Wednesday, November 30, 2022
MAQAMAT DALAM TASAWUF : KHAUF DAN RAJA'
MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAWAKAL DAN MAHABBAH
Monday, November 28, 2022
MAQAMAT DALAM TASAWUF : FAQIR DAN ZUHUD
MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAUBAT DAN SABAR
MAQAMAT DAN AKHWAL DALAM ILMU TASAWUF : TASAWUF AMALI DAN TASAWUF FALSAFI
PERKEMBANGAN ILMU AKHLAQ DAN TASAWUF PADA MASA KEMUNDURAN ISLAM, MODERN, DAN KONTEMPORER
Oleh : Qonita Salma Safira (213111036) PAI 3A
1. Akhlak pada masa kemunduran islam
Diambil dari latar belakang kitab Taysir Al-Khallaq Kitab Taysir Al- Khallaq karya Hafidz Hasan Al-Mas'udi kitab yang berisikan tentang bagaimana kita mempunyai akhlak yang baik sebagai pendidik maupun peserta didik. Dalam penyusunan kitab ini beliau mempunyai setting sosial, Penulis akan menggunakan dua pendekatan dalam mengkaji setting sosial kitab ini, pendekatan pertama, pendekatan history Daulah Abbasiyyah, karena beliau hidup pada masa itu, pendekatan kedua menggunakan pendekatan akhlak di Mesir pada tahun 330-340 H, karena kitab Taisiirul Kholtag Fillmil Akhlaq selesai pada tahun 339 H.
A. Pendekatan history Daulah Abbasiyyah
Pada pemerintahan Daulah Abbasiyyah terutama pada masa kemunduran banyak penguasa yang minim masalah akhlak, tidak cakap dalam hal pemerintahan, mereka hanya memikirkan dirinya sendiri dan senang berfoya-foya dari pada memikirkan rakyatnya, seperti pada kepemimpinan Abu Al-Fadhl Ja'far al-Muqtadir (295-322 H/905-932 M), la sangat lemah dan tidak cakap dalam hal pemerintahan dan ia pun digulingg kan dari jabatanya oleh Mu"nis al-Muzhaffar kemudian ia mengangkat saudara al-Muqtadir bernama al-Qahir sebagai khalifah (320-322 H/932-934 M). Hal itulah yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran Daulah Abbasiyyah dikarenakan kemewahan hidup dikalangan penguasa, hilangnya sifat amanah, perebutan kekuasaan antara keluarga yang ditambah dengan masuknya unsur bangsa lain sehingga terjadi persaingan dan kemerosotan akhlak.
Disamping itu banyak penguasa daulah Abbasiyyah tidak percaya dengan kekuatan sendiri, fanatik madzhab dan keagamaan, kemorsotan ekonomi dikarenakan kehidupan bermewah-mewahan dari golongan penguasa, lemahnya semangat patriotisme negara, hilangnya keadilan. Kejadian tersebut yang menjadikan setting sosial atau terciptanya kitab Taisibul Khollaq Fillmil Akhlaq yang diambil dari pendekatan history Daulah Abbasiyyah,Dada tahun beliau hidup.
B. Pendekatan akhlak di Mesir pada tahun 330-340 H
Akhlak di Mesir pada tahun 330-340 H mengalami kemunduran dikarenakan bangsa mesir telah meninggalkan kulturnya dan bergaya hidup Barat. Akibatnya terjadi dekadensi moral dan kehancuran tatanan sosial. Para penjajah melakukan kerusakan yang bersifat ilmiah, ekonomi, kesehatan, moral, dan seterusnya.
Banyak pelajar atau guru yang minim masalah akhlak dikarenakan banyaknya peradaban-peradaban orang barat yang mulai menghilangkan nilai-nilai agama. Pada masa itu juga banyak pemimpin yang kurang adil dan amanah, yang menjadikan kehancuran tatanan sosial. Maka dari itu Hafidz Hasan al-Mas'udi mempunyai pemikiran, beliau membuat sebuah kitab tentang akhlak, harapanya agar masyarakat mesir bisa mempunyai akhlak yang baik dan bisa mengembalikan nilai-nilai agama islam.
2. Tasawuf pada masa masa kemunduran islam
A. Tasawuf pada massa kemunduran islam (1250M-1500M)
Dalam sejarah, Islam pernah mengalami zaman keemasan di berbagai aspek, yaitu pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Kemudian mengalami zaman kemunduran setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah. Masa kemunduran islam terjadi pada tahun 1250M-1500M). Atau sekitar abad ke-6 hingga ke-8 Hijriah
1. Tasawuf Pada Abad Keenam dan Ketujuh Hijriyah
a. Ciri-Ciri Perkembangan Tasawuf Pada Abad Keenam dan Ketujuh Hijriyah Pada abad VI Hijriyah, munculah tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat, kompromi dalam pemakaian term-term filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf. Dr. Ibrahim Hasan Ibrahim dalam bukunya 'Tarikhul Islam' menamainya sinkretisme filsafat dengan tasawuf. Oleh karena itu, tasawuf yang berbau filsafat tidak sepenuhnya bisa dikatakan tasawuf, dan tidak bisa dikatakan sebagai filsafat. Dalam hal ini, perjalanan tasawuf masih sama seperti pada abad V Hijriyah. Ditambah akibat dari besarnya pengaruh Tasawuf Al-Ghazali yang berhasil mengkompromikan ilmu kebatinan dengan filsafat. Teorinya mengenai hakikat bukan semata-mata dengan akal, namun juga dengan perasaan.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyimpulkan, bahwa tasawuf falsafi mempunyai empat obyek utama dan menurut Abu Al-Wafa bisa dijadikan karakter sufi falsafi, yaitu:
1). Latihan rohaniah (riyadhah) dan perjuangan batin (mujahadah) dengan rasa, intuisi, serta instropeksi.
2). Illuminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib.
3). Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
4). Munculnya ungkapan-ungkapan baru atau istilah-istilah yang pengertiannya masih samar-samar(syatahiyat), seperti kasyaf (tirai penyingkap), tajalli (Tuhan- telah jelas dan nyata), wihdatul muthlaqah (kesatuan yang mutlak), hulul (penjelmaan Tuhan ke dalam hamba), dan ittihad (persatuan antara hamba dengan tuhan).
b. Tokoh-tokoh Sufi Pada Abad Keenam dan Ketujuh Hijriyah
Ada beberapa tokoh sufi pada masa ini, antara lain Syihabuddin Abdul Futuh Al-Syuhrawardi, Muhyiddin Ibnu Arabi, Umar Ibnu Faridh, dan Abd Al-Haqqi ibn Sabi’in. Dari keempat tokoh sufi di atas, yang paling terkenal ialah
Syihabuddin Abdul Futuh Al-Syuhrawardi dan Muhyiddin Ibnu Arabi. Beberapa tokoh sufi terkenal ini akan diulas secara garis besar berikut:
1) Syihabuddin Abdul Futuh Al-Syuhrawardi
Beliau dikenal dengan nama lain Asy-Syaikh Al-Maqtul (Syaikh yang mati terbunuh), dan memiliki gelar ‘Al-Mu’ayyad bil Malakut’ (mendapat sokongan dari alam malakut). Mula-mula ia belajar filsafat dan ushul fiqih kepada Syaikh Imam Majdudin Al-Jaili di Aleppo, dan banyak bergaul dan bertukar pikiran dengan para ulama disana. Di kota ini ia mulai terkenal dan akhirnya membuat iri para fuqaha’ yang lain, sehingga mereka mengecam dan melaporkannya kepada penguasa kota Halb, Sultan al-Malik al-Dzahir al-Ghani putra Shalah al-Din al-Ayyubi. Sang pangeran kemudian melangsungkan suatu sidang yang dihadiri para fuqoha’ dan teolog. Namun, Suhrawardi berhasil mengemukakan argumentasi-argumentasi yang kuat, sehingga membuatnya menjadi dekat dengan al-Dzahir. Dan akhirnya ia diberi sambutan dengan sangat baik. Orang-orang yang dengki terhadapnya merasa kecewa, mereka mengirimsurat kepada Shalah al-Din al-Ayyubi. Mereka memperingatkan Shalah al Din al-Ayyubi tentang bahaya yang akan menyesesatkan aqidah al-Dzahir karena terus bersahabat dengan Suhrawardi.5 Sehingga pada akhirnya ia dituduh zindiq dan ilhad (tidak bertuhan/keluar dari agama). Kemudian para ulama fiqih meminta kepada Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (Saladin) yang terkenal untuk menangkapnya dan dijatuhi hukuman mati. Setelah mendengar desakan dari para ulama fiqih tersebut, maka Sultan mengutus anaknya, Malik Az-Zahir, untuk menanngkapnya dan memasukkannya ke dalam penjara. Setelah berada di penjara, Al- Syuhrawardi tidak mau makan dan minum sampai meninggal pada tahun 587 H/1191 M. Ada juga yang menyebutkan bahwa al-Syuhrawardi dihukum gantung pada tahun 587 oleh Malik az-Zahir.
Terkait penuntut hikmah, Al-Syuhrawardi membaginya menjadi tiga macam:
A). Ahli Filsuf, yang hanya mempergunakan akal semata.
B). Ahli Tasawuf, yang ingin mencari Tuhan.
C). Ahli filsuf ketuhanan, yakni yang menggunakan akal dan memenungkan rasa ntuk mencapai tujuan, yaitu Allah. Inilah yang paling tinggi nilainya.
2). Muhyiddin Ibnu Arabi
Nama lengkapnya Abu Bakar Muhyiddin Muhammad bin Arabi At-Thai Al- Haitami Al-Andalusi. Lahir di Mercia, Spanyol pada tahun 598 H/1102 M). Pada mulanya, Ibnu Arabi menuntut ilmu fiqih dalam mazhab Zahiri di Avilla, kemudian dilanjut dengan mencari ilmu kepada guru-guru yang sudah banyak terpengaruh oleh filsafat Neo-Platonisme yang sedang berkembang di Andalusia pada saat itu.
la memiliki konsep filsafat tasawuf yang hampir sama dengan Al-Syuhrawardi yaitu gabungan antara perasaan jiwa dengan renungan akal. Karyanya juga banyak, salah satunya ialah 'Al-Futuhat Al-Makiyah', yang berisi pendirian dan buah renungan dari Ibnu Arabi. Salah satu penyebab kematiannya ada perkataannya tentang al-hallaj.
Banyak para ulama besar yang menentang paham tasawuf milik Ibnu Arabi ini melalui fatwa-fatwanya, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Khaldun, Ibnu Hajar Al-Aqshalani, Ibrahim Al-Biqa'i.
2. Tasawuf Pada Abad Kedelapan Hijriyah (Masa Menurunnya Tasawuf)
Pada masa ini terlihat tanda-tanda keruntuhan tasawuf kian jelas, yang disebabkan seringnya terjadi penyelewengan dan pemikiran ganjil dalam diri kaum sufi dan sekaligus mengancam kehancuran reputasi baik ilmu tasawuf. Tasawuf pada waktu itu telah termasuki bid’ah, khurafat, mengabaikan syari’at, hukum-hukum moral, dan penghinaan terhadap ilmu pengetahuan, membentengkan diri dari dukungan awam untuk menghindarkan diri dari rasionalitas, azimat dan ramalan serta kekuatan gaib ditonjolkan. Ada masa ini, muncullah revivalis Islam, Syaikh Ibnu Taimiyah (w. 727 H/1329 M), yang dengan lantang menyerang penyelewengan-penyelewengan para sufi tersebut. Dia dikenal kritis, peka terhadap lingkungan sosialnya, polemis dan berusaha meluruskan ajaran Islam yang telah diselewengkan para sufi tersebut.
Penyebab mundurnya tasawuf di dunia Islam pada abad ini antara lain:
a. Pada masa itu adalah masa suram-suramnya cahaya perasaan dan pemikiran
karena ada rasa keputusasaan dalam dunia Islam. Hal ini dikarenakan Baghdad sebagai jantungnya ilmu pengetahuan telah dihancurkan oleh bangsa Mongol. Ditambah lagi kekuasaan Islam berpindah ke Asia Kecil (Turki) oleh Turki Utsmani. Sejak itulah pelita timur lambat laun redup.
b. Bangsa Barat mengalami zaman Renaissance yang mendorong kemajuan bangsa
Barat dalam mengambil alih peradaban dunia.
c. Umat Islam hanya bertaklid dalam segala bidang ilmu, yaitu menurut saja kepada
apa yang ditulis dan dijelaskan oleh orang-orang terdahulu. Tidak hanya tasawuf,kondisi taklid ini juga terjadi pada beberapa bidang ilmu, seperti ilmu fiqih, Al- Qur’an, hadits, dan teologi (kalam).
d. Lebih lanjut dengan semakin surutnya perkembangan tasawuf pada abad VIII
Hijriyah ini, maka tidak ada lagi pemikiran baru dalam dunia tasawuf. Meski ada beberapa ahli sastrawan sufi seperti Al-Kassyani atau Al-Kisani (w. 739 H/1321 M) yang telah banyak menulis buku-buku tentang tasawuf, namun dia tidak mengeluarkan pendapat yang baru. Ada pula seorang sufi besar pada abad ini yang bernama Abdul Karim Al-Jaili, seorang pengarang kitab ‘Insan Kamil’. Isi bukunya sempat membuat gempar para ulama fiqih, karena isinya memperindah konsep-konsep pikiran Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain.
3. Tasawuf pada masa modern
1. Tasawuf Modern
Tasawuf modern adalah model tasawuf yang diperkenalkan oleh Hamka. Hamka dalam bukunya yang berjudul Tasawuf Modern. Dalam bukunya itu, Hamka mengatakan bahwa Zuhud (membenci kemegahan dunia) bukan merupakan ajaran Islam. Semangat Islam merupakan semangat berjuang, berkorban dan bekerja. Islam selalu menyeru umatnya mencari rezeki dan mengambil hal-hal yang bisa mengantar manusia mencapai kemuliaan. Ketinggian dan keagungan dalam perjuangan hidup. Dengan pengaruh zuhud menjadikan kaum muslimin membenci dunia dan tidak menggunakan kesempatan sebagai penganut agama lain. Akibatnya, mereka lemah dan tidak bisa bersaing dalam kehidupan ini. Dia mau berkorban tetapi tidak ada yang bisa dikorbankan karena harta telah dibenci. Dia mau berzakat, tetapi tidak ada yang bisa dizakati karena mengutuk orang yang mencari harta.
2. Relevansi Ajaran Tasawuf Pada Masa Modern
Perkembangan kehidupan manusia begitu cepat dan canggih. Hal itu seiring dengan perkembangan sains dan teknologi yang begitu cepat. Kehidupan modern saat ini, telah berkembang menjadi sedemikian materialistik dan individualistik. Materi menjadi tolok ukur dalam segala hal, kesuksesan, kebahagiaan semuanya ditentukan oleh materi. Orang berlomba-lomba mendapatkan materi sebanyak-banyaknya, karena dengannya manusia merasa dirinya sukses. Akibatnya manusia sering bertindak tanpa kendali demi materi. Semakin terlihat kecenderungan manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Nilai-nilai kemanusiaan semakin surut, toleransi sosial dan solidaritas sesame serta ukhuwah (di kalangan umat Islam) tampak hilang dan memudar, manusia cenderung semakin individualis. Di tengah suasana itu, manusia merasakan kerinduan akan nilainilai ketuhanan, nilai-nilai Ilahiah. Nilai-nilai berisikan keluhuran inilah yang dapat menuntun manusia kembali kepada nilai-nilai kebaikan yang pada dasarnya telah menjadi fitrah atau sifat dasar manusia itu sendiri.
3. Pengaruh Tasawuf dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Perkembangan sejarah Islam membuktikan bahwa peranan ajaran Islam demikian signifikan dalam membentuk etika kehidupan masyarakat. Demikian pula kontribusi Islam dalam etika berbangsa dan bernegara, sebagaimana yang terdapat dalam negara yang dibangun oleh Muhammad SAW. yang dikenal dengan negara Madinah. Etika berbangsa dan bernegara, hendaknya mengacu pada prinsip-prinsip yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW. pada kehidupan masyarakat di Madinah. Adanya perilaku egalitarian sesama anak bangsa akan mewujudkan kerjasama yang baik, menghilangkan keangkuhan dan arogansi, sebab manusia pada dasarnya makhluk yang sederajat, dalam Islam semua manusia di hadapan Tuhan sama, kecuali yang memiliki kualitas ketakwaan yang mantap. Selanjutnya, terwujudnya keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan meahirkan ketenangan jiwa dan menggerakkan dinamika kerja. Pada gilirannya ini akan membawa kepada kemaslahatan, kemakmuran dan kesejahteraan. Adil dalam tinjauan bernegara, adalah terciptanya tatanan masyarakat yang harmonis, sejahtera, bahagia lahir dan batin. Sumber-sumber pendapatan negara dikelola sesuai dengan kemaslahatan negara dan masyarakatnya. Ini merupakan perwujudan dari nilai keadilan itu sendiri. Semua undang-undang ditegakkan tanpa kecuali. Tidak ada diskriminasi dalam peraturan negara atau pemerintahan dan pelaksanaannya. Proses penegakkan hukum harus benarbenar memenuhi nilai keadilan, baik pada tingkat normatif peraturan maupun dalam pelaksanaan sampai ke pengadilan.
4. Tasawuf pada masa kontemporer
1. Tasawuf Kontemporer
Tasawuf mempunyai potensi besar karena mampu menawarkan pembahasan spiritual, mengajak manusia mengenal dirinya sendiri, dan akhirnya mengenal Tuhannya. Dan ini merupakan pegangan hidup manusia yang paling ampuh, sehingga tidak terombang-ambingkan oleh badai kehidupan ini. Ia menjadi penuntun hidup bermoral, sehingga dapat menunjukkan eksistensi manusia sebagai makhluk termulia di muka bumi ini. Kembali kepada sejarah bahwa lahirnya tasawuf sebagai fenomena ajaran Islam –diawali (secara internal) dari ketidakpuasan terhadap praktek Islam yang cendrung formalisme dan legalisme, dan juga sebagai reaksi terhadap ketimpangan politik,moral, dan ekonomi di kalangan umat Silam, khususnya di kalangan penguasa. Pada saat dmeikian tasawuf tampil memberikan solusi. Solusi tasawuf terhadap formalisme dan legalisme dengan spiritualitasi ritual,pembenahan dan transformasi tindakan fisik ke dalam tindakan batin. Sedangkan reaksi terhadap sikap politik, penguasa dan ekonomi sebagai akibat diraihnya kemakmuran, yang menimbulkan sikap kefoya-foyaan materiil, adalah dengan penampakan sikap isolasi diri dari hiruk pikuknya kehidupan yang berorientasi dunawi, dan menanamkan sikap sedia miskin.
Tasawuf pada masa sekarang mempunyai tanggung jawab sosial lebih berat dari pada masa lalu. Untuk memberi jawaban bagaimana tanggung jawab sosial tasawuf pada zaman modern ini, maka terlebih dahulu akan diketengahkan bagaimana ciri masyarakat modern itu. Masyarakat modern ditandai oleh lima ciri pokok, yakni:
a. Berkembangnya massa culture.
b. Tumbuhnya sikap-sikap yang lebih mengakui kebebasan bertindak, manusia bergerak menuju perubahan masa depan.
c. Tumbuhnya kecenderungan berpikir rasional.
d. Tumbuhnya sikap hidup yang materialistik.
e. Meningkatnya laju urbanisasi
MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO
MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO Oleh : Qonita Salma Safira (21311103) A. MA'RIFAT 1. DEFINISI MA’RIFAT Secara bahasa b...
-
MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO Oleh : Qonita Salma Safira (21311103) A. MA'RIFAT 1. DEFINISI MA’RIFAT Secara bahasa b...
-
MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAUBAT DAN SABAR Oleh : Qonita Salma Safira (213111036) A. MAQAMAT DALAM SABAR Maqam adalah tingkatan seseorang hamb...
-
MAQAMAT DALAM TASAWUF : FAQIR DAN ZUHUD Oleh : Qonita Salma Safira (213111036) 1. DEFINISI FAQIR Secara harfiah fakir biasanya diartikan seb...