Wednesday, November 30, 2022

MAQAMAT DALAM TASAWUF : KHAUF DAN RAJA'

MAQAMAT DALAM TASAWUF : KHAUF DAN RAJA'

Oleh : Qonita Salma Safira_213111036

Definisi Khauf
Secara bahasa Khauf berasal dari kata khofa yakhofu khoufan yang artinya takut. Yang dimaksud disini adalah sikap jiwa yang menunggu sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah, atau kegalauan hati yang membayangkan hilangnya sesuatu yang disukainya. Adapun secara terminologi, sebagaimana diuraikan dalam kamus tasawuf, khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya, takut atau khawatir kalau-kalau Allah tidak senang padanya.

Definisi Raja
Raja' secara etimologi berasal dari bahasa arab yang berarti berharap atau optimism. Secara terminology Raja' diartikan sebagai suatu sikap mental optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat ilahi yang disediakan bagi hamba- hambaNya yang Shaleh

(Dalil-dald khauf & Raja)
• Dalil Khauf

Q.S. Al-Imron: 175. إِنَّمَا ذَلِكُمْ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ، فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ 

Artinya: "Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut- nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman."

• Dalil Raja'
QS.Al-Baqarah:218.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

أوليك يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيم
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang- orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Ciri-ciri Khauf dan Raja
Ciri-ciri Khauf

1. Mampu menjaga tutur kata dan perbuatannya dri prilaku maksiat yang di larng oleh allah 
2. Semakin hari bertmbah rajin ibadahnya dan amal kebaikannya
3. Tampak berani menghadapi setiap rintangan,sepanjang untuk membela kebenran. 
4. Jika di sebutkan nama allah kepadanya hatinya bergetar dan jiwanya khusuk mengagumi keagungan allah.
5.Senantiasa menjauhi dan menghindari perbuatan yang di larang oleh allah SWT.

Ciri-ciri Raja'
1. Memiliki sifat jiwa optimis dan penuh semangat dalam menjuhi kehidupan. 
2. Tekun dan ulet dalam mengerjakn suatu pekerjaan meskipun sering di hadapkan pada kegagalan dan kerugian. 
3. Menghargai waktu dan kesempatan untuk senantiasa di isi dan di manfatkan dengan pekerjan yang baik dan maslahat. 
4. Tidak lekas prustasi dan patah semangat dalam menjalani suatu tugas belajar atau bekerja 
5. Meyakini bahwa allah SWT adalah maha pengasih dan maha penyayang bagi semua hambanya.

Macam-macam Raja'
Dua bagian termasuk termasuk raja yang terpuji pelakunya sedangkan satu lainnya adalahraja yang tercela. Yaitu:
1.Seseorang mengharap disertai dengan amalan taat kepada Allah di atas cahaya Allah, ia senantiasa mengharap pahala- Nya.
2.Seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat darinya, dan ia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya.
3. Adapun yang menjadikan pelakunya tercela ialah seseorang yang terus-menerus dalam kesalahan-kesalahannya lalu mengharap rahmat Allah tanpa dibarengi amalan.

Cara Mendapatkan Khauf dan Raja (Al-Ghazali)

1. Jalan Untuk Memperoleh Khauf
Khauf berhasil dengan dua jalan yang berlainan, yaitu khauf karena ikut-ikutan dan khauf karena ma'rifah.Maka orang yang mengetahui sebab ketakutan dengan ma'rifah yang timbul dari cahaya hidayah, maka itu dari kekhususan orang-orang 'ârifin yang memperhatikan rahasia qadar.

2. Jalan Untuk Memperoleh Raja' Raja' dapat menguat dengan dua perkara:
a. I'tibar
I'tibar dilakukan dengan Dengan jalan bermuhasabah, memperhatikan nikmat-nikmat Allah yang halus yang di karuniakan kepada hamba-Nya dan memperhatikan keajaiban- keajaiban hikmahNya yang dipeliharaNya mengenai penciptaan manusia.
b. Menyelidiki ayat-ayat, hadits-hadits, dan asar- asar Ayat yang dapat menguatkan raja' diantaranya dalam Al-Qur'a Surah Al-Zumar: 53,

Hubungan Khauf dan Raja'
Jika seseorang hamba sedang menghadap kepada Tuhannya dan berjalan untuk mencapai kedekatan di sisi-Nya, maka sebaiknya dia menggabungkan antara khauf dan raja'. Jangan sampai khaufnya mengalahkan raja'nya, sehingga dia. berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah. Dan jangan pula raja'nya mengalahkan khaufnya, sehingga di terjerumus ke jurang maksiat dan kejahatan. Dia harus terbang dengan kedua sayap itu (khauf dan raja') di udara yang jernih, sehingga dia dapat mencapai kedekatan di hadirat Allah. Relasi antara khauf dan raja' digambarkan dengan takut kepada neraka-Nya dan mengharap surga-Nya, takut jauh dari-Nya dan mengaharap untuk berada di dekat-Nya, takut ditinggalkan-Nya dan mengharap ridha-Nya, takut putus hubungan dengan-Nya dan berharap agar dapat terus berinteraksi dengan-Nya.


MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAWAKAL DAN MAHABBAH

MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAWAKAL DAN MAHABBAH

Oleh : Qonita Salma Safira (213111036)

Pengertian Tawakal

Tawakal dalam bahasa Arab adalah turunan dari kata wakil Wakil adalah dzat orang yang dijadikan pengganti untuk mengurus atau menyelesaikan urusan yang mewakilkannya. Sehingga tawakal bermakna menjadikan seseorang sebagai wakimya, atau menyemhkan urusan kepada wakinya Tawakal kepada Allah adalah menjadikan allah sebagai wakil dalam mengurusi segala urusan dan mengandalkan Allah dalam menyelesaikan segala urusan.
Di antaranya dalam firman Allah

رب المشرق والمغرب لا إله إلا تو فَاتَّخِذَهُ وكيلا

Dialah Pemilik musyrik dan maghrib, tiada illah (yang berhak disembahnya) melainkan Dia, maka ambillah, dia sebagai pelindung. (QS. Al Muzzamil : 9)

maka amb Dia sebagai pelindung (05 al-Muzza Hakikat tawakal adalah penyerahan penyelesaian dan keberhasilan suatu urusan kepada wakil Kalau tawakal kepada Allah, berarti menyerahkan urusan kepada Alla setelah melengkapi syarat-syaratnya.

Pengertian tawakal menurut para ahli

Menurut Imam ar-Razi Tawakal adalah hendaknya seseorang dalam berusaha memperhatikan sebabsebab lahiriyah yang bisa mengantarkan ke arah keberhasilan, tetapi janganlah percaya
sepenuhnya hati terhadao sebab-sebab lahiriyah tersebut .

Menurut Imam Al-Ghazall Tawakal sebagai sebuah ungkapan dan penyandaran sebuah hati terhadap seseorang wall. Misalnya seorang yang didakwa secara salah telah melakukan suatu dosa, lalu dia muttaqil 'alaih, membuat perwakilan atas perdebatan tersebut kepada seorang yang dapat menyikapi kekaburan tersebut.

Menurut M. Quraish Shihab Mengatakan Tawakal berakar kata sama dengan wakil, bukan berarti penyerahan secara mutlak kepada Allah SWT kan tetapi penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha manusia.

Hadits dan Dalil Tawakal

لو أنكم كنتم توكلون على الله حق توكله لززفتم كما يرزق الطير تغدو

خفاضا وتروح بطانا

Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah sungguh Allah akan membert kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang (HR. Tirmidzi basan shahh)

وعلى الله فتوكاوا إن كنتم مؤمنين

Dan hanya kepada Allah-lah kalian betawaka, jika kalian benar-benar orang yang beriman" (QS. Al-Maidah: 23)

sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang (HR. Tirmidzi, hasan shahihi).

وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين

"Dan hanya kepada Allah-lah kalian betawakal, jika kalian benar-benar

orang yang beriman" (QS. Al-Maidah: 23)

Manfaat Tawakal
a. Dijamin Kemudahan dunia dan akhirat
b. Mudah beradaptasi dengan masalah apapun
c. Tawakal dapat mempertebal dan tidak mudah putus asa 
d. Tawakal dapat membuat seseorang menjadi lebih mandiri
e. Allah akan mencukupkan rezeki
f. Diberikan kenikmatan yang tiada hentinya

Tingkatan-Tingkatan Tawakal

a. Mengenal Rabb berkut stay/kunya kekayaanNya kemandirianNya berakhimya segala perkara kepada matan kemunculannya karena masyah hendak dan kodratnya 
b.  Menetapkan sebab dance akibat
c. Mengokohkan hati pada pijakan tauhid tawakal (mengesukar Atuh dalam bertawakal).
d. Bersandarnya hati dan ketergantungannya serta ketentramannya kepada Allah
e. Baik sangka kepada Allah Swt.
f. Menyerahkan  ham kapadanya membawa seluruh pengaduan kepadanya, dan tidak menentangnya
g. Melimpahkan wewenang (perkara) kepada Allah (tafwidh).

Contoh Perilaku Tawakal

a. Sebelum dan setelah kita ujian, diiringi dengan berdoa dan menyerahkan semua kepada Allah SWT.
b. Ketika kita meninggalkan rumah, kita bertawakal kepada Allah SWT atas rumah yang kita tinggalkan.
c. Ketika kita mendapatkan suatu masalah, maka berserah diri kepada Allah SWT dan berdoa agar segera mendapatkan solusi dari masalah yang kita alami.
d. Ketika kita berdoa ke rumah sakit, kita berserah diri dan memohon kepada Allah agar diberi kesembuhan.
e. Ketika kita mencari risky, kita berserah diri kepada Allah yang Maha Pemberi Risky
f. Ketika belum menemukan jodoh, kita berserah diri Kepada Allah SWT sembari berdoa agar segera didekatkan dengan jodoh kita.

MAHABBAH

Pengertian Mahabbah

Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam atau kecintaan atau cinta yang mendalam. Dalam Mujam al-Falsafi Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari albaghd, yakni cinta lawan dari benci, Al-Mahabbah dapat pula berarti al wadud yakni sangat kasih atau penyayang. Jadi mahabbah artinya cinta. Cinta kepada Allah memang suatu ajaran yang amat ditekankan dalam Islam. Pengertian mahabbah dari segi tasawuf akan dikemukakan al-Qusyairi sebagai berikut: 
al-mahabbah adalah hal (keadaan) jiwa yang mulia yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan) Allah SWT, oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya dan yang seorang hamba mencintai Allah SWT

Pengertian lain yang diberikan kepada mahabbah yaitu, antara lain
a Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya 
b. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi 
c Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari yang dikasihi, yaitu Tuhan tabir yang memisahkan diri seseorang dan Tuhan.

Pandangan Al-Qur'an dan Hadits mengenai Mahabbah

قل إن كنتم تحبون اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ الله

Jika kamu cinta kepada Allah maka turutlah aku dan Allah akan mencintai kamu."
(05. Ali Imron 3:30)

ولا يزال عبدي يتقرب الي با انوافل حتى أحبه ومن أحببته كنت له سمعا وبصرا ويدا

"Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga Aku cinta padanya Orang yang Kucintai menjadi telinga mata dan tangan-Ku".

Kedua ayat dan satu hadist di atas memberikan petunjuk bahwa antara manusia dan Tuhan dapat saling mencintai Ayat dan hadist tersebut juga menjelaskan bahwa pada saat terjadi mahabbah diri yang dicintai telah menyatu dengan yang mencintai yang digambarkan dalam telinga mata dan ngan Tuhan. Dan untuk mencintai keadaan tersebut dilakukan dengan amal yang dilakukan dengan sungguh-sungguh

Macam-Macam Mahabbah

a. Cinta Kepada Allah (Mahabbanul Ibadah)
Yaitu rasa cinta yang disertai dengan sikap merendahkan diri dan mengagungkan sesuatu yang dicinta dengan pengagungan yang membawa kepada ketundukan, menjalankan seluruh perintahnya, dan menjauhi selundh larangannya Barang siapa memberkan mahabbah mikepada Atah serata dia benar-benar orang yang berman Indah mahabbah yang merupakan rukun iman dan tauhid. 
b. Cinta Kepada Allah (Mahabbah Fillah)
Yaitu rasa cinta terhadap sesuatu yang muncul pada diri seseorang disebabkan kecintaannya kepada Allah atau kama sesuatu dicintai oleh Allah. Jenis mahabbah yang kedua mengikuti mahabbah yang pertama. Artinya mahabbah ini bernilai ibadah yang sangat agung bukan karena semata mata kecintaan seseorang kepada sesuatu tersebut, melainkan kama kecintaan tersebut merupakan tuntutan kecintaan kepada Allah.
c. Cinta Kepada  Manusia  (Mahabbah ath-Thabiyyati)
Yaitu kecintaan serang kepada semua, yang merupakan sifat bawaan manusia. Pada dasarnya ini semua merupakan  kecintaan yang mubah. Namun apabila kecintaan nimendong kepada Adah dan ketaatan kepadanya, aga sabagalbadah dan mask dam kataon mahabbah filialnya apabila kecintaan ini mengalahkan kecintaan kimada Allah menghalangidan taran bepada-Nya dan menjadi sarana melakukan hal-hal yang dibenarkan oleh Allah.
Contoh Perilaku Mahabbah
a. Cinta kepada Allah
1. Mencintai Allah melebihi kecintaan kepada segala-galanya, inilah tauhid.
2. Mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah, inilah keyakinan.
3. Mencintai selain Allah melebihi kecintaan kepada Allah. Ini lebih berat daripada sebelumnya.
4. Mencintai kepada Allah dalam kondisi tidak ada dalam hatinya kecintaan kepada Allah sedikit pun. Ini petaka yang paling Besar. (Al Qoulul Mufid ala kitabit tauhid)
b. Cinta kepada manusia
1. Rasa kasih sayang,seperti kucintaan orang tua kepada anak anaknya, belas kasih kepada orang yang lemah, rasa iba terhadap orang sakit, anak yatim, orang miskin, dan lainnya.
2. Rasa Hormat, seperti penghormatan anak kepada kedua orang tuannya, santri kepada gurunya, anak muda kepada yang lebih tua.
3. Selera, seperti kesukaan seseorang pada makanan, minuman, pernikahan, rumah, kendaraan, harta benda, pekerjaan, dan lainnya

Monday, November 28, 2022

MAQAMAT DALAM TASAWUF : FAQIR DAN ZUHUD

MAQAMAT DALAM TASAWUF : FAQIR DAN ZUHUD

Oleh : Qonita Salma Safira (213111036)

1. DEFINISI FAQIR

Secara harfiah fakir biasanya diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi fakir adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Al-faqr (kefakiran) menurut para sufi merupakan tidak memaksakan diri untuk mendapatkan sesuatu, tidak menuntut lebih dari apa yang telah dimiliki atau melebihi dari kebutuhan primer; bisa juga diartikan tidak punya apa-apa serta tidak dikuasai apa-apa selain Allah Swt.

Faqr berarti tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban kewajiban kepada-Nya. Sifat ini juga bermakna bahwa kita tidak meminta sungguhpun hal itu tidak ada pada diri kita. Namun demikian kita menerima jika diberi, tidak meminta tetapi tidak menolak. Lebih dari itu, sikap ini adalah merasa cukup dengan apa yang telah ada.

Dalil Al-Quran

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أَحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضَ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّتِ تَعْرِفُهُمْ بسيمهم لا يستلون الناس الحافا وما تلقوا مِنْ خَيْرٍ فَإن الله به عليم:

Artinya:

"(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia yang tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui."

Dalil Hadist

لكُلِّ شَيْءٍ مِفْتَاحٌ وَمِفْتَاحُ الجَنَّةِ حُبُّ المساكين والفُقَرَاءِ لِصَبْرِهِمْ هُمْ جُلسَاءُ الله ) : وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya:

Nabi saw bersabda, "Setiap sesuatu itu mempunyai kunci. Kunci surga adalah cinta kepada orang-orang miskin dan fakir karena kesabaran mereka dan merekalah orang-orang yang adil menurut Allah ta'ala di hari Kiamat." Hadis ini diriwayatkan oleh imam Abu Bakar bin La'al dari Umar bin Khattab ra.

Contoh Sikap dan Perilaku Faqir
Segunung nikmat akhirat. Maka dunia disikapi sebagai suatu peringatan (fitrah) dari Tuhan, karena itu perlu uluran tangan-Nya untuk selamat dari cengkramannya. Adapun kesederhanaan adalah pola hidup yang mengakrabkan dan lebih mendekatkan jarak antara si miskin dengan si kaya. Hal ini sebagaimana dilakukan Rasulullah ketika menghadapi orang miskin, beliau memberikan semangat hidup bahwa kelompok miskin akan masuk surge 50 tahun mendahului kelompok kaya.

2. DEFINISI ZUHUD

Kata Zuhud berasal dari bahasa Arab, zahada, yazhudu, zuhdan yang artinya menjauhkan diri, tidak menjadi berkeinginan, dan tidak tertarik. al-Zuhd secara etimologis, berarti tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zuhada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah.

Secara istilah zuhud adalah:sebagai suatu sikap melepaskan diri dari rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dan segala kenikmatannya, dengan lebih mengutamakan kehidupan akhirat. Inti dan tujuan zuhud adalah tidak menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan akhir. Jangan sampai kenikmatan duniawi menyebabkan susutnya waktu dan perhatian kepada tujuan yang sebenarnya, yaitu kebahagiaan yang abadi di hadhiraf Ilahi

Dalil Al-Quran QS. Al-Qasas:77

وَابْتَغِ فِيْمَا أنك الله الدار الآخرة ولا تلس نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأحْسِنُ كَمَا أحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْعَ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya:

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." Dalam potongan ayat ini anjuran agar kita berperilaku zuhud dalam keadaan kita memiliki harta, karena itu zuhud tidak lantas dia fakir dan miskin.

Dalil Al-Quran QS. Al-Hadid:23

لكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا أَتَنكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلِّ مُخْتَالٍ فَخُورٌ 23

Artinya:

"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri." Seorang ahli zuhud adalah seseorang yang tidak mudah untuk berduka cita terhadap kenikmatan yang luput darinya, dan tidak merasa sombong dengan kenikmata yang Allah SWT. karuniakan kepadanya.

Dalil Hadist

عن الزهري رض قال سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الزهد في الدنيا فقال: ٦ هو الا يغلب الحلال شكره، ولا الحرام صبره

Artinya:

Nabi saw bersabda, "Setiap sesuatu itu mempunyai kunci. Kunci surga adalah cinta kepada orang-orang miskin dan fakir karena kesabaran mereka dan merekalah orang-orang yang adil menurut A hari Kiamat." Hadis ini diriwayatkan oleh imam Abu Bakar bin La'al dari Umar bin Khattab

Contoh Sikap dan Perilaku Zuhud

Ibn Qudamah menerangkan bahwa setiap orang selayaknya menerapkan zuhud dalam tujuh hal, yaitu:
1. Makanan yang dikonsumsi hanya sekedar untuk menghilangkan sikap lapar dan menguatkan fisik saja, bukan untuk kenikmatan semata.
2. Pakaian yang dikenakan semata untuk melindungi tubuh dari panas dan dingin serta menutup aurat.

Contoh Sikap dan Perilaku Zuhud
3. Tempat tinggal, dalam hal ini terdapat beberapa tingkatan:
-Tingkat tertinggi, merasa puas dengan berada di sudut masjid.
-Tingkat menengah, tempat seperti gubuk yang terbniuat dari pelepah kurma
atau dari bamboo.
-Tinggat terendah, tempat atau kamar yang dibangun khusus.
4. Perangkat rumah yang sederhana.
5. Pernikahan harus sesuai dengan aturan agama baik tujuannya maupun banyaknya.
6. Harta hanya sekedar untuk keperluan sehari-hari.
7. Kenormatan atau derajat harus dimiliki setiap orang.

Tiga hal yang menjadi syart utama dalam mewujudkan sikap zuhud dan faqir
1) Pendek angan (qasar al-amal)
2) Selalu mengingat mati (dzikir al-maut)
3) Sering ziarah ke kubur (ziyarah al-qubur)


MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAUBAT DAN SABAR

MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAUBAT DAN SABAR

Oleh : Qonita Salma Safira (213111036)

A. MAQAMAT DALAM SABAR

Maqam adalah tingkatan seseorang hamba di hadapan Tuhannya dalam hal ibadah dan latihan latihan jiwa yang dilakukannya (Zulkifli, Jamaluddin) Maqam secara bahasa berarti pangkat atau derajat. Sementara menurut istilah ilmu tasawuf, magamat adalah kedudukan seorang hamba di hadapan Allah, yang diperoleh dengan melalui peribadatan, mujahadat dan lain-lain, latihan spritual serta (berhubungan) yang tidak putus-putusnya dengan Allah swt. atau secara teknis magamat juga berarti aktivitas dan usaha maksimal seorang sufi untuk meningkatkan kualitas spiritual dan kedudukannya (magam) di hadapan Allah swt dengan amalan-amalan tertentu sampai adanya petunjuk untuk mengubah pada konsentrasi terhadap amalan tertentu lainnya, yang diyakini sebagai amalan yang lebih tinggi nilai spirituanya di hadapan Allah swt

Dalam rangka meraih derajat kesempumaan, seorang sufi dituntut untuk melampaul tahapan-tahapan spiritual, memiliki suatu konsepsi tentang jalan (tharikat) menuju Allah swt., jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniah (riyadhah) lalu secara bertahap menempuh berbagai fase yang dalam tradisi tasawuf dikenal dengan maqam (tingkatan). Tingakatan (maqam) adalah tingkatan seorang hamba di hadapan Allah tidak lain merupakan kualitas kejiwaan yang bersifat tetap, inilah yang membedakan dengan keaadaan spiritual (hal) yang bersifat sementara. Menurut Muhammad Al-Kalabazy, Maqamat terdiri dari 10 tingkatan yaitu 
1. TAUBAT 
2. ZUHUD 
3. SABAR 
4. FAQR
5. TAWADHU
6. TAKWA 
7. TAWAKKAL
8. RIDHA
9. MAHABBAH 
10. MA'RIFAT



B. MAQAMAT DALAM TAUBAT

PENGERTIAN TAUBAT
Secara etimologi, taubat berasal dari bahasa Arab. Yaitu dari kata توب ة - ي توب ت اب yang artinya kembali dari maksiat kepada taat secara terminologi islam arti taubat adalah meninggalkan maksiat dalam segala hal, menyesali dosa yang pernah di perbuat dan tidak mengulanginya kembali. Taubat menurut istilah para sufi adalah kembali kepada ketaatan .dari perbuatan maksiat, kembali dari nafsu kepada haq (jalan kebenaran)

Tiga macam taubat
1. Al-taubah bagi orang awam, yaitu menyesali dan meninggalkan dosa-dosa lahir, seperti pembunuhan, zina, pencurian dan sebagainya.
2. Al-taubah bagi orng khawwas, yaitu menyesali dan meninggalkan dosa-dosa batin, seperti kesombongan, keangkuhan dengki dan sebagainya..
3. Al-taubah bagi orang khawwas al-khawwas, yaitu menyesal dan meninggalkan perbuatan lalai dari zikir, Karena keistimewaan gologan ini adalah batinnya selalu ingat akan Allah swt.

DALIL TAUBAT
QS. At-Tahrim ayat 8

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّتِ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الألهز يوم لا يخزى الله التين والذِينَ ءامَنوا مَعَة لوزهم يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَأَغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَىٰ كل شيء قدير

TERJEMAHAN
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah- mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahankesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang- orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Mengenai makna taubat nasuha dikemukakan dalam tafsir Sa,id Hawwa: Taubat yang benar atau yang mumi. Istilah taubat nasuha dalam ayat Tersebut dimaknai oleh Sa'id Hawwa yaitu taubat sadiqah (jujur, benar) dan khalisah (murni, bersih, tulus).

Selanjutnya dijelaskannya dengan mengutip Ibnu Kasir bahwa taubat nasuha adalah taubat yang menghapus kesalahan yang lewat. Berbagai kekusutan ataupun kesalahan yang membuat diri terhina dan rendah lalu dihimpun dan menjadi terhapus dengan taubat. Artinya taubat tersebut berfungsi menghilangkan dan menghapus kesalahan. Taubat juga dipahami dapat memutus rangkaian dosa ibarat memutus tali yang mengikat suatu benda. Apabila ujung tali dekat benda tersebut dipotongmaka tidak ada lagi hubungan tali dengan benda tersebut. Begitulah tujuan yang dikehendaki dari taubat nasuha.

TAUBAT MENURUT PARA TOKOH SUFI

1. Imam Al-Ghazali
Beberapa konsep taubat yang diterangkan dalam kitab Minhajul Abidin karya Imam al-Ghazali Imam al-Ghazali berpendapat bahwa, taubat adalah suatu usaha dari beberapa pekerjaan hati. Singkatnya, taubat itu ialah membersihkan hati dari dosa.

2. Rabi'ah Al-Adawiyah
Taubat mempunyai beberapa tingkatan
a) Tingkat pertama dari taubat adalah dengan membiarkan seseorang merasa bersalah dan menyesali perbuatannya secara mendalam.
b) Tingkat kedua, penyesalan (taubat) berarti menghapuskan kebiasaan masa lalu serta perilaku yang terus diulang okeh seseorang. 
c) Tingkat ketiga, menekankan bahwa bertaubat berarti membebaskan seseorang dari kecenderungan untuk tidak adil, rasa permusuhan, serta terhapusnya dorongan prasangka yang merusak. 

3. Dzun Nun Al-Mishri
Al-Misri membagi taubat menjadi tiga tingkatan, yaitu:
a) Orang yang bertaubat karena dan dosa dan keburukannya; 
b) Orang yang bertaubatdari kelalaiannya dan kealfaannya dalam mengingat Tuhan, subat karena memandangkebaikan dan ketaatannya

CONTOH SIKAP DAN PERILAKU
TAUBAT
1 Ikhlas artinya, taubat pelak dosa harus ikhlas ser ama-mata karena Allah Swt. bukan karena lainnya.
2. Menyesali dosa yang telah diperbuatnya.
3. Meninggalkan sama sekali maksiat yang telah dilakukannya, 
4. Tidak mengulangi artinya, seorang muslim harus bertekad tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
5. Istighfar yaitu memohon ampun kepada Allah Swt atas dosa yang dilakukan terhadap hak-Nya
6. Memenuhi hak bagi orang-orang yang berhak, atau mereka melepaskan haknya tersebut.
7. Waktu diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya, sebelum tiba ajalnya. Sabda Nabi Muhammad Saw. "Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba-Nya selama nyawanya belum sampai tenggerokan." (HR. At-Tirmidzi)

TAUBAT MENURUT PARA TOKOH SUFI
1. Imam Al-Ghazali
Beberapa konsep taubat yang diterangkan dalam kitab Minhajul Abidin karya Imam al-Ghazali Imam al-Ghazali berpendapat bahwa, taubat adalah suatu usaha dari beberapa pekerjaan hati. Singkatnya, taubat itu ialah membersihkan hati dari dosa.

2. Rabi'ah Al-Adawiyah
Taubat mempunyai beberapa tingkatan
a) Tingkat pertama dari taubat adalah dengan membiarkan seseorang merasa bersalah dan menyesali perbuatannya secara mendalam.
b) Tingkat kedua, penyesalan (taubat) berarti menghapuskan kebiasaan masa lalu serta perilaku yang terus diulang oleh
c) Tingkat ketiga, menekankan bahwa bertaubat berarti membebaskan seseorang dari kecenderungan untuk tidak adil, rasa permusuhan, serta terhapusnya dorongan prasangka yang merusak seseorang

3. Dzun Nun Al-Mishri
Al-Misri membagi taubat menjadi tiga tingkatan, yaitu:
a) Orang yang bertaubat karena dan dosa dan keburukannya; 
b) Orang yang bertaubat dari kelalaiannya dan kealfaannya dalam mengingat Tuhan, 
c) Subat karena memandangkebaikan dan ketaatannya.

CONTOH SIKAP DAN PERILAKU

TAUBAT
1 Ikhlas artinya, taubat pelak dosa harus ikhlas ser ata-mata karena Allah Swt. bukan karena lainnya.
2. Menyesali dosa yang telah diperbuatnya.
3. Meninggalkan sama sekali maksiat yang telah dilakukannya, 
4. Tidak mengulangi artinya, seorang muslim harus bertekad tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
5. Istighfar yaitu memohon ampun kepada Allah Swt atas dosa yang dilakukan terhadap hak-Nya
6. Memenuhi hak bagi orang-orang yang berhak, atau mereka melepaskan haknya tersebut.
7. Waktu diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya, sebelum tiba ajalnya. Sabda Nabi Muhammad Saw.
"Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba-Nya selama nyawanya belum sampai tenggerokan." (HR. At-Tirmidzi)

MAQAMAT SABAR

PENGERTIAN SABAR

Secara harfiah, sabar artinya tabah hati, Di kalangan para sufi, sabar diartikan sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah, dalam menjauhi segala larangan-Nya, dan dalam menerima segala percobaan yang ditimpakan-Nya pada diri kita. Dalam perspektif tasawuf sabar berarti menjaga menjaga adab pada musibah yang menimpanya, selalu tabah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya serta tabah menghadapi segala peristiwa. Makna sabar menurut ahli sufi pada dasamya sama yaitu sikap menahan diri terhadap apa yang menimpanya.

DALIL SABAR

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَسْتَعِينُوا بالخير والصلوة إن الله مع الصبرين

QS. Al-Baqarah Ayat 153

TERJEMAHAN

Hai orang-orang yang percaya, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang sabar." (QS al-Baqarah 2:153)

Di dalam Al-Qur'an disebutkan berbagai jenis kesabaran yang utama, Salah satunya : 
1). Sabar dalam menghadapi berbagai cobaan di dunia
"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (QS. Al-Balad: 4) 
2). Sabar untuk tidak memperturutkan yang diinginkan oleh hawa nafsu. Sehubung dengan hal ini, Allah SWT. Telah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang mengerjakan hal tersebut maka sungguh mereka itu termasuk golongan orang yang merugi." (QS. Al-Munafiqun: 9)
3). Tetap bersabar, tidak pernah melirik pada kesenangan yang dimiliki oleh orang lain dan tidak terperdaya oleh harta serta anak-anak yang dimiliki oleh mereka.

SABAR MENURUT PARA TOKOH SUFI
1. Imam Al-Ghazali Al-Ghazali membagi sabar berdasarkan tingkat tiga yaitu terbagi menjadi tingkatan: 
a) Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya karena ia mempunyai daya juang yang tinggi.
b) Orang yang kalah oleh hawa nafsunya, ia telah mencoba bertahan atas dorongan hawa nafsunya, tetapi karena kesabaranya lemah maka ia kalah.
c) Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsu tapi suatu ketika ia kalah dorongan karena besarnya  nafsu Meskipun demikian, ia bangun lagi dan terus bertahan dengan sabar atas dorongan nafsu tersebut. 
2. Dzun Nun al-Misn, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenamya bearda dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.
3. A-Kalabadzi, mengatakan bahwa sabar adalah pengharapan akan kesenangan atau kegembiraan dari dan ini lebih tinggi maksudnya seseorang tak seharusnya mencari kesenangan atau kegembiraan.

CONTOH SIKAP DAN PERILAKU sabar

Perilaku sabar sebagai per jhayatan dan pengaman QS. al-Baqarah/2:153 dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan dengan cara sebagai berikut. 
1. Sabar dalam menjalankan perintah Allah Swt. Seperti sholat Ketika mendengar adzan segera menuju ke masjid untuk melaksanakan berjamaah, Ketika bel berbunyi segera masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran. 
2. Sabar dalam maksiat atau larangan Allah Swt. Seperti ketika diajak membolos sekolah teman temannya segera menolak dan melarangnya untuk membolos. 
3. Sabar dalam menerima dan menghadapi musibah, seperti Ketika terkena musibah sakit panu tidak mengeluh dan putus asa untuk berusaha mencari obatnya.

MAQAMAT DAN AKHWAL DALAM ILMU TASAWUF : TASAWUF AMALI DAN TASAWUF FALSAFI

MAQAMAT DAN AKHWAL DALAM ILMU TASAWUF : TASAWUF AMALI DAN TASAWUF FALSAFI

Oleh : Qonita Salma Safira (213111036)

1. MAQAMAT DALAM TASAWUF 

A. Pengertian Maqamat
Maqamat adalah bentuk jamak dari kata magam, yang secara bahasa berarti pangkat atau derajat Dalam bahasa Inggris, magamat disebut dengan istilah stations atau stages. Sementara menurut istilah tasawuf, magamat adalah kedudukan seorang hamba di hadapan Allah, yang diperoleh dengan melalui peribadatan, mujahadat dan lain-lain, latihan spiritual serta (berhubungan) yang tidak putus-putusnya dengan Allah. Secara teknis magamat juga berarti aktivitas dan usaha maksimal seorang sufi untuk meningkatkan kualitas spiritual dan kedudukannya (maqam) di hadapan Allah dengan amalan amalan tertentu sampai adanya petunjuk untuk mengubah pada konsentrasi terhadap amalan tertentu lainnya, yang diyakini sebagai amalan yang lebih tinggi nilai spiritualnya di hadapan Allah

Macam-Macam Maqamat 

1. TAUBAT
Taubat berarti aruju min adz-dranbi, arnau an adz dzants, yang berani kembal dari berbuat dosa menuju kebaikan atau meninggalkan dosa. Karena itu, stasiun pertama dalam tasawuf adalah taubat. Pada mulanya seorang calon sufi harus taubat dari desa-dosa besar yang dilakukannya. Taubat yang dimaksud adalah taubat annasuha, yaitu taubat yang membuat orang menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun

2. ZUHUD
Zuhud ialah penolakan terhadap gemerlapnya harta dunia. Dikatakan bahwa zuhud pada sesuatu adalah tidak gembira atas apa yang dimilikinya terhadap dunia, dan tidak bersedih atas apa yang tidak dimilikinya. Sementara Al-Junaid memberikan batasan tentang zuhud menurutnya, zuhud adalah kosongnya tangan dan kepemilikan dan hati dari hal yang mengikutinya (ketamakan).

3. WARA
Kalau ketenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi, ia keluar dan pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula to tenun banyak berpuasa, melakukan shalat, membaca Al-Quran dan berdzikir to juan akan selalu naik haj Sampailah ia ke stasiun wara Di sini le dijauhkan Tuhan dari perbuatan perbuatan syubhat. Wara dapat diartikan sebagai usaha seseorang untuk menjauhkan diri dari segala sesuatu yang ayubhat. Dalam tahapan ini, seorang sufi akan sangat berhati-hati dalam menerima sesuatu karena ditakutkan adanya syubhat tersebut. Dengan demikian, wara" adalah menyucikan hati dan berbagai anggota badan.

4. FAQR
Secara hammah biasanya diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh atau orang miskin. Dikatakan pula, bahwa tanda orang miskin itu ada tiga yaitu dia melindungi batinya, dia melaksanakan kewajiban kewajiban agamanya, dan dia menyembunyikan kemiskinannya. Selain itu, ath-Thusi juga pemah menyatakan bahwa orang miskin adalah yang terkaya di antara ciptaan Allah Mereka melepas pemberian demi sang Pemben. Jadi, kefakiran adalah meniadakan segala sesuatu yang menjadi keinginan keinginanhati baik yang bersifat lahiri maupun batini. Karena dengan munculnya keinginan-keinginan dalam hatinya, berarti seorang sufi telah melepaskan dirinya dan sikap kefakirinya. Jika demikian halnya, sang sufi akan terhalang untuk mendapatkan buah dari nilai-nilai spiritual

5.SABAR
Sabar berarti tabah hati. Sabar secara etimologi adalah suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil dan konsekuen dalam pendirian, pengertian tersebut, maka sabar erat hubungannya dengan pengendalian diri, pengendalian sikap, pengendalian emosi. Oleh sebab itu sikap sabar tidak bisa terwujud begitu saja, akan tetapi harus melalui latihan yang sungguh-sungguh

6. TAWAKAL 
Secara harfiah tawakkal berarti menyerahkan diri dan mempercayakan bulat kepada Allah SWT setelah melakukan suatu rencana dan usaha menolak dan jangan menduga-duga. Nasib apapun yang diterima itu adalah karunia Allah, Sikap seperti itu yang dicari dan diusahakan sufi agar jiwa mereka tenang,berani dan ikhlas dalam hidupnya walau apapun yang dihadapi atau dialaminya.

7. RIDHO
Ridha menurut Imam Al-Junaid adalah ketundukan mutlak dan penyerahan dif seutuhnya pada ketentuan gadha Allah yang telah ditetapkan sejak zaman azal Ridha dengan pengertian yang shahih ini merupakan salah satu derajat ma'rifat billala Jalan kesinambungan ma'rifat billah dan sarana meraih keabadian ridhaNya Ridh juga menjadi sarana meraih kebahagiaan hidup yaitu kehidupan yang nyaman dan menentramkan hati. Itulah bentuk daripada ridha kepada Allah SWT

8. MAHABBAH
Al-Hubb atau mahabbah adalah salah satu istilah yang selalu berdampingan dengan ma'rifat, karena manifestasi dari mahabbah itu adalah tingkat pengenalan kepada tuhan yang di sebut dengan Ma'rifat. Al-Hubb mengandung pengertian terpadu seluruh kecintaan hanya kepada Allah yang menyebabkan adanya masa kebersamaan dengan-Nya. 

9. MA'RIFAT
Dalam istilah tasawuf berarti pengetahuan yang sangat jelas dan pasti tentang Tuhan yan diperoleh melalui sanubar Menurut Al-Ghazal, pengertian manifat ialah mengetahui mata hati, karena jelas dan terangnya pengetahuan itu ia mengungkapkan dalam kalimat "nazharu ila wajhi Allah memandang wajhi Allah disini maksudnya melihat dengan mata hatinya bukan dengan mata inderanya.

2. AKHWAL DALAM TASAWUF

Pengertian Akhwal

Akhwal adalah bentuk jama" dari hal yang biasanya diartikan sebagai keadaan mental atau mental states yang di alami para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya, Ibnu Arabi menyebutkan hal sebagai sifat yang dimiliki seorang salik pada suata waktu dan tidak pada waktu yang lain,seperti kemabukkan dan fana. Ahwal sering di peroleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Dan dijelaskan dalam sebuah buku bahwa Jika maqam diperoleh melalui usaha, akan tetapi hal bukan diperoleh melalui usaha, akan tetapi anugerah dan rahmat dari Tuhan. Maqam sifatnya permanen, sedangkan hal sifatnya temporer sesual tingkatan magamnya. Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa al-ahwal merupakan sesuatu yang di berikan Allah kepada hambanya yang tanpa usaha melainkan seperi hadiah yang berupa Ilham yang bersifat tidak selamanya. Al Ghazali yang memberi pandangan yang menyatakan bahwa apabila seseorang telah mantap dan menetap dalam suatu maqom ia akan memperoleh suatu perasaan tertentu.

Macam-Macam Akhwal

1. MURAQABAH 
Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini sama seperti apa yang ada dalam buku Kunci Kebahagiaan yang di tuliskan bahwa "Maka, tidak mungkin seseorang akan melakukan kemaksiatan jika pengetahuannya telah sempurna bahwa Allah menyaksikan, melihat, dan memberikan sanksi, serta telah mengharamkannya.

2. KHAUF (TAKUT)
Khauf adalah suatu sikap mental yang merasa takut kepada Allah SWT karena kurang sempuma pengabdianya. Takut dan kawatir kalau Allah SWT tidak senang kepadanya. Menurut Ghazali Khauf adalah rasa sakit dalam hati karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak disenagi dimasa sekarang Menurut alGhazal Khaut terdiri dari tiga tingkatan atau tiga derajat diantaranya adalah

1) Tingkatan Qashir (pendek), Yaitu khauf seperti kelembutan perasaan yang dimiliki wanita, perasaan ini seringkali dirasakan tatkala mendengarkan ayat-ayat Allah SWTdibaca.

2) Tingkatan Mufrith (yang berlebihan), yaitu khauf yang sangat kuat dan melewati batas kewajaran dan menyebabkan kelemahan dan putus asa,khauf tingkat ini menyebabkan hilangya kendali akal dan bahkan kematian. khauf ini dicela karena karena membuat manusia tidak bisa beramal 3) Tingkatan Mu'tadil (sedang), yaitu tingkatan yang sangat terpuji, ia berada pada khauf qashir dan mufrith.

3. RAJA
Raja dapat berarti berharap atau optimisme, yaitu perasaan senang hati karena menanti sesuatu yang diinginkan dan disenangi. Orang yang harapan dan penantiannya mendorongnya untuk berbuat ketaatan dan mencegahnya dari kemaksiatan, berarti harapannya benar. Sebaliknya, jika harapannya hanya anganangan, semenatara la sendiri tenggelam dalam lembah kemaksiatan, harapannya sia-sia. Raja menurut tiga perkara, yaitu:
1) Cinta kepada apa yang diharapkannya. 
2) Takut bila harapannya hilang. 
3) Berusaha untuk mencapainya.

4. TUMA'NINAH
Thuma"ninah adalah rasa tenang tidak ada rasa was-was atau khawatir, tak ada yang dapat mengganggu perasaan dan pikiran, karena in telah mencapai tingkat kebersihan jiwa yang paling tinggi. Seseorang yang telah mencapai tingkatan thuma"ninah, ia telah kuat akalnya, kuat imannya dan ilmunya serta bersih ingatannya. Jadi, orang tersebut merasakan ketenangan bahagia, tentram dan in dapat berkomunikasi langsung dengan Allah Thuma ninah dibagi menjadi tiga tingkatan. Pertama, ketenangan bagi kaum awam, Kedua, ketenangan bagi orang- orang khusus, Mereka di tingkat ini merasa tenang karena mereka rela, senang atas keputusan Allah, robar atos cobaan-Nya, ikhlas dan takwa Ketiga, ketenangan bagi orang-orang paling khusus Ketenangan di tingkat m mereka dapatkan karena mereka mengetahui bahwa mahasia rahasia hati mereka tidak sanggup merasa tentram kepada-Nya

5.UNS (SUKA CITA)
Uns (suka cita) dalam pandangan sufi adalah sifat merasa selalu berteman, tak pemah merasa sepi. Dalam keadaan seperti ini seorang sufi merasakan tidak ada yang dirana, tidak ada yang diingat tidak ada yang dihamp kecuali Allah Segenap jwa terpusat bulat kepada-Nya sehingga seakan akan tidak menyadari dirinya lagi dan berada dalam situasi hilang kesadaran terhadap alam sekitarnya. Situasi kejiwaan seperti itulah yang disebut al Uns. 

6. MUSYAHADAH
Musyahadah secara harfiah adalah menyaksikan secara jelas dan sadar apa yang dicarinya (Allah) atau penyaksian terhadap kekuasaan dan keagungan Allah Seorang sufi telah mencapai musyahadah ketika sudah masakan bahwa Allah telah hadir atau Allah telah berada dalam hatinya dan seseorang sudah tidak menyadari segala apa yang terjadi, segalanya curahkan pada yang satu yanu Allah, sehingga tersingkap tabir yang menjadi senjangan antara sufi dengan Allah.

3. Tasawuf Falsafi
Tasawuf Falsafi yakni tasawuf yang dipadukan dengan filsafat Dari cara memperoleh ilmu menggunakan rasa, sedang menguralkannya menggunakan rasio, la tidak bisa dikatakan tasawuf secara total dan tidak pula bisa disebut filsafat, tetapi perpaduan antara keduanya, selanjutnya dikenal tasawuf Falsafi Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya

Tasawuf falsafi mulai muncul dengan jelas dalam khazanah islam sejak abad keenam hijriyah, meskipun para tokohnya baru dikenal seabad kemudian. Sejak itu, tasawuf jenis ini hidup dan berkembang, terutamadi kalangan para sufi yang juga filosof, sampai menjelang akhir-akhir ini. Tasawuf filsafi kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat


Tokoh dan Ajaran

a Fanā dan Baqa, yakni lenyapnya kesadaran dan kekal. Dari segi bahasa Fanā berarti hancur, hilang, lebur, musnah, lenyap, atau tiada. Sementara Baqa berarti tetap, kekal, abadi, atau hidup terus (lawan dari fana). Tokohnya adalah Abu Yazid al-Bustami.
b. Ittihad, yaitu konsep lanjutan dari fana dan baqa yaitu suatu tingkatan dalam tasawuf dimana seorang sufi telah merasa dirinya "bersatu dengan Tuhan", dan antara yang mencinta dan yang dicintai telah menjadi satu sehingga salah satu memanggil vang lain dengan kata-kata "Hai Aku" Konsep ini juga merupakan konsekuensi lebih lanjut dari pendapat sufi bahwa jiwa manusia adalah pancaran Nur Ilahi.
c. Hulül, yaitu bersemayamnya sifat-sifat Allah Saw ke dalam diri manusia sehingga bersatulah sifat ketuhanan dengan sifat kemanusiaan. Maksudnya bahwa dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan dan dalam diri Tuhan terdapat sifat kemanusiaan, dengan demikian persatuan antara Tuhan dengan manusia bisa
d. Isyraq berarti terbit, bersinar atau memancarkan cahaya. Isyraq berkaitan dengan cahaya, yang pada umumnya digunakan sebagai lambang kekuatan, kebahagiaan, ketenangan dan hal-hal lain yang membahagiakan. Konsep Isyraq yang dicetuskan oleh Suhrawardi al- Maqtül ini mengatakan alam ini diciptakan melalui penyinaran atau illuminasi.

4. Tasawuf Amali

Pengertian
Tasawuf amali dapat dipahami sebagai ajaran tasawuf yang lebih menekankan kepada perilaku yang baik dalam kaitannya dengan amalan ibadah kepada Allah. Tasawuf amali merupakan tasawuf yang mengedepankan mujahadah dengan menghapus sifat-sifat yang tercela dan menghadap total dengan segenap esensi diri hanya kepada Allah

Tokoh dan Ajaran

a. Syaikh Abdu al-Qadir al-Jailani (w.561 H) 
Syaikh Abdu al-Qadir al-Jailani dilahirkan di desa Jilan Baghdad (wilayah Iraq sekarang) pada malam 1 Ramadhan 471 H/1078 M. Beliau adalah seorang sufi besar yang kealiman dan kepribadiannya banyak mendapat pujian dari para sufi dan ulama sesudahnya. Beliau juga seorang ulama besar sunni yang bermazhab Hambali yang sangat produktif. Diantara beberapa karya yang telah dihasilkannya yaitu al-Gunyah li al-Talibi al-Tariq al-Haq. Isinya memuat beberapa dimensi ke-Islaman, seperti fiqh, tauhid, ilmu kalam, dan akhlaq tasawuf.

b. Junaid al-Baghdadi (w.297 H)
Dia termasuk tokoh sufi yang luar biasa, yang teguh dalam menjalankan syariat agama, sangat mendalam jiwa kesufiannya. Bagi Junaid, pengetahuan dan kemampuan dalam menguasai ilmu Fiqih merupakan pondasi untuk mendalami dan prenguasai ilmu tasawuf. Junaid berpandangan bahwa fiqih harus terlebih dahulu dimiliki oleh seseorang yang ingin mendalami, menekuni dan mempraktekkan ajaran

c.Rabi'ah al-Adawiyyah adalah salah seorang sufi perempuan yang mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. Seorang perempuan yang alur kehidupannya tidak seperti perempuan pada umumnya. Ia terisolasi dalam dunia mistisime, jauh dari hal-hal duniawi. Rabi'ah merupakan simbol utama paradigma kehidupan ruhani Islam pada abad ke-2 Hijriah. Jika ada kekurangan kami mohon maaf dan jika ada kelebihan tidak usah dikembalikan karena kami orang yang ikhlas. 

PERKEMBANGAN ILMU AKHLAQ DAN TASAWUF PADA MASA KEMUNDURAN ISLAM, MODERN, DAN KONTEMPORER

PERKEMBANGAN ILMU AKHLAQ DAN TASAWUF PADA MASA KEMUNDURAN ISLAM, MODERN, DAN KONTEMPORER

Oleh : Qonita Salma Safira (213111036) PAI 3A

1. Akhlak pada masa kemunduran islam

Diambil dari latar belakang kitab Taysir Al-Khallaq Kitab Taysir Al- Khallaq karya Hafidz Hasan Al-Mas'udi kitab yang berisikan tentang bagaimana kita mempunyai akhlak yang baik sebagai pendidik maupun peserta didik. Dalam penyusunan kitab ini beliau mempunyai setting sosial, Penulis akan menggunakan dua pendekatan dalam mengkaji setting sosial kitab ini, pendekatan pertama, pendekatan history Daulah Abbasiyyah, karena beliau hidup pada masa itu, pendekatan kedua menggunakan pendekatan akhlak di Mesir pada tahun 330-340 H, karena kitab Taisiirul Kholtag Fillmil Akhlaq selesai pada tahun 339 H.

A. Pendekatan history Daulah Abbasiyyah

Pada pemerintahan Daulah Abbasiyyah terutama pada masa kemunduran banyak penguasa yang minim masalah akhlak, tidak cakap dalam hal pemerintahan, mereka hanya memikirkan dirinya sendiri dan senang berfoya-foya dari pada memikirkan rakyatnya, seperti pada kepemimpinan Abu Al-Fadhl Ja'far al-Muqtadir (295-322 H/905-932 M), la sangat lemah dan tidak cakap dalam hal pemerintahan dan ia pun digulingg kan dari jabatanya oleh Mu"nis al-Muzhaffar kemudian ia mengangkat saudara al-Muqtadir bernama al-Qahir sebagai khalifah (320-322 H/932-934 M). Hal itulah yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran Daulah Abbasiyyah dikarenakan kemewahan hidup dikalangan penguasa, hilangnya sifat amanah, perebutan kekuasaan antara keluarga yang ditambah dengan masuknya unsur bangsa lain sehingga terjadi persaingan dan kemerosotan akhlak.

Disamping itu banyak penguasa daulah Abbasiyyah tidak percaya dengan kekuatan sendiri, fanatik madzhab dan keagamaan, kemorsotan ekonomi dikarenakan kehidupan bermewah-mewahan dari golongan penguasa, lemahnya semangat patriotisme negara, hilangnya keadilan. Kejadian tersebut yang menjadikan setting sosial atau terciptanya kitab Taisibul Khollaq Fillmil Akhlaq yang diambil dari pendekatan history Daulah Abbasiyyah,Dada tahun beliau hidup.

B. Pendekatan akhlak di Mesir pada tahun 330-340 H

Akhlak di Mesir pada tahun 330-340 H mengalami kemunduran dikarenakan bangsa mesir telah meninggalkan kulturnya dan bergaya hidup Barat. Akibatnya terjadi dekadensi moral dan kehancuran tatanan sosial. Para penjajah melakukan kerusakan yang bersifat ilmiah, ekonomi, kesehatan, moral, dan seterusnya.

Banyak pelajar atau guru yang minim masalah akhlak dikarenakan banyaknya peradaban-peradaban orang barat yang mulai menghilangkan nilai-nilai agama. Pada masa itu juga banyak pemimpin yang kurang adil dan amanah, yang menjadikan kehancuran tatanan sosial. Maka dari itu Hafidz Hasan al-Mas'udi mempunyai pemikiran, beliau membuat sebuah kitab tentang akhlak, harapanya agar masyarakat mesir bisa mempunyai akhlak yang baik dan bisa mengembalikan nilai-nilai agama islam. 

2. Tasawuf pada masa masa kemunduran islam

A. Tasawuf pada massa kemunduran islam (1250M-1500M)

Dalam sejarah, Islam pernah mengalami zaman keemasan di berbagai aspek, yaitu pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Kemudian mengalami zaman kemunduran setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah. Masa kemunduran islam terjadi pada tahun 1250M-1500M). Atau sekitar abad ke-6 hingga ke-8 Hijriah

1. Tasawuf Pada Abad Keenam dan Ketujuh Hijriyah

a. Ciri-Ciri Perkembangan Tasawuf Pada Abad Keenam dan Ketujuh Hijriyah Pada abad VI Hijriyah, munculah tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat, kompromi dalam pemakaian term-term filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf. Dr. Ibrahim Hasan Ibrahim dalam bukunya 'Tarikhul Islam' menamainya sinkretisme filsafat dengan tasawuf. Oleh karena itu, tasawuf yang berbau filsafat tidak sepenuhnya bisa dikatakan tasawuf, dan tidak bisa dikatakan sebagai filsafat. Dalam hal ini, perjalanan tasawuf masih sama seperti pada abad V Hijriyah. Ditambah akibat dari besarnya pengaruh Tasawuf Al-Ghazali yang berhasil mengkompromikan ilmu kebatinan dengan filsafat. Teorinya mengenai hakikat bukan semata-mata dengan akal, namun juga dengan perasaan.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyimpulkan, bahwa tasawuf falsafi mempunyai empat obyek utama dan menurut Abu Al-Wafa bisa dijadikan karakter sufi falsafi, yaitu:

1). Latihan rohaniah (riyadhah) dan perjuangan batin (mujahadah) dengan rasa, intuisi, serta instropeksi.

2). Illuminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib. 

3). Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.

4). Munculnya ungkapan-ungkapan baru atau istilah-istilah yang pengertiannya masih samar-samar(syatahiyat), seperti kasyaf (tirai penyingkap), tajalli (Tuhan- telah jelas dan nyata), wihdatul muthlaqah (kesatuan yang mutlak), hulul (penjelmaan Tuhan ke dalam hamba), dan ittihad (persatuan antara hamba dengan tuhan).

b. Tokoh-tokoh Sufi Pada Abad Keenam dan Ketujuh Hijriyah

Ada beberapa tokoh sufi pada masa ini, antara lain Syihabuddin Abdul Futuh Al-Syuhrawardi, Muhyiddin Ibnu Arabi, Umar Ibnu Faridh, dan Abd Al-Haqqi ibn Sabi’in. Dari keempat tokoh sufi di atas, yang paling terkenal ialah

Syihabuddin Abdul Futuh Al-Syuhrawardi dan Muhyiddin Ibnu Arabi. Beberapa tokoh sufi terkenal ini akan diulas secara garis besar berikut:

1) Syihabuddin Abdul Futuh Al-Syuhrawardi

Beliau dikenal dengan nama lain Asy-Syaikh Al-Maqtul (Syaikh yang mati terbunuh), dan memiliki gelar ‘Al-Mu’ayyad bil Malakut’ (mendapat sokongan dari alam malakut). Mula-mula ia belajar filsafat dan ushul fiqih kepada Syaikh Imam Majdudin Al-Jaili di Aleppo, dan banyak bergaul dan bertukar pikiran dengan para ulama disana. Di kota ini ia mulai terkenal dan akhirnya membuat iri para fuqaha’ yang lain, sehingga mereka mengecam dan melaporkannya kepada penguasa kota Halb, Sultan al-Malik al-Dzahir al-Ghani putra Shalah al-Din al-Ayyubi. Sang pangeran kemudian melangsungkan suatu sidang yang dihadiri para fuqoha’ dan teolog. Namun, Suhrawardi berhasil mengemukakan argumentasi-argumentasi yang kuat, sehingga membuatnya menjadi dekat dengan al-Dzahir. Dan akhirnya ia diberi sambutan dengan sangat baik. Orang-orang yang dengki terhadapnya merasa kecewa, mereka mengirimsurat kepada Shalah al-Din al-Ayyubi. Mereka memperingatkan Shalah al Din al-Ayyubi tentang bahaya yang akan menyesesatkan aqidah al-Dzahir karena terus bersahabat dengan Suhrawardi.5 Sehingga pada akhirnya ia dituduh zindiq dan ilhad (tidak bertuhan/keluar dari agama). Kemudian para ulama fiqih meminta kepada Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (Saladin) yang terkenal untuk menangkapnya dan dijatuhi hukuman mati. Setelah mendengar desakan dari para ulama fiqih tersebut, maka Sultan mengutus anaknya, Malik Az-Zahir, untuk menanngkapnya dan memasukkannya ke dalam penjara. Setelah berada di penjara, Al- Syuhrawardi tidak mau makan dan minum sampai meninggal pada tahun 587 H/1191 M. Ada juga yang menyebutkan bahwa al-Syuhrawardi dihukum gantung pada tahun 587 oleh Malik az-Zahir.

Terkait penuntut hikmah, Al-Syuhrawardi membaginya menjadi tiga macam: 

A). Ahli Filsuf, yang hanya mempergunakan akal semata.

B). Ahli Tasawuf, yang ingin mencari Tuhan. 

C). Ahli filsuf ketuhanan, yakni yang menggunakan akal dan memenungkan rasa ntuk mencapai tujuan, yaitu Allah. Inilah yang paling tinggi nilainya.

2). Muhyiddin Ibnu Arabi

Nama lengkapnya Abu Bakar Muhyiddin Muhammad bin Arabi At-Thai Al- Haitami Al-Andalusi. Lahir di Mercia, Spanyol pada tahun 598 H/1102 M). Pada mulanya, Ibnu Arabi menuntut ilmu fiqih dalam mazhab Zahiri di Avilla, kemudian dilanjut dengan mencari ilmu kepada guru-guru yang sudah banyak terpengaruh oleh filsafat Neo-Platonisme yang sedang berkembang di Andalusia pada saat itu.

la memiliki konsep filsafat tasawuf yang hampir sama dengan Al-Syuhrawardi yaitu gabungan antara perasaan jiwa dengan renungan akal. Karyanya juga banyak, salah satunya ialah 'Al-Futuhat Al-Makiyah', yang berisi pendirian dan buah renungan dari Ibnu Arabi. Salah satu penyebab kematiannya ada perkataannya tentang al-hallaj.

Banyak para ulama besar yang menentang paham tasawuf milik Ibnu Arabi ini melalui fatwa-fatwanya, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Khaldun, Ibnu Hajar Al-Aqshalani, Ibrahim Al-Biqa'i.

2. Tasawuf Pada Abad Kedelapan Hijriyah (Masa Menurunnya Tasawuf)

Pada masa ini terlihat tanda-tanda keruntuhan tasawuf kian jelas, yang disebabkan seringnya terjadi penyelewengan dan pemikiran ganjil dalam diri kaum sufi dan sekaligus mengancam kehancuran reputasi baik ilmu tasawuf. Tasawuf pada waktu itu telah termasuki bid’ah, khurafat, mengabaikan syari’at, hukum-hukum moral, dan penghinaan terhadap ilmu pengetahuan, membentengkan diri dari dukungan awam untuk menghindarkan diri dari rasionalitas, azimat dan ramalan serta kekuatan gaib ditonjolkan. Ada masa ini, muncullah revivalis Islam, Syaikh Ibnu Taimiyah (w. 727 H/1329 M), yang dengan lantang menyerang penyelewengan-penyelewengan para sufi tersebut. Dia dikenal kritis, peka terhadap lingkungan sosialnya, polemis dan berusaha meluruskan ajaran Islam yang telah diselewengkan para sufi tersebut. 

Penyebab mundurnya tasawuf di dunia Islam pada abad ini antara lain:

a. Pada masa itu adalah masa suram-suramnya cahaya perasaan dan pemikiran

karena ada rasa keputusasaan dalam dunia Islam. Hal ini dikarenakan Baghdad sebagai jantungnya ilmu pengetahuan telah dihancurkan oleh bangsa Mongol. Ditambah lagi kekuasaan Islam berpindah ke Asia Kecil (Turki) oleh Turki Utsmani. Sejak itulah pelita timur lambat laun redup. 

b. Bangsa Barat mengalami zaman Renaissance yang mendorong kemajuan bangsa

Barat dalam mengambil alih peradaban dunia.

c. Umat Islam hanya bertaklid dalam segala bidang ilmu, yaitu menurut saja kepada

apa yang ditulis dan dijelaskan oleh orang-orang terdahulu. Tidak hanya tasawuf,kondisi taklid ini juga terjadi pada beberapa bidang ilmu, seperti ilmu fiqih, Al- Qur’an, hadits, dan teologi (kalam).

d. Lebih lanjut dengan semakin surutnya perkembangan tasawuf pada abad VIII

Hijriyah ini, maka tidak ada lagi pemikiran baru dalam dunia tasawuf. Meski ada beberapa ahli sastrawan sufi seperti Al-Kassyani atau Al-Kisani (w. 739 H/1321 M) yang telah banyak menulis buku-buku tentang tasawuf, namun dia tidak mengeluarkan pendapat yang baru. Ada pula seorang sufi besar pada abad ini yang bernama Abdul Karim Al-Jaili, seorang pengarang kitab ‘Insan Kamil’. Isi bukunya sempat membuat gempar para ulama fiqih, karena isinya memperindah konsep-konsep pikiran Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain. 

3. Tasawuf pada masa modern

1. Tasawuf Modern

Tasawuf modern adalah model tasawuf yang diperkenalkan oleh Hamka. Hamka dalam bukunya yang berjudul Tasawuf Modern. Dalam bukunya itu, Hamka mengatakan bahwa Zuhud (membenci kemegahan dunia) bukan merupakan ajaran Islam. Semangat Islam merupakan semangat berjuang, berkorban dan bekerja. Islam selalu menyeru umatnya mencari rezeki dan mengambil hal-hal yang bisa mengantar manusia mencapai kemuliaan. Ketinggian dan keagungan dalam perjuangan hidup. Dengan pengaruh zuhud menjadikan kaum muslimin membenci dunia dan tidak menggunakan kesempatan sebagai penganut agama lain. Akibatnya, mereka lemah dan tidak bisa bersaing dalam kehidupan ini. Dia mau berkorban tetapi tidak ada yang bisa dikorbankan karena harta telah dibenci. Dia mau berzakat, tetapi tidak ada yang bisa dizakati karena mengutuk orang yang mencari harta. 

2. Relevansi Ajaran Tasawuf Pada Masa Modern

Perkembangan kehidupan manusia begitu cepat dan canggih. Hal itu seiring dengan perkembangan sains dan teknologi yang begitu cepat. Kehidupan modern saat ini, telah berkembang menjadi sedemikian materialistik dan individualistik. Materi menjadi tolok ukur dalam segala hal, kesuksesan, kebahagiaan semuanya ditentukan oleh materi. Orang berlomba-lomba mendapatkan materi sebanyak-banyaknya, karena dengannya manusia merasa dirinya sukses. Akibatnya manusia sering bertindak tanpa kendali demi materi. Semakin terlihat kecenderungan manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Nilai-nilai kemanusiaan semakin surut, toleransi sosial dan solidaritas sesame serta ukhuwah (di kalangan umat Islam) tampak hilang dan memudar, manusia cenderung semakin individualis. Di tengah suasana itu, manusia merasakan kerinduan akan nilainilai ketuhanan, nilai-nilai Ilahiah. Nilai-nilai berisikan keluhuran inilah yang dapat menuntun manusia kembali kepada nilai-nilai kebaikan yang pada dasarnya telah menjadi fitrah atau sifat dasar manusia itu sendiri.

3. Pengaruh Tasawuf dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Perkembangan sejarah Islam membuktikan bahwa peranan ajaran Islam demikian signifikan dalam membentuk etika kehidupan masyarakat. Demikian pula kontribusi Islam dalam etika berbangsa dan bernegara, sebagaimana yang terdapat dalam negara yang dibangun oleh Muhammad SAW. yang dikenal dengan negara Madinah. Etika berbangsa dan bernegara, hendaknya mengacu pada prinsip-prinsip yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW. pada kehidupan masyarakat di Madinah. Adanya perilaku egalitarian sesama anak bangsa akan mewujudkan kerjasama yang baik, menghilangkan keangkuhan dan arogansi, sebab manusia pada dasarnya makhluk yang sederajat, dalam Islam semua manusia di hadapan Tuhan sama, kecuali yang memiliki kualitas ketakwaan yang mantap. Selanjutnya, terwujudnya keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan meahirkan ketenangan jiwa dan menggerakkan dinamika kerja. Pada gilirannya ini akan membawa kepada kemaslahatan, kemakmuran dan kesejahteraan. Adil dalam tinjauan bernegara, adalah terciptanya tatanan masyarakat yang harmonis, sejahtera, bahagia lahir dan batin. Sumber-sumber pendapatan negara dikelola sesuai dengan kemaslahatan negara dan masyarakatnya. Ini merupakan perwujudan dari nilai keadilan itu sendiri. Semua undang-undang ditegakkan tanpa kecuali. Tidak ada diskriminasi dalam peraturan negara atau pemerintahan dan pelaksanaannya. Proses penegakkan hukum harus benarbenar memenuhi nilai keadilan, baik pada tingkat normatif peraturan maupun dalam pelaksanaan sampai ke pengadilan.

4. Tasawuf pada masa kontemporer 

1. Tasawuf Kontemporer

Tasawuf mempunyai potensi besar karena mampu menawarkan pembahasan spiritual, mengajak manusia mengenal dirinya sendiri, dan akhirnya mengenal Tuhannya. Dan ini merupakan pegangan hidup manusia yang paling ampuh, sehingga tidak terombang-ambingkan oleh badai kehidupan ini. Ia menjadi penuntun hidup bermoral, sehingga dapat menunjukkan eksistensi manusia sebagai makhluk termulia di muka bumi ini. Kembali kepada sejarah bahwa lahirnya tasawuf sebagai fenomena ajaran Islam –diawali (secara internal) dari ketidakpuasan terhadap praktek Islam yang cendrung formalisme dan legalisme, dan juga sebagai reaksi terhadap ketimpangan politik,moral, dan ekonomi di kalangan umat Silam, khususnya di kalangan penguasa. Pada saat dmeikian tasawuf tampil memberikan solusi. Solusi tasawuf terhadap formalisme dan legalisme dengan spiritualitasi ritual,pembenahan dan transformasi tindakan fisik ke dalam tindakan batin. Sedangkan reaksi terhadap sikap politik, penguasa dan ekonomi sebagai akibat diraihnya kemakmuran, yang menimbulkan sikap kefoya-foyaan materiil, adalah dengan penampakan sikap isolasi diri dari hiruk pikuknya kehidupan yang berorientasi dunawi, dan menanamkan sikap sedia miskin. 

Tasawuf pada masa sekarang mempunyai tanggung jawab sosial lebih berat dari pada masa lalu. Untuk memberi jawaban bagaimana tanggung jawab sosial tasawuf pada zaman modern ini, maka terlebih dahulu akan diketengahkan bagaimana ciri masyarakat modern itu. Masyarakat modern ditandai oleh lima ciri pokok, yakni:

a. Berkembangnya massa culture. 

b. Tumbuhnya sikap-sikap yang lebih mengakui kebebasan bertindak, manusia bergerak menuju perubahan masa depan.

c. Tumbuhnya kecenderungan berpikir rasional.

d. Tumbuhnya sikap hidup yang materialistik.

e. Meningkatnya laju urbanisasi

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO  Oleh : Qonita Salma Safira (21311103) A. MA'RIFAT 1. DEFINISI MA’RIFAT  Secara bahasa b...