaca dan lain sebagainya.

3. IMPLEMENTASI RIDHLO 

❑ Kesatu, ridha orang tua terhadap anaknya. Ridha Allah SWT bergantung pada ridha orang tua sesuai sabda Rasulullah SAW, "Ridha Allah SWT tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah SWT tergantung kepada kemurkaan orang tua." (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim). 

❑ Kedua, ridha suami kepada istrinya. "Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya maka ia masuk surga." (HR at-Tirmidzi). 

❑ Ketiga, ridha dalam transaksi jual beli. Disebutkan dalam firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan ridha di antaramu." (QS an-Nisaa: 29). 

❑ Adapun, ridha yang dilarang, pertama, ridha terhadap dunia. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa ridha dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan itu) dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan.” (QS Yunus: 7-8). 

❑ Kedua, ridha bersama-sama orang yang menyelisih Nabi. Konteks saat ini adalah menyelisihi dan meninggalkan sunah Nabi SAW, balasannya adalah Allah SWT akan mengunci hati mereka dari kebenaran. (QS at-Taubah: 93).Sudah selayaknya setiap mukmin berusaha mengamalkan ridha yang diperintahkan. 




AKHLAK DALAM TASAWUF : IKHLAS DAN SYUKUR

AKHLAQ DAN TASAWUF : IKHLAS DAN SYUKUR

Oleh : Qonita Salma Safira (213111036)

Definisi Ikhlas
Secara etimologi, ikhlas adalah kemurnian yang tidak dicampuri hal-hal yang menjadi tujuan. Dalam ajaran tasawuf keikhlasan merupakan sesuatu yang dibutuhkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ikhlas merupakan sebuah kunci dari amalan yang kita jalankan sehari-hari demi menjalankan semua amalan dan mendapatkan syafaat dari Allah SWT.Oleh karena itu, dalam menjalankan suatu pekerjaan, baik ibadah maupun pekerjan sehari-hari, ada baiknya kita juga belajar bagaimana agar pekerjaan yang kita jalani menjadi berkah dan pahala bagi kita didasari dengan rasa ikhlas.

Ikhlas Menurut Para Ulama
Menurut Al-Ghazali menyatakan bahwa amal yang dilakukan karena mengharap imbalan surga, Bahkan menurut hakikatnya, bahwa tidak dikehendaki dengan amal itu selain wajah Allah SWT dan itu adalah isyarat kepada keikhlasan orang-orang yang benar (al-siddiqi), yaitu keikhlasan mutlak.

Menurut Abu Thalib Al-Makkikhlas merupakan pemurnian agama sehingga tidak mengikuti hawa nafsunya dan tidak berperilaku yang menyimpang atau tercela. Memumikan amal dari sifatsifat tercela atau penyakit hati. Memurnikan atau menjaga ucapan dari kata-kata yang kurang baik seperti riya dan memurnikan akhlak dengan cara menjalankan apa yang sudah diperintahkan dan disukai oleh Allah SWT Menurut Al-Qusyairi ikhlas adalah penunggalan Al-Haqq dalammengarahkan semua orientasi ketaatan. Dengan ketaatannya dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditujukan untuk makhluk, tidak untuk mencari pujian manusia atau makna-makna lain selain pendekatan diri kepada Allah.

Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani mengartikan ikhlas adalah bahwasanya orang-orang mencintai Allah tentu akan di cintai Allah pula. Oleh karena itu, Allah mencintai mereka, menguasakan mereka, dan menguatkan mereka di atas cinta orang lain. Mereka saling menolong atas dasar seruan yang benar.

Dalil Tentang Ikhlas

الذين ينفقون أمولهم في سبيل الله ثم لا يتبعون ما انفقوا ميا ولا الى " لهم أجرهم عند ربهم ولا

الخوف عليهم ولا هم يحزنون Artinya: "Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infaknya itu dengan menyebut- nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (QS. Al-Baqarah [2]: 262)

Al-A'Raf Ayat 29

قل أمر ربى بالقسط وأقيموا وجوهكم عند كل مسجد وانغوة مخلصين له الدين كما بناكم تعوذون ٣٩
Artinya: "Katakanlah, Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya.Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula."(QS. Al- Araf [7]: 29).

Tingkatan Ikhlas
1. Khawasul Bhawa
Saat ia beribadah tidak ada motivasi atau tendensi apa pun, kecuali mengharap ridha dari Allah SWT la beribadah untuk menegaskan sifat kehambaannya.
2. Khawasul
Seorang hamba beribadah semata mata untuk mencari keuntungan akhirat. Tidak ada motivasi sedikitpun untuk mencari keuntungan duniawi Namun, di dalam hatinya masih ada keinginan untuk memperoleh pahala, surga, dan lain sebagai nya.
3. Awam
Beribadah kepada Allah, tetapi masih disertai mencari keuntungan duniawi dan ukhrawi

Contoh Sikap dan Perilaku Ikhlas
Saat ia beribadah tidak ada motivasi atau tendensi apa pun, kecuali mengharap ridha dari Allah SWT la beribadah untuk menegaskan sifat kehambaannya.
Seorang hamba beribadah semata mata untuk mencari keuntungan akhirat. Tidak ada motivasi sedikitpun untuk mencari keuntungan duniawi Namun, di dalam hatinya masih ada keinginan untuk memperoleh pahala, surga, dan lain sebagainya
Beribadah kepada Allah, tetapi masih disertai mencari keuntungan duniawi untuk melakukan perbuatan terpuji dan tidak dipamerkan kepada orang lain.
Selalu berhati-hati dalam bertindak atau berperilaku. Ikhlas dalam beribadah, semata-mata karena Allah Swt.
Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil.
Tidak mengharapkan pujian atau sanjungan dari orang lain.
Tidak menghitung-hitung apalagi mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah diberikan kepada orang lain.

Definisi Syukur
Syukur berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata shakara- yashkuru ukran yang artinya terima kasih. Dalam mus Besar Bahasa Indonesiasyukur diartikan sebagai: rasa terima masih, .0l
Definisi Syukur
Syukur berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata shakara- yashkurushukran yang artinya terima kasih. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiasyukur diartikan sebagai: rasa terima kasih kepada Allah dan untunglah (menyatakan lega, senang dan sebagainya).

Secara istilah syukur adalah ungkapan terima kasih kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan memanfaatkan semua anugerah-Nya dengan benar

Syukur Menurut Para Ulama'
⚫ Ibnu Ujaibah, syukur adalah kebahagiaan hati atas nikmat yang diperoleh, dibarengi dengan pengarahan seluruh anggota tubuh.

Sayyid, syukur adalah mempergunakan semua nikmat yang telah diberikan Allah.
• Ibnu Alan as-Sidiqi, syukur adalah pengakuan atas nikmat dan suka membantu. Abu Bakar al-Warag, syukur adalah memperhatikan pemberian dan menjaga kehormatan.

• Hamdun al-Qassar, syukur adalah memperhatikan dirinya meskipun tidak diundang. Abu Ali Daqaq, syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang telah diberikat Allah kepadanya dengan kedudukannya. Imam Ghazali, syukur adalah menggunakan nikmat Allah sesuai dengan maksud pemberian-Nya

Dalil Tentang Syukur Al Baqarah Ayat 172
يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كُنتُم إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik- baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.

Q.S Lukman Ayat 12 
11

غني حميد
ولقد اتينا لقمان الحكمة أن أشكر الله ومن يشكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن الله

Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Siapa yang kufur (tidak bersyukur), sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji."

Hadist Tentang Syukur
Hadist Ibnu Abbas
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: "Rasulullah SAW bersabda," Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu olehnya, yaitu kesehatan dan waktu luang."

Hadist Imam Al-Ghazali
Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang mengatakan subhanallah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah, maka baginya 20

Tingkatan Syukur
1. ulkhawwas
syukur adalah melihat kepada Sang Pemberi nikmat dan bukan melihat kepada nikmat
2. khawash
Mereka bersyukur kepada Allah atas nikmat dan musibah, dan mereka mengakui karunia dan nikmat-Nya yang mereka terima dalam semua keadaan.
Mereka hanya bersyukur kepada Allah atas nikmat saja.
3. awamm

Contoh Sikap dan Perilaku Syukur
1. Tidak iri dengan apa yang didapatkan oleh orang lain
2. Selalu belajar Ikhlas,
3. Tidak iri dengan apa yang didapatkan oleh orang lain
4. Menjaga kesehatan tubuh, tubuh yang sehat adalah salah satu berkat yang diberikan Tuhan kepada makhluk hidup
5. Membiasakan berpikiran positif 

AKHWAL DALAM TASAWUF : TAWADHU' DAN TAQWA

AKHWAL DALAM TASAWUF : TAWADHU' DAN TAQWA

Oleh : Qonita Salma Safra (213111036)

Pengertian Tawadhu'

Bahasa
kata tawadhu berasal dari kata wadh'a yang berarti merendahkan, serta juga berasal dari kata "ittadha'a" dengan arti merendahkan diri. Disamping itu, kata tawadhu juga diartikan dengan rendah terhadap sesuatu.

Istilah
tawadhu adalah menampakan kerendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan. Bahkan, ada juga yang mengartikan tawadhu sebagai tindakan berupa mengagungkan orang karena keutamaannya, menerima kebenaran dan seterusnya
Pengertian Tawadhu Secara Terminologi berarti rendah hati, lawan dari sombong atau takabur.

Dalil 
Gambaran tawadhu' disebutkan dalam Al-Qur'an surah 25, Al-Furqan ayat 63:
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
‎‫وعباد الرحمن الذين يمشون على الارض هونا واذا خاطَبَهُمُ الْجَهَلُونَ قَالُوا سَلَمًا‬‎
Artinya :
“Adapun hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang, mereka adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan ketika orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata hinaan), mereka mengucapkan, “salam”

Perintah untuk Memiliki Sikap Rendah Hati'
a. Tawadhu' di depan kedua orang tua yang ditekankan Surah 17, Al-Isra ayat 24 
b. Tawadhu' terhadap sesama muslim, yang ditekankan dalam surah 26, ash-Shu'ara ayat 215
c. Tawadhu' saat bersosialisasi. Sebagaimana disebutkan dalam pasal 31, Luqman ayat 19

Bentuk Dan Contoh Tawadhu'
Tanda orang yang tawadhu' adalah di saat seseorang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu' dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.
contoh tawa nabi :
a. Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat Nabiku tercinta selalu lakukan itu. (HR. Bukhari, Fathul Bari'-6247). 

Bentuk-bentuk perilaku tawadhu' seseorang antara lain: 
a. Menghormati orang yang lebih tua atau orang yang lebih pintar darinya
b. Sayang kepada vang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya
c. Hargai pendapat atau omongan orang lain
d. Bersedia mengalah demi kepentingan umum 
e. Santun dalam berbicara kepada siapapun
f. Tidak suka disanjung orang lain atau keberhasilan yang dicapai

Ciri-Ciri Orang Yang Menghina sebuah. 
a. Sopan dan santun dalam berbicara
b. Berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari
c. Tidak memiliki sikap sombong apalagi menang sendiri
d. Berani mengakui kelemahan dan kesalahan yang dimilikinya e. Tidak memaksakan kehendak pribadinya kepada orang lain.

Aspek Tawadhu'
Menurut Ilyas (2001) ada beberapa bentuk dari tawadhu di antarnya: 
a) Tidak menonjolkan diri dari orang yang level atau statusnya sama, kecuali apabila sikap tersebut menimbulkan kerugian bagi agama atau umat Islam 
b) Berdiri dari tempat duduknya dalam satu majelis untuk menyambut kedatangan orang yang lebih mulia dan lebih berilmu daripada dirinya dan mengantarkan ke pintu keluar ketika hendak meninggalkan majelis 
c) Bergaul dengan orang yang awam dengan ramah dan tidak memandang dirinya lebih dari mereka,

Dampak Positif membiasakan sikap merendah.
a. Membangkitkan simpati pihak lain sehingga suka bergaul dengannya.
b. Akan dihormati secara tulus oleh pihak lain sesuai nalurinya bahwa setiap manusia ingin dihormati dan menghormati.
c. Mempererat hubungan persaudaraan antara dirinya dan orang lain. 
d. Mengangkat derajat dirinya sendiri dalam pandangan Allah maupun sesama manusia,

Upaya Membiasakan Diri Bersikap Tawadhu'
a) Menyadari sepenuhnya bahwa setiap manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan yang berbeda
b) Berusaha mengendalikan diri agar tidak menunjukkan kelebihan itu dimiliki 
c) Melatih diri untuk dapat menghargai kemampuan orang lain,tidak meremehkannya

TAQWA
Pengertian Taqwal
Kata taqwa diambil dari akar kata yang berarti menghindari, menghindari, atau menjaga diri (Shihab, 1998, hal. 531). 
Secara harfiah taqwa berasal dari kata tuhan, yaqii, wiqaayah yang berarti memelihara menjaga dan lain sebagainya (Munawwir, 1984,hal.1577). 
Kalimat perintah ittaqullah secara harfiah berarti: hindarilah, jauhilah, atau hati-hati di jalan dirimu dari Allah. Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dilaksanakan oleh makhluk

Dalil Al-Qur'an Tentang Taqwa
Menurut al-Razy taqwa dalam Al-Qur'an berarti rasa khasyyah 20/2:2000 takut Seperti dalam firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 1
Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu Maksudnya: "Wahai manusia takutlah kepada Tuhan kamu Selain bermakna rasa takut, al Razy mengungkapkan lima makna takwa lainnya, yaitu:
1. Iman, firman Allah 'Dan ingatlah ketika Tuhanmu memanggil Musa: datanglah kepada para penindas, yaitu kaum Fir'aun, mengapa mereka tidak saleh (Q.S AlSyu'ara: 10-11).
Artinya, mengapa mereka tidak percaya
2. Tobat, firman Allah: “Jika penduduk negeri itu beriman dan takut, pasti
Kami menghujani mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mengingkari (ayat-ayat Kami), maka Kami akan menghukum mereka atas apa yang mereka kerjakan". (QS Al-Araf: 96). Yaitu percaya dan bertobat.
3. Ketaatan, sebagaimana Allah berfirman: "Dan kepunyaan-Nya segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, dan bagi-Nya (ketaatan) agama itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu takut selain Allah?" (QS. Al-Nahl: 52). Artinya, mengapa kamu menaati selain Allah?
4. Tinggalkan kemaksiatan, firman Tuhan: "Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya dan bertakwalah kepada Tuhan agar kamu beruntung". (Q.SAI Baqarah: 189). Arti "menjadi orang benar": tidak melanggar aturan-Nya. 
5. Ikhlas, sebagaimana firman Allah: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan perintah-perintah Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (QS. Al-Hajj: 32). Kesalehan hati berarti dari keikhlasan hati.

Contoh Sikap dan Perilaku Taqwa
Dalam surat Al-Baqarah: 177 Allah juga menjelaskan bagaimana contoh dan karakteristik dari orang-orang saleh.
Ayat di atas menginformasikan bahwa karaketistik al-Muttaqin (orang-orang yang Dalam surat Al-Baqarah: 177 Allah juga menjelaskan bagaimana contoh dan karakteristik dari orang yang bertaqwa. Ayat di atas menginformasikan bahwa karaketistik al-Muttaqin (orang-orang yang Massaleh) yaitu:
(1). Percaya kepada Allah, Hari Akhir, Malaikat, Al-Qur'an dan kitab-kitab lainnya dan para nabi.
(2). Menghabiskan sebagai miliknya.
(3). Membebaskan budakku
(4). Mendirikan shalat
(5). Mengeluarkan zakat.
(6). Tepati janjinya
(7), Kesabaran dalam kesulitan dan penderitaan dalam perang.

Ciri-Ciri Orang Bertakwa
1) Orang yang selalu menuju ampunan Allah
2) Suka menghabiskan sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadanya, baik Dalam surat Al-Baqarah: 177 Allah juga menjelaskan bagaimana contoh dan karakteristik dari orang yang bertaqwa. Ayat di atas menginformasikan bahwa karaketistik al-Muttaqin (orang-orang yang saleh) yaitu:
(1). Percaya kepada Allah, Hari Akhir, Malaikat, Al-Qur'an dan kitab-kitab lainnya dan para nabi.
(2). Menghabiskan sebagai miliknya.
(3). Membebaskan budakku
(4). Mendirikan shalat
(5). Mengeluarkan zakat.
(6). Tepati janjinya
(7), Kesabaran dalam kesulitan dan penderitaan dalam perang.

Ciri-Ciri Orang Bertakwa
1) Orang yang selalu menuju ampunan Allah
2) Suka menghabiskan sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadanya, baik diwaktu lapang atau pun diwaktu sempit
3) Bersedia menahan amarahnya
4) Memaafkan kesalahan orang lain, berbuat baik, dan jujur
5) Ketika melakukan dosa dan kekejian segera bertobat dan mengingat Allah.iwaktu lapang atau pun diwaktu sempit
3) Bersedia menahan amarahnya
4) Memaafkan kesalahan orang lain, berbuat baik, dan jujur
5) Ketika melakukan dosa dan kekejian segera bertobat dan mengingat Allah.

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO  Oleh : Qonita Salma Safira (21311103) A. MA'RIFAT 1. DEFINISI MA’RIFAT  Secara bahasa b...