Sunday, October 31, 2021
NASIKH WA MANSUKH
Tuesday, October 19, 2021
ILMU MUNASABAH
PANDANGAN ULAMA MENGENAI ILMU MUNASABAH
• Kelompok kedua tidak munasabah dalam memperhatikan sebuah ayat.
Ulamanya yaitu :
1. Izuddin bin Abdus-salam (577-660 H), mewakili ahli ilmu alquran klasik, berpendapat tidak semua ayat alquran bermunasabah.
2. Manna'al- Qaththan dan Shubhi as-Shahih, tidak setuju pemaksaan ilmu munasabah.
3. FUNGSI DAN FAEDAH ILMU MUNASABAH
4. SEGI-SEGI MUNASABAH DAN PERTALIAN ANTAR AYAT DAN SURAT
Dari segi materinya ilmu Munasabah terbagi menjadi dua macam :
Munasabah Antar Ayat meliputi :
• Munasabah fawatihur suwar wa khawatimuha.
• Munasabah antara fawatihus suwar dengan kandungan surat.
• Munasabah antara ayat-ayat Al-Quran dalam satu surat
2. Munasabah antar surat.
Terdiri dari munasabah antar surat yang saling berdekatan.
5. MUNASABAH ANTAR NAMA SURAT DARI SURAT AWAL HINGGA AKHIR DARI AL - QUR'AN
1. Hubungan Awal Uraian Surat dengan Akhir Uraian Surat
Model hubungan Munasabah ini, al-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan memberikan contoh, antara lain misalnya pada surat al-Qashas. Permulaan surat tersebut menjelaskan tentang perjuangan Nabi Musa yang berhadapan dengan razim Fir'aun dan akhirnya keluar dari Mesir.
Di akhir surat Allah menyampaikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad yang menghadapi tekanan dari kaumnya dan Allah berjanji akan mengembalikannya ke Mekkah lagi.
5. MUNASABAH ANTAR NAMA SURAT DARI SURAT AWAL HINGGA AKHIR DARI AL - QUR'AN
2. Munasabah Antar Awal Surat dengan Akhir Surat yang Sama
Munasabah ini arti bahwa awal suatu surah menjelaskan pokok pikiran tertentu, lalu pokok pikiran ini dikuatkan kembali di akhir surah.
Misalnya terdapat pada surah Al-Hasyr. Munasabah ini terletak dari sisi kesamaan kondisi yaitu segala yang ada baik dilangit maupun dibumi menyucikan Allah sang pencipta keduanya.
Diantara kitab-kitab suci yang lain, al-Qur'an merupakan kitab yang paling sempurna. Al- Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril secara cerita- angsur. Ia diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam dan petunjuk bagi manusia. Al-Qur'an adalah sumber
segala kebenaran dan sumber inspirasi bagi siapapun.
Kitab al-Qur'an berisi berbagai macam petunjuk dan peraturan yang disyariatkan karena beberapa sebab dan hikmah yang bermacam-macam. Ayat-ayatnya diturunkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang membutuhkan. Susunan ayat-ayat dan surat-suratnya ditertibkan sesuai dengan yang terdapat di lauh mahfudh, sehingga tampak adanya kesesuaian antara ayat yang satu dengan ayat yang lain dan antar
surat satu dengan surat yang lain.
Meskipun bahasa al-Qur'an indah, namun tidak semua orang dapat dengan mudah memahami maknanya. Oleh sebab ITU lahirlah ilmu tafsir, sedangkan ilmu tafsir Sendiri Sempurna Tanpa Memahami munasabah. Untuk menelaah lebih rinci tentang munasabah, simaklah uraian berikut.
2.1 Pengertian Munasabah
Ilmu munasabah disebut juga Ilmu Tanasub Al Ayat. Ilmu Tanasub Al-Ayat adalah ilmu yang dijelaskan persesuaian antara ayat yang sebelumnya dan suatu ayat yang sebelumnya . Secara harfiyah, kata munasabah
berarti perhubungan, pertalian, pertautan, persesuaian, kecocokan dan kepantasan. Kata al-munasabah , adalah sinonim (muradif) dengan kata al-muqarabah dan almusyakalah , yang masing-masing berarti dekat dan persamaan. Secara istilah, munasabah berarti hubungan atau keterkaitan dan
keserasian antara ayat-ayat AlQur'an. Ibnu Arabi sebagaimana dikutip oleh Imam As-
Sayuti, mendefinisikan munasabah
itu kepada 'keterkaitan ayat-ayat Al-Qur'an antara sebagiannya dengan sebagian yang lain, sehingga terlihat sebagai suatu ungkapan yang rapi dan sistematis. 1
Berdasarkan kajian munasabah , ayat –ayat Al-Qur'an dianggap tidak terasing antara satu dari yang lain. Ia memiliki keterkaitan, hubungan, dan keserasian. Hubungan itu terletak antara ayat dengan ayat, antara nama surat dengan isi surat, awal surat dengan akhir surat, antara kalimat-kalimat yang terdapat dalam setiap ayat dan lain sebagainya.
Seperti diingatkan para pujangga Dan Sastrawan, di ANTARA Ciri gubahan Suatu bahasa
Yang layak dikategorikan Baik Dan Indah ialah manakala Rangkaian Susunan kata demi kata, kalimat demi kalimat, Alinea demi Alinea,
den seterusnya memiliki
keterkaitan ATAU Hubungan
demikian rupa sehinga
menggambarkan Suatu kasatuan
Yang TIDAK PERNAH terputus. Al-Qur'an
Sangat memenuhi persyaratan Yang ditetapkan para pujangga ITU, mengingat keseluruhan Al-Qur'an Yang terdiri differences 30 juz, 114 surat, hampir 88.000 kata Dan Lebih Dari 300.000 huruf, ITU seperti ditegaskan al-Qurthubi (w. 671 H) laksana Satu
surat Yang TIDAK DAPAT dipisah pisahkan. Satu Hal Yang Patut ditegaskan ialah bahwa
Tertib urutan-urutan surat dan terutama
ayat-ayat Al-Qur’an yang oleh kebanyakan ulama diyakini
bersifat tauqifi, mendorong kita untuk mengilustrasikan al-Qur’an berbentuk bundar daripada untuk
memahaminya dalam konteks persegi panjang. Dengan cara pandang seperti ini, maka akan terasa lebih mudah memahami munasabah al-Qur’an. Bukan saja dari segi kata demi kata,
bagian demi bagian dan ayat demi ayat, melainkan juga antara surat demi surat dalam mana antara surat yang satu
dengan surat yang lain benar- benar memiliki hubungan yang sangat erat.
Termasuk hubungan antara
surat an-Nas sebagai surat yang terakhir dengan surat
al-Fatihah yang ditetapkan sebagai surat pertama.2
Hubungan ANTARA surat an-Nas DENGAN surat al-Fatihah terutama
terletak PADA persesuaian ANTARA keduanya Yang sama-sama mengedepankan Sifat-Sifat ilahiah (Ketuhanan). Dalam surat al-Fatihah tersebut 4 macam sifat Allah melalui ungkapan : rabbul-'alamin, ar-rahman, ar-rahim, dan maliki yaumiddin ; sedangkan dalam surat an- Nas tersebut tiga macam sifat Allah yaitu:
rabbin-nas, malikin-nas, dan ilahin-nas . Dengan
pemahaman seperi ini juga akan mempermudah kita memahami kedudukan basmalah
yang ada dalam surat al-Fatihah dalam fungsi sebagai pemisah (fashilah)
antar surat dalam hubungan ini surat al-Fatihah dengan surat an-Nas.
2.1
Sejarah Ilmu Munasabah
Sejarah
menujukkan bahwa Kitab Al-Qur'an diturunkan selama kurang lebih 22 Tahun lebih beberapa bulan. Kitab ini berisi berbagai
macam petunjuk dan peraturan yang disyaratkan karena beberapa sebab dan
hikmah yang bermacam-macam. Ayat-ayatnya diturunkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang membutuhkan. Susunan
surat-suratya ditertibkan seperti yang terdapat
dalam
lauh mahfudh, sehingga
tampak adanya kesesuaian antara ayat yang satu dengan ayat lain. KARENA ITU Timbul Dari Cabang Ulum Al-Qur'an Yang membahas KHUSUS persesuaian-persesuaian tersebut
Yang dinamakan DENGAN
Ilmu Munasabah Al-Qur'an. 3
Orang pertama yang menulis ilmu munasabah adalah Abu Bakar
an-Naisaburi.
Kemudian setelah
An Naisaburi, disusul oleh beberapa tokoh yaitu :
a.) Abu Bakar ibn Ziyad yang mengarang kitab Al-Burhan
fi munasabati suwaril
Qur’an.
b.) Al-Biqio
yang menulis kitab Nidzmudurar
fi tanasubi ayat wasuwar
c.) Al-Suyuti yang menulis kitab
asror al Tanzil Watanasubit durar fi tana subi ayat wassuwar.
d.) M. Shodiq al Ghiman yang mengarang Jauharul Bayan fi Tanasubisuwaril Qur’an.
2.1 Macam-Macam Munasabah Al-Qur’an
Dalam Al-qur’an sekurang-kurangnya terdapat 8 macam munasabah yaitu:
1.
Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya. As-syuyuti menyimpulkan bahwa unasabah antarsatu
surat dengan surat sebelumnya berfungsi
menerangkan atau menyempurnakan ungkapan pada surat
sebelumnya.
2.
Munasabah antar nama surat dan tujuan turunnya setiap surat mempunyai
tema pembicaraan yang menonjol, dan itu
tercermin pada namanya
masing-masing.
3.
Munasabah antar bagian suatu ayat munasabah
dengan bagian suatu surat sering berbentuk korelasi Al-tadhadadh (perlawanan)
4.
Munasabah antar ayat yang letaknya
berdampingan.
5.
Munasabah antar suatu kelompok ayat dan kelompok
ayat disampingnya.
6.
Munasabah antar fasilah (pemisah)
dan isi ayat. Munasabah ini mengandung tujuan-
tujuan tertentu diantaranya yaitu tamkin (menguatkan) makna yang
terkandung dalam suatu ayat.
7.
Munasabah antar awal surat dengan akhir surat yang sama.
8.
Munasabah antar penutup
satu surat dengan
awal surat berikutnya.4
2.2 Fungsi dan Faedah
Ilmu Munasabah
a. Fungsi Ilmu Munasabah
Beberapa fungsi
ilmu Munasabah yang dikemukakan oleh beberapa ulama
:
1. Manna Al-Qathan
mendeskripsikan fungsi munasabah :
•
Menjadi alat atau bisa juga dikatakan untuk menguak kekuasaan makna dan
kemu’jizatan Al-Quran dalam segi balagahnya.
•
Munasabah dijadikan kaca mata bagi atau bisa juga dikatakan untuk melihat untaian yng teratur
dari firman Allah dan keindahan
uslub-uslub Al-Quran.
2.
Az-Zarkasi menerangkan bahwasanya fungsi
munasabah merupakan menggabungkan bagian-bagian kalimat yng lain menjadikan tampak adanya keterkaitan antara keduanya.
3. Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-Arabi mendeskripsikan fungsi Munasabah
• Mengaitkan sebagian
yang dengannya sebagian
yang lain dari Al-Quran.
• Menjadikan
tampak semisal satu kalimat dan satu susunan.
Beberapa fungsi ilmu Munasabah secara umum :
1.
Untuk menemukan arti yang tersirat dalam susunan dan urutan kalimat
kalimat, ayat- ayat,
dan surah-surah dalam Al-Quran.
2.
Untuk menjadikan bagian-bagian dalam Al-Quran saling
berhubungan sehingga tampak
menjadi satu rangkaian yang
utuh dan integral.
3. Ada ayat baru dapat dipahami apabila
melihat ayat berikutnya.
4. Untuk menjawab
kritikan orang luar (orientalis) terhadap
sistematika AlQuran.
b. Faedah Ilmu Munasabah
Dengan mempelajari munasabah terdapat
beberapa faedah antara
lain:
1.
Dapat membantah anggapan sebagian orang yang menyatakan
bahwa tema-tema Al- Qur’an kehilangan korelasi antara satu bagian ayat dengan bagian ayat yang lainnya, padahal
ternyata rangkaian ayat-ayatnya memiliki keterkaitan yang menakjubkan.
2. Dapat menolak
pandangan akan adanya
ketidakteraturan dalam penyusunan al-Qur’an.
3.
Dapat membantu untuk memudahkan
pemahaman al-Qur’an baik antara ayat dengan ayat maupun surah dengan
surah dalam al-Qur’an.5
4.
Dapat menggantikan sebab nuzulnya
apabila sebab-sebab tersebut tidak disebut dalam bentuk nyata. Hal ini dikerenakan keterpautan antara satu ayat dengan ayat dapat
menggambarkan sesuatu yang kita maksudkan
dan tidak perlu lagi mengetahui sejarah nuzulnya satu persatu.
5.
Untuk memahami keutuhan, keindahan, dan kehalusan bahasa (mutu dan tingkat balaghah al-Qur’an) serta dapat membantu
dalam memahami keutuhan makna al-Qur’an itu sendiri.
6.
Mengetahui persambungan atau
hubungan antara bagian Al- Qur’an, baik antara kalimat- kalimat atau
ayat-ayat maupun surat.
7.
Dengan ilmu munasabah akan sangat membantu
dalam menafsir- kan ayat-ayat Al- Qur’an.6
2.3 Pandangan Ulama
Tentang Ilmu Munasabah
Sebagaimana cabang ulumul quran yang
lain, ilmu munasabah juga ada pro dan kontra.
Sebagian ulama tidak mengakui eksistnsi
ilmu munasabah dengan alasan bahwa ayat alquran merupakan unit-unit yang berdiri
sendiri (mustaqillah), dan diantara ayat-ayat quran yang diletakkan berurutan didalama mushaf, banyak yang turun
dengan interval waktu yang sangat panjang,
maka bukan suatu keharusan adanya
keterkaitan antara satu ayat dengan
ayat lain (Mahmud Syaltut dan ma’ruf
ad-dualibi)
Pendapat ulama tentang keberadaan
munasabah, secara garis besar, terbagi menjadi dua kelompok, yaitu :
•
Kelompok pertama menampung dan
mengembangkan munasabah dalam menafsirkan ayat.
• Kelompok kedua tidak memperhatikan munasabah dalam menafsirkan sebuah ayat.7
6 https://text-id.123dok.com/document/ky6pl3wnq-faedah-ilmu-munasabah-ilmu-munasabat.html
7 Al Furqan:
Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir, Volume
1 Nomor 1 Juni 2018
6
Pandangan ulama yang pro terhadap
ilmu munasabah diantaranya :
·
Abu Bakar al-Nisabury beliau memiliki pandangan
selalu mempertanyakan, mengapa
ayat ini diletakkan disamping ayat ini dan apa rahasia diletakkan disamping surat ini.
·
Fakhrudin al-Razi beliau memiliki
pandangan bahwa umumnya
perbendaharaan alquran terletak
pada rangkaian tata urutan dan pertalian nya, dalam kitabnya,
mafatihul-ghaib fi-tafsiril quran(kunci keajaiban dalam menafsirkan alquran).
·
Al-Imam Badruddin Muhammad bin Abdillah Az-Zarkasyi, beliau memiliki pandangan bahwa Munasabah bersifat
rasional, terjangkau oleh akal. Berbagai
hubungan antara pembuka
surat dan penutup
surat maknanya berdasarkan pendekatan penalaran seperti sabab-musabab, illat dan ma’lul,
dan lain-lain dapat mengukur kecerdasan seseorang.8
Pandangan ulama yang kontra terhadap ilmu munasabah
diantaranya :
·
Izuddin bin Abdus-salam(577-660 H), mewakili ahli ilmu alquran
klasik, berpendapat tidak semua ayat alquran
bermunasabah.
·
Manna’al- Qaththan dan Shubhi
as-Shahih, tidak setuju pemaksaan ilmu munasabah, tidak memaksakan munasabah/korelasi/keterkaitan untuk seluruh ayat alquran, karena pandangan mereka bahwa ayat alquran
diturunkan dalam rangka menjawab berbagai pertanyaan dan kasus – kasusnya berbeda.
·
Menurut Ma’ruf Dualibi, dalam
berbagai ayat, Al-quran hanya mengungkapkan hal- hal yang bersifat prinsip (mabda) dan normatif yang bersifat
umum (kaidah). Oleh karena itu, tidak
tepat mengharuskan adanya keterkaitan antar-ayat yang bersifat tafsil. Pendapat ini ditulis dalam
kitab, Al-muwafaqat, oleh As-Syatibi.
8 Badruddin Muhammad bin Abdillah. (2006).
Al-Burhan Fi 'Ulum alQur'an. Kairo:Dar al Hadith,
7
2.4
Segi-Segi Munasabah
Al-Suyuti dan al-Zarkashi membagi munasabah dalam
beberapa segi jika di tinjau
dari sifat munasabah atau keadaan
persesuaian dan persambungannya.
Dari segi sifatnya munasabah Al – Qur’an dapat terbagi
menjadi dua macam :
1.
Zahirul Irtibathi, persesuaian yang nyata atau persesuaian dan persambungan antar bagian Al-Quran dengan yang lain
tampak jelas dan kuat karena kaitan antara ayat satu dengan ayat yang lain erat sekali hingga yang satu tidak bisa sempurna
jika dipisahkan dengan ayat lain.
Menurut al-Zarkashi dalam Al-Burhan fi ulum al-Quran,
Zahirul Irtibathi (hubungan yang jelas)
meliputi bentuk-bentuk ta’kid, tafsir,
i’tiradh, dan tashdid.
2.
Khafi Irtibathi, (persesuaian yang
tidak jelas atau samarnya persesuaian antar ayat yang satu dengan ayat yang lain), yang lebih menitikberatkan
hubungan ayat dari segi maknawi.9
Sebagaimana dijelaskan Shalahuddin Hamid dalam Studi Ulumul
Quran, sehingga tidak nampak adanya
hubungan antara keduanya bahkan seolah-olah masing-masing ayat itu berdiri
sendiri.
Munasabah Al-Quran Dilihat
dari segi Materinya terbagi menjadi dua macam :
1.
Munasabah Antar Ayat meliputi :
•
Munasabah fawatihur suwar
wa khawatimuha.
•
Munasabah antara fawatihus suwar dengan kandungan
surat. Munasabah dalam bentuk kedua ini adalah pembukaan Al-Quran
dengan huruf muqatha’ah dan kekhususan dari setiap
huruf terhadap surat yang dibuka dengannya.
9 http://ilmubermanfaatkali.blogspot.com/2016/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html?m=1
8
•
Munasabah antara ayat-ayat Al-Quran
dalam satu surat Bentuk munasabah seperti ini adalah hubungan keterkaitan makna antara satu ayat dengan ayat yang datang sesudahnya atau sebelum ayat
tersebut.
2.
Munasabah antar surat. Terdiri
dari munasabah antar surat yang saling berdekatan.
Hubungan antar ayat dengan ayat, meliputi:
i.
Hubungan antara kalimat dengan kalimat dalam ayat.
Pada umumnya, tulisan yang menjelaskan Munasabah antara
ayat dengan ayat ini tidak ada perbedaan yang mendasar. Kalaupun
ada perbedaan tersebut
hanya merupakan sedikit variasi redaksi saja yang
ditonjolkannya. Menurut al-Suyuthi, Munasabah satu kalimat dengan kalimat berikutnya dalam ayat, adakalanya melalui
huruf 'athaf dan adakalanya tanpa melalui
huruf 'athaf.10
Munasabah antara satu kalimat dengankalimat lain dalam satu
ayat yang dihubungkan dengan huruf 'athaf biasanya
mengandung beberapa unsur (bentuk), antara lain:
•
Unsur Tadlad (al-Mudladhah), yakni berlawanan atau bertolak belakang
antarasuatu kata dengan kata lainnya.
sebagai contoh penyebutan kata rahmat setelahkata adzab. kata al-raghbah setelah
kata al-rahbah, menyebut janji dan ancaman setelah menyebutkan tekanan hukumnya.
•
Unsur Istidhrad, yaitu
pembahasannya pindah ke kata lain yang ada hubungannya atau penjelasan
selanjutnya.
•
Unsur Takhalus, yaitu melepaskan penggunaan kata yang satu dan berganti dengan
kata yang lain, tetapi masih berhubungan.
ii.
Hubungan Ayat Dengan
Ayat Dalam Satu Surat
10 http://piuii17.blogspot.com/2017/11/studi-al-quran-dan-hadits-munasabah.html?m=1
Munasabah model ini kelihatan
dengan jelas pada surat-surat pendek yang mengandung
satu tema pokok. Surat al-Ikhlas bisa dijadikan contoh adanya Munasabah
antara ayat- ayat yang ada pada satu surat itu. Masing-masing ayat menguatkan tema pokoknya yaitu
tentang keesaan Tuhan.11
iii.
Hubungan Penutup (fasilah)
dan Kandungan Ayat
Tempat Munasabah yang saling menguatkan terletak pada pokok
pembicaraan dengan penutup ayat. Di dalam susunan kandungan
penutup ayat dengan apa yang mirip denganya. Hubungan seperti ini terdiri
dari empat macam: al-Tamkin, alTashdir, al- Tausyikh, dan al-Ighal.
•
Unsur al-Tamkin, artinya memperkokoh atau mempertegas pernyataan. Arti fashilah disini
berkaitan langsung dengan apa yang dimaksud ayat itu. Bila tidak ada hubungan ini ( al-Tamkin) kandungan ayat
itu tidak akan memberi arti yang lengkap, dan boleh jadi merugikan.
•
Unsur al-Ighal, yaitu sebagai
penjelasan tambahan yang sifatnya mempertajam
makna ayat. Tanpa fashilahpun sebenarnya makna ayat sudah dapat
dipahami.
•
Al-Tashdir, yakni kalimat yang akan dimuat sudah ada pada permulaan, pertengahan, atau akhir kalimat
atau ayat.
•
Al -Tausyikh, yaitu kandungan
fashilah sudah tersirat dalam rangkaian kalimat sebelumnya dalam suatu ayat. Jika kalimat itu menunjukkan maksud
fashilah ayat, dengan demikian
fashilah ayat dikemukakan sebelum kata tersebut disebutkan. Disini ada perbedaan antara al-Tashdir dengan al-Tausyikh.Perbedaannya terletak
pada bentuknya. Kalau al-Tashdir bentuknya
lafdziyah, sedang al-Tausyikh adalah maknawiyah.
11 https://media.neliti.com/media/publications/282920-munasabah-dalam-al-quran-93901f31.
Hubungan antar surat dengan surat
Menurut Hasbi Ash Shiddeqi literatur yang membahas dan
menjelaskan hubungan (Munasabah)
surat dengan surat nampaknya masih terbatas. Hal tersebut disebabkan sangat sedikitnya mufasir yang
terjun untuk menjelaskan aspek Munasabah jenis kedua
ini. Hubungan surat dengan surat oleh
para ulama diperinci sebagai berikut:
1)
Hubungan Awal Uraian
dengan Akhir Uraian Surat
Model hubungan (Munasabah) ini, al-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan
banyak memberikan contoh,
antara lain misalnya dijumpai pada surat al-Qashas. Permulaan surat tersebut menjelaskan tentang
perjuangan Nabi Musa yang berhadapan dengan razim Fir'aun.
Atas perintah Allah dan pertolongan-Nya Musa berhasil keluar dari Mesir.
Di akhir surat Allah menyampaikan kabar gembira kepada Nabi Muhamad
yang menghadapi tekanan dari kaumnya dan Allah menjanjikan akan mengembalikannya ke Mekkah
lagi. Kemudian jika di awal surat dikatakan bahwa Musa tidak akan menolong orang yang berbuat
dosa, maka di akhir surat Muhammad dilarang
menolong orang orang
kafir.
2)
Hubungan Nama Surat dengan Tujuan
Turunnya
Subhi Shalih ketika membicarakan asbab al-Nuzul, menyatakan
bahwa segala sesuatu ada sebab dan
tujuannya, begitu juga halnya dengan nama-nama surat dalam Al Qur’an tentu mempunyai maksud dan tujuan.Sejalan dengan pendapat diatas,
al-Suyuthi berpendapat menurutnya nama-nama yang digunakan
oleh surat-surat Al Qur’an memiliki kaitan dengan pembahasan yang ada pada surat itu.12 Oleh karena itu, semakin
banyak nama yang digunakan atau
diberikan pada satu surat, semakain menunjukkan kemulyaan surat itu.
al-Fatihah, surat ini dinamakan demikiankarena kedudukannya sebagai pembuka
(mukaddimah) sehingga posisinya ditempatkandi awal Al Qur’an .
Sebagaimana yang kita lihat dari namana, al-Fatihah (yang membuka)
atau Umm al-Kitab (Induk Kitab).
Dengan demikian , al-Fatihah harus memuat, meskipun secara
tersirat, semua bagian Al Qur’an.
3)
Hubungan antara satu Surat dengan
Surat Sebelumnya
Urutan surat-surat di dalam Al Qur’an menurut al-Suyuthi
mengandung hikmah karena surat yang
datang kemudian akan menjelaskan berbagai hal yang disebut secara global pada surat sebelumnya. Contohnya, Surah Al – Baqoroh
memberikan berbagai perincian
dan penjelasan dari keterangan global
yang ada pada surat al-Fatihah.
Hubungan antara satu surat dengan surat sebelumnya, satu
surat berfungsi menjelaskan surah sebelumnya, misalnya juga terlihat
di dalam surat,
al-Fatihah [1] : 6 disebutkan
ﺇﻫﺪﻧﺎ ﺍﻟﺼﺮﺍﻁ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ “tunjukilah kami ke jalan
yang lurus".Lalu dijelaskan di dalam surat al-Baqarah, bahwa jalan yang
lurus itu ialah petunjuk Al Qur’an ,
Selain Munasabah antara ayat yang terdapat dalam dua surat
yang berdekatan, terdapat juga Munasabah, antara satu surat dengan surat berikutnya karena kesamaan tema sentral
yang dikandung dalam masing-masing surat. Contohnya Surah Al Fatihah. Al Baqoroh
dan Ali Imron, ketiganya memiliki
memiliki tema sentral
yang saling mendukung, dengan rincian menurut Al Suyuti :
•
Al-Fatihah adalah ikrar ketuhanan (rububiyyah).
•
al-Baqarah mengandung kaidah-kaidah agama.
12
•
Sedangkan Ali'Imran menyempurnakan maksud yang terkandung dalam pokok- pokok
agama itu.
4)
Munasabah Penutup Surat
Terdahulu dengan Awal Surat Berikutnya
Munasabah semacam
ini menurut al-Suyuthi (w. 910 H), terkadang tampak
jelas, dan terkadang tampak tidak jelas. Selanjutnya al-Suyuthi
dalam al-Itqan banyak memberikan contoh tentang Munasabah antara awal uraian
dengan akhir uraian
suatu surat.
Contoh pada surat al-Mukminun, surat ini dimulai dengan
pernyataan: Qad aflaha al- mukminun, yaitu pernyataan hipotetik
bahwa orang mukmin akan mendapat
kemenangan, dan mereka pasti menang. Di akhir surat, diakhiri dengan
pernyataan La Yufli al-Kafirun, sebagai
isyarat bahwa orang kafir tidak akan mendapat kemenangan. Jelaslah bahwa dua pernyataan ini
melukiskan perlawanan antara dua situasi, yaitu dua akhir dari dua hal yang bertolak belakang.13
13 https://core.ac.uk/download/pdf/327228299.pdf
13
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian-uraian di atas tentang
Munasabah, nampak bahwa pembicaraan mengenai
persoalan tersebut berpusat
pada susunan dan urutan kalimat,
ayat, dan surat dalam mushaf. Ilmu ini muncul karena ada
sebuah pendapat yang mengatakan bahwa susunan
ayat dan surat dalam Al Qur’an adalah tauqifi, yakni atas petunjuk Allah
melalui Rasul- Nya. Keyakinan
ini menumbuhkan upaya-upaya untuk menyingkaprahasia di balik susunan tersebut. Dari sinilah banyak
ulama yang menafsirkan ayatayat Al Qur’an dalam tafsirnya melalui pendekatan ini, baik yang secara khusus maupun
sebagiannya. Sejarah menujukkan bahwa
Kitab Al-Qur’an diturunkan selama kurang lebih 22
Tahun lebih beberapa
bulan. Kitab ini berisi berbagai
macam petunjuk dan peraturan yang diisyaratkan karena beberapa sebab dan
hikmah yang bermacam-macam. Ayat-ayatnya diturunkan
sesuai dengan situasi dan kondisi yang membutuhkan. Susunan
surat-suratya ditertibkan seperti yang terdapat dalam
lauh mahfudh, sehingga
tampak adanya persesuaian antara ayat yang satu dengan ayat lain.
Mengenai banyaknya pandangan ulama,
tidak setuju pemaksaan ilmu munasabah, tidak
memaksakan munasabah/korelasi/keterkaitan untuk seluruh ayat alquran, karena pandangan mereka bahwa ayat alquran
diturunkan dalam rangka menjawab berbagai pertanyaan
dan kasus – kasusnya berbeda. Menurut Hasbi Ash Shiddeqi literatur yang membahas
dan menjelaskan hubungan
(Munasabah) surat dengan surat nampaknya
masih terbatas. Hal tersebut disebabkan sangat sedikitnya mufasir yang
terjun untuk menjelaskan aspek Munasabah.
DAFTAR PUSTAKA
https://tafsiralquran.id/mengenal-macam-macam-pembagian-munasabah-al-quran/ Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran
dan Tafsir, Volume
1 Nomor 1 Juni
2018
Badruddin Muhammad
bin Abdillah. (2006).
Al-Burhan Fi 'Ulum alQur'an. Kairo:Dar al Hadith, Ejournal.iai-tabah.ac.id, Teori Munasabah dan Aplikasinya Dalam Al
– Qur’an
Sumber : http://piuii17.blogspot.com/2017/11/studi-al-quran-dan-hadits-munasabah.html?m=1
https://pengertiandefinisi-kata.blogspot.com/2017/04/pengertian-fungsi-dan-manfaat.html?m=1
https://www.kompasiana.com/eganurfadillah5648/5bf5744c677ffb592f6c0af7/munasabah-al- qur-an?page=2
http://ilmubermanfaatkali.blogspot.com/2016/05/normal-0-false-false-false-en-us-x- none.html?m=1
https://text-id.123dok.com/document/ky6pl3wnq-faedah-ilmu-munasabah-ilmu-munasabat.html
https://core.ac.uk/download/pdf/3272
MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO
MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO Oleh : Qonita Salma Safira (21311103) A. MA'RIFAT 1. DEFINISI MA’RIFAT Secara bahasa b...
-
MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO Oleh : Qonita Salma Safira (21311103) A. MA'RIFAT 1. DEFINISI MA’RIFAT Secara bahasa b...
-
MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAUBAT DAN SABAR Oleh : Qonita Salma Safira (213111036) A. MAQAMAT DALAM SABAR Maqam adalah tingkatan seseorang hamb...
-
MAQAMAT DALAM TASAWUF : FAQIR DAN ZUHUD Oleh : Qonita Salma Safira (213111036) 1. DEFINISI FAQIR Secara harfiah fakir biasanya diartikan seb...