Monday, September 19, 2022

PERKEMBANGAN ILMU AKHLAQ DAN TASAWUF ZAMAN MEKKAH, MADINAH DAN MASA KEEMASAN ISLAM

PERKEMBANGAN ILMU AKHLAQ DAN TASAWUF ZAMAN MEKKAH, MADINAH DAN MASA KEEMASAN ISLAM

Oleh : Qonita Salma Safira (213111036) PAI 3A


1. Akhlak Zaman Mekkah

    Pembangunan tarbiah Islamiah paling dasar di Mekah adalah Tauhid-Akidah. Tarbiah Tauhid-Akidah yang dipikul di atas bahu Rasulullah s.a.w pada ketika itu ialah untuk umatnya semata-mata. Tidak dapat disangkal lagi, skop tarbiah yang diberikan oleh Rasulullah s.a.w sama ada di Mekah mahupun Madinah ialah untuk melahirkan insan holistik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor agar menggapai kesejahteraan akhirat dan begitu juga di dunia. Skop tarbiah yang telah ditentukan oleh Rasulullah s.a.w ini menjadi warisan turun temurun sejak zaman para sahabat sehingga lahirlah pelbagai ilmu teorikal dan praktikal seperti pengumpulan naskhah al-Quran dan sunan Nabawiah yang berjaya memberikan pengertian baharu dalam dunia keilmuan Islam. Implikasi skop dan silibus yang dibangunkan dalam diri mereka juga berjaya memantapkan ilmu akidah dan terserlah perbuatan serta tingkah laku yang baik dalam kehidupan seharian. Makkah merupakan kota suci bagi umat Islam, tempat berdirinya Ka‟bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim beserta anaknya Nabi Ismail. Selain itu sebagai tempat umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima. Melihat kondisi geografis Makkah yang turut memberi konstribusi terhadap karakter masyarakat yang ada, serta kawasan yang dikelilingi padang pasir dalam kehidupan ekonomi bertumpu pada perdagangan. Sebelum Islam datang, bangsa Arab telah memiliki keberagaman dalam Masyarakat, dapat dilihat mereka menganut berbagai macam agama, adat istiadat, akhlak dan peraturan-peraturan hidup. Ketika agama Islam datang, agama baru ini pun membawa pembaruan di bidang akhlak, hukum, dan peraturanperaturan tentang hidup. Dengan demikian, bertemulah agama Islam dengan agama-agama jahiliah atau peraturanperaturan Islam dengan peraturan-peraturan bangsa Arab sebelum Islam. Kemudian, kedua paham dan kepercayaan itu salipendidikan di Makkah. Visi dari pendidikan di Makkah adalah “unggul dalam bidang akidah dan akhlak sesuai dengan nilainilai Islam”. Tujuan pendidikan di Makkah ini tidak lepas dari keadaan masyarakat yang pada saat itu belum mengenal agama yang hakiki. Karena keberagaman agama yang ada di masyarakat Arab, seperti menganut agama nenek moyangnya, menyembah banyak Tuhan yang merupakan buatan tangan manusia sendiri. Selain itu mereka masih berada dalam keesatan yang nyata (fi dlalal a-mubin), belum mengenal kebenaran (jahiliah), masih suka berperang (a’daan), membuat kerusakan di muka bumi (yufsiduna fi al-ardl), dan belum mengenal agama (fi dzulumat). Kurikulum pendidikan di Makkah berisi materi pengajaran yang berkaitan dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami umat Islam pada saat itu, yaitu berisi tentang pelajaran akidah dan akhlak, pokok-pokok agama, ibadah, dan baca Al-Qur‟an. Pertama Rasulullah memberikan pendidikan akidah dengan cara mengajak umatnya untuk membaca, memperhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Kedua, Rasulullah mengajarkan akhlak mulia yang bukan hanya sekedar menunjukkan kesalehan individual dengan mengerjakan serangkaian ibadah dan bersikap ramah dan tawadhu, melainkan juga akhlak mulia dalam praktek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Ketiga, pada masa pembinaan pendidikan agama Islam di Makkah, Rasulullah juga mengajarkan AlQur‟an karena Al-Quran merupakan inti sari dan sumber pokok ajaran Islam.Melalui materi atau kurikulum yang diberikan oleh Rasulullah di kota Makkah terlihat jelas bahwa tujuan pendidikan Islam yang diberikan di Makkah lebih mendekati pada perbaikan aqidah, akhlak, dan ibadah. Yang berbenturan dan bertarung dalam waktu yang lama. Pendidikan yang terjadi di Makkah tidak lepas dari latar belakang masyarakat arab, yang mana tingkat keimanan dan ketauhidan mereka sangat lemah. Oleh karena itu Rasulullah membuat visi, misi dan tujuan sebagai pegangan dalam melaksanakan pendidikan di Makkah. Visi dari pendidikan di Makkah adalah “unggul dalam bidang akidah dan akhlak sesuai dengan nilainilai Islam”. Tujuan pendidikan di Makkah ini tidak lepas dari keadaan masyarakat yang pada saat itu belum mengenal agama yang hakiki. Karena keberagaman agama yang ada di masyarakat Arab, seperti menganut agama nenek moyangnya, menyembah banyak Tuhan yang merupakan buatan tangan manusia sendiri. Selain itu mereka masih berada dalam keesatan yang nyata (fi dlalal a-mubin), belum mengenal kebenaran (jahiliah), masih suka berperang (a’daan), membuat kerusakan di muka bumi (yufsiduna fi al-ardl), dan belum mengenal agama (fi dzulumat). Kurikulum pendidikan di Makkah berisi materi pengajaran yang berkaitan dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami umat Islam pada saat itu, yaitu berisi tentang pelajaran akidah dan akhlak, pokok-pokok agama, ibadah, dan baca Al-Qur‟an. Pertama Rasulullah memberikan pendidikan akidah dengan cara mengajak umatnya untuk membaca, memperhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Kedua, Rasulullah mengajarkan akhlak mulia yang bukan hanya sekedar menunjukkan kesalehan individual dengan mengerjakan serangkaian ibadah dan bersikap ramah dan tawadhu, melainkan juga akhlak mulia dalam praktek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Ketiga, pada masa pembinaan pendidikan agama Islam di Makkah, Rasulullah juga mengajarkan AlQur‟an karena Al-Quran merupakan inti sari dan sumber pokok ajaran Islam.Melalui materi atau kurikulum yang diberikan oleh Rasulullah di kota Makkah terlihat jelas bahwa tujuan pendidikan Islam yang diberikan di Makkah lebih mendekati pada perbaikan aqidah, akhlak, dan ibadah. 

2. Tasawuf Zaman Mekkah 

    Keberadaan nabi Muhammad di Mekah, di tengah-tengah masyarakat yang masih jahiliyah, suatu kondisi mayoritas masyarakat yang dari segi teknologi masih menganut paganisme. Penghambaan mereka terhadap benda-benda mati berpengaruh pada kondisi sosio-kultural masyarakat Mekkah. Peradaban mereka masih tergolong rendah, perbudakan masih berlaku, dan ketimpangan sosial juga kian besar. Ini jelas merupakan tantangan dakwah yang cukup berat. Selama 13 tahun, Nabi Muhammad SAW. bersosialisasi di Mekah dengan menawarkan prinsip teologi la ilaha illallah, tiada Tuhan selain Allah. Di samping secara teologis bermakna penegasan tidak ada Tuhan yang absolut kecuali Allah, pernyataan keimanan ini juga memberikan dampak sosial politik, yaitu penolakan terhadap berbagai bentuk perbudakan, penjajahan, dan intimidasi yang melanggar kebebasan dan hak asasi manusia. Soalnya, dalam pandangan Islam, manusia dibangun atas dasar kemanusiaan, dan persamaan derajat.3 Agama penduduk Arab waktu itu terkenal dengan ritual penyembahan terhadap berhala atau paganisme. Mereka menyembah berhala pada mulanya hanya ketika orangorang Arab tersebut hendak melakukan perjalanan keluar kota Mekah. Mereka selalu membawa batu yang diambil dari sekitar Ka’bah. Mereka mensucikan batu tersebut dan menyembahnya di mana mereka berada mereka membuat patung untuk disembah dan zaman tersebut adalah zaman jahiliyah hingga menjelang lahir Rasulullah. Islam lahir di kalangan bangsa yang keras kepala, dan senantiasa menyembah berhala. Kegiatan dakwah dilakukan oleh rasulullah saw., hingga beberapa keluarganya mengikuti ajakan beliau seperti Abu Bakr yang diikuti oleh teman-teman Abu Bakar lainnya seperti Usman Ibn ‘Affan, ‘Abdurrahman Ibn “Auf, Talhah Ibn ‘Ubaidillah, Sa’ad Ibn Abi Waqqas dan masih banyak lagi yang lainnya. Usaha dakwah itu mendapat tantangan dari kaum Quraiys mekah hingga menyebabkan Rasulullah saw., beserta sahabat-sahabatnya melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah) Rasulullah belum melakukan gebrakan struktur masyarakat Islam yang teratur hingga beliau hijrah ke Yatsrib (Madinah). Namun hijrah ini juga menyebabkan gangguan yang semakin hebat terhadap Rasulullah saw. Dan para sahabatnya. Nabi tidak berputus asa atas ganguan tersebut. Dia tetap konsisten dalam mendakwahkan ajaran Islam di kalangan orang Arab. Kaum Quraisy memboikot kaum Muslimin dengan menggantungkan piagam di atas Ka’bah agar tidak berhubungan dengan kaum Muslimin. Kondisi ini tetap tidak menurunkan semangat dakwah dijalankan dengan penuh keuletan dan kesabaran.

3. Akhlak Zaman Madinah 

    Dasar pembangunan tarbiah Islamiah di Madinah boleh dikatakan menjurus kepada sosialisasi dan politik. Menjadi kesinambungan antara ilmu tauhid di Mekah, iaitu pembangunan dalam ilmu kemasyarakatan dan politik supaya terus dijadikan landasan utama. Ini merupakan hasil penerapan ajaran tauhid tersebut.hidupanf Zaman Madinah. Kedatangan Rasulullah bersama kaum muslimin Makkah disambut oleh penduduk Madinah dengan gembira dan penuh rasa persaudaraan. Maka Islam mendapat lingkungan baru yang bebas dari ancaman para penguasa Quraisy Makkah, yang mana ketika di Madinah Rasulullah membuat perjanjian yang dikenal dengan piagam Madinahlm. Dengan adanya piagam tersebut terwujudlah keadaan masyarakat yang tenang, harmonis dan damai. Mengingat masyarakat Madinah sangat antusias untuk menerima dan memahami pembelajaran pendidikan Islam yang dibawa oleh Rasulullah, maka proses pendidikan Islam relatif tidak mengalami kendala yang signifikan. Perbandingan masyarakat Makkah dengan masyarakat Madinah cukup signifikan, masyarakat Makkah lebih dikenal dengan kebrutalan, sedangkan masyarakat Madinah lebih memiliki karakter pencinta kedamaian antar sesama. Latar belakang ini pula yang membedakan visi, misi, tujuan serta materi atau pendidikan Islam yang diberikan oleh Rasul di Makkah dengan di Madinah. Visi dari pendidikan di Madinah adalah “unggul dalam bidang keagamaan, moral, sosial ekonomi, dan kemasyarakatan, serta penerapannya dalam kehidupan”. Sejalan dengan visi tersebut, maka pendidikan yang berlangsung di Madinah memiliki misi sebagai berikut: a. Memberikan bimbingan kepada kaum Muslimin menuju jalan yang diridhai Tuhan. 4 Abdullah.2019. Dinamika Islam di Arab Saudi. Jurnal Ilmiah AL-Jauhari (JIb. Mendorong kaum muslimin untuk berjihad di jalan Allah. c. Memberikan didikan akhlak yang sesuai dengan keadaan mereka dalam bermacam-macam situasi (kalah, menang, bahagia, sengsara, aman dan takut). d. Mengajak kelompok di luar Islam (Yahudi dan Nasrani) agar mematuhi dan menjalankan agamanya dengan saleh, sehingga mereka dapat hidup tertib dan berdampingan dengan umat Islam. e. Menyesuaikan didikan dan dakwah dengan keadaan masyarakat saat itu. Melihat visi di Madinah maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan yang diselenggarakan di Madinah adalah untuk membentuk masyarakat yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang besar dalam mewujudkan cita-cita Islami, yakni mewujudkan masyarakat yang diridhai Allah SWT dengan cara menjalankan syariat Islam seutuhnya. Atas dasar tujuan ini, maka pendidikan Islam berperan mewujudkan sistem dan tatanan kehidupan masyarakat yang bersendikan ajaran dan nilai-nilai Islam sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah , yang dalam pelaksanaanya disesuaikan dengan situasi kondisi.

4. Tasawuf zaman Maddinah Aliran Madinah. 

    Sejak masa permulaan Islam, di Madinah sudah terlihat kelompok-kelompok asketis yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menempatkan Rasulullah sebagai idola kezuhudan mereka. Ciri yang paling utama di aliran ini adalah kekuatan dan kekhusyu’an beribadah kepada Allah, konsekuen serta konsisten dalam sikap walaupun datang berbagai godaan. Bagi mereka yang terpenting bagi mereka adalah mendapatkan diri kepada Allah serta menjauhkan diri dari segala hal yang dapat mengurangi kekhusyu’an beribadah kepada Allah. Tokohnya yang terkenal diantaranya adalah Salman Al-Farisi dan Abdullah Ibnu Mas’ud. Rasulullah saw. Bersama Abu Bakr, dipandu oleh ‘Abdullah Ibn ‘Uraiqit menuju Madinah (Yatsrib). Kaum Quraisy mekah merasa khawatir atas hijrah Rasulullah saw. Kekhawatiran ini mendorong keinginan kaum Quraisy untuk melakukan tindakan keji, yakni keinginan untuk membunuh Rasulullah saw. Dengan perjuangan Rasulullah saw. Akhirnya, beliau sampai di Yatsrib(Madinah) pada hari juma’at, 12 Rabiulawal tahun 1 Hijriyah bertepatan tanggal 27 September 622 Miladiyah dan disambut oleh penduduk Yatsrib dengan suka cita. Sambutan hangat penduduk Yatsrib dibalas oleh Rasulullah saw. Dengan perlakuan sangat bijaksana. Rasulullah saw. Mendirikan masjid di depan rumahnya Abu Wahab tanah dibeli dari dua anak yatim yang merupakan masjid pertama yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. Untuk dibangun masjid yang mengarah ke Baitul Maqdis dan diberi nama Masjid Nabawi. Di madinah, Rasulullah saw. Membangun masyarakat Islam. Rasulullah saw. Meletakkan dasar-dasar Islam dengan pembangunan masjid untuk tempat berkumpul dan bertemu di samping untuk beribadah. Masjid tersebut digunakan juga untuk mengadili perkara, jual beli dan lain-lain. Mesjid ini berperan besar mempersatukan umat Islam yang terdiri dari berbagai suku, multi fungsi. Selain membangun mesjid, Rasulullah saw. Juga membuat perjanjian (Piagam Madinah) yangisinya, yaitu mempersaudarakan kaum Ansar dan kaum Muhajirin. Dasar berikut Rasulullah saw. Membuat perjanjian untuk saling membantu antara kaum Muslimin dan bukan Muslimin. Dasar berikut diletakkan landasan politik, ekonomi dan kemasyarakatan bagi negeri Madinah. Prinsip keadilan, persamaan derajat antara manusia adalah dasar politik yang ditegakkan oleh Rasulullah saw. Mengandung 40 pasal inilah yang disebut Piagam Madinah oleh bangsa-bangsa merumuskan “civil society” diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Masyarakat Madani”. 

5. Akhlak masa Keemasan Islam (661 M – 1258 M) 

    Pendidikan Islam adalah kekayaan tradisi jenial yang terus berkembang secara dinamis melalui dialektika kontinu antara pewarisan dengan inovasi dalam bingkai masa keemasan masa lalu dan hegemoni tradisi Barat beserta plus-minusnya telah mau tidak mau menjadi inherent dan baagian dari realitas konkret pendidikan Islam masa kini, bahkan mungkin di masa mendatang, jika umat Islam tidak arief dalam memilah dan memilih antara westernisasi dan modernisasi. Dengan demikian, tradisi masa lalu masih terus “Hidup” hingga kini dalam alam kesadaran umat yang perlu terus disikapi secara apresiatif-kritis.Realitas keilmuan dalam Islam bemuara pada produk pemikirannya, baik itu pendidikan, kalam, tasawuf, dan fiqih yang merupakan khazanah dari ulum Al-Quran dan ulum Al-Hadist. Dunia Muslim mengalami suatu krisis intelektual stagnan yang akut, yang dimotori dengan adanya stigma tertutupnya pintu ijtihad, pertentangan nilai-nilai yang semestinya itu menjadi bahagian yang mutlak, menjadi relatif. Hal inilah yang membawa pengaruh besar terhadap kerangka bangunan teori-teori yang baku dan jitu, tetapi disisi lain dalam hal-hal yang aplikatif dan praksis dalam metodologi pendidikan Islam terjadi kesenjangan yang justru menjadi tantangan dan pekerjaan rumah baru bagi umat Islam disinilah umat Islam dituntut untuk selalu berfikir, bekerja dengan upaya yang sungguhsungguh berkreatifitas dan berkolaborasi dengan tantangan-tantangan yang dihadapi sekarang bahkan di masa yang akan datang sekalipun, umat dituntut untuk selalu siap menghadapi tantangan itu dengan berbagai langkah antisipasif, sehingga tidak pada tempatnya untuk cengeng, apalagi masa bodoh terhadap keadaan, bahkan menyerah kalah, terhadap situasi tersebut. Hal yang demikian bukanlah ciri-ciri umat Islam mempunyai adagium yang selalu menjadi pegangan mereka yakni: al-Muhafadzah ‘ala alqadim al-shalih wa al-akhzu bil al-jadid Al-ashlah yang maksudnya : menjaga nilai-nilai tradisi masa lalu yang baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Metode yang dianggap baru itu, disebut dengan epistemologi burhani yang merupakan kreasi aplikatif antisipatif dari dua penalaran terdahulu yakni epistemologi bayani, dan epistemologi irfani. Disinilah umat Islam dituntut untuk selalu berfikir, bekerja dengan upaya yang sungguhsungguh, berkreatifitas dan berkolaborasi dengan tantangan-tantangan yang dihadapi sekarang bahkan di masa yang akan datang sekalipun, umat dituntut untuk selalu siap menghadapi tantangan itu dengan berbagai langkah antisipasif, sehingga tidak pada tempatnya untuk cengeng, apalagi masa bodoh terhadap keadaan, bahkan menyerah kalah, terhadap situasi tersebut. Hal yang demikian bukanlah ciri-ciri umat Islam mempunyai adagium yang selalu menjadi pegangan mereka yakni: al-Muhafadzah ‘ala alqadim al-shalih wa al-akhzu bil al-jadid Al-ashlah yang maksudnya : menjaga nilai-nilai tradisi masa lalu yang baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Metode yang dianggap baru itu, disebut dengan epistemologi Burhani yang merupakan kreasi aplikatif antisipatif dari dua penalaran terdahulu yakni epistemologi bayani, dan epistemologi irfani. 

Untuk penjelasan lebih jauh tentang ketiga epistemologi di atas, akan saya rangkai sebagai berikut di bawah ini : 

1. Epistemologi Bayani Munculnya periode tadwin (kodifikasi massif keilmuan) disinyalir sebagai babak baru transformasi episteme bayan dari wacana kebahasan menuju wacana diskursif. Epistemologi bayani muncul bukan sebagai entitas budaya yang historis melainkan ia memiliki akar kesejahteraannya yang panjang dalam pelataran budaya dan tradisi pemikiran Arab. Sebagaimana dimaklumi, bangsa Arab sangat mengagungkan bahasanya, terlebih lagi setelah bahasa Arab diyakini sebagai identitas kultur dan bahasa wahyu Tuhan. Berdasarkan hal ini, kiranya cukup beralasan jika determinan historis awal-mula peradaban Islam adalah sinergi bahasa dan agama. 

2. Epistemologi ‘Irfani Salah satu determinan historis budaya dan tradisi pemikiran ArabIslam adalah “warisan klasik”.Dalam kontek keilmuan, produk determinan historis ini biasa dikenal dengan ulum al-Awail (warisan keilmuan generasi terdahulu) Kedatangan Islam memang telah membawa perubahan mendasar terhadap struktur nalar Arab, yakni dengan lahirnya nalar baru, “raionalitaskeagamaan Arab.” Episte “irfani inilah yang selaras dengan ilmu tasawuf, karena terma ini populartas dikalangan sufi untyk menunjukkan arti “pengetahuan yang dihujamkan ke lubuk hati melalui cara kasyf (penyingkapan mata-batin) atau ilham”. Para penganut nalar gnostik, baik dari kalangan sufi maupun Syi’ah Batiniyyah, mengklaim bahwa pengetahuan yang mereka miliki (atau yang dimiliki para Imam yang telah mencapai maqam wiliyyah) sebagai bentuk ilham atau iluminasi setelah bersatu dengan daya-daya samawi yang tersembunyi. Jika diruntut ke belakang maka akan didapati bahwa pengetahuan itu ada di dapat secara indrawi, empiris, fenomenologis, dan transenden. Nah hal yang terakhir ini melibatkan peran Tuhan yang menyinari cahayaNya kepada umat manusia bisa secara subjektif personal, maupun kolektif seperti yang dipahami oleh para Imam baik sunny maupun syi’i batiny. 

3. Epistemologi Burhani Dalam khazanah kosa kata bahasa Arab, kata al-burhan secara epistemologis berarti argumen yang jelas. Secara fundamental setidaknya terdapat tiga prinsip penting yang melandasi konstruksi epistemologi burhani, yaitu; (1) rasionalisme (al-aqlaniyah), (2) kausalitas (as-sababiyah), dan(3) essensialisme (al-mahiyah). Dalam potret perjalanan sejarah, sistem epistemik burhani banyak dikembangkan oleh kalangan filsuf dan ilmuwan muslim semisal al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusydi. Munculnya sistemepistemik ini terkait dengan pengaruh budaya Yunani yang merembes ke dunia Islam.9 (Peran Khalifah Harun Al-Rasyid Dalam Pendidikan Islam) Peran Khalifah Harun al-Rasyid dalam Pendidikan Islam yaitu: pada masa Harun al-Rasyid bahasa dan sastra mengalami kemajuan pesat dibandingkan bidang lain, gairah intelektual bersebaran di seluruh penjuru Baghdad atau wilayah kekuasaan Harun alRasyid, serta pada masanya Baghdad menjadi kiblat ilmu pengetahuan bagi orang Barat. Secara umum dapat dijabarkan sebagai berikut: 

Pertama, Perpustakaan Khizanah alHikmah yang dikembangkan Harun al-Rasyid menjadi tempat penerjemahan buku-buku asing ke dalam Bahasa Arab, menjadikan Baghdad kota yang disinari cahaya keilmuan dan ladang ilmu, bahkan mampu mengalahkan Eropa yang pada saat itu masih diselimuti kegelapan. 

Kedua, Memanfaatkan kekayaan negara yang melimpah untuk keperluan pendidikan, sosial, rumah sakit, serta pendirian farmasi, sehingga pada masa Harun alRasyid terdapat 800 orang dokter yang pada masa itu merupakan pencapaian yang luar biasa. 

Ketiga, Hubungan kerjasama yang baik dengan negara-negara maju seperti India, Bizantium dan sebagainya. Keempat, Mengembangkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kala itu dan sesuai dengan kondisi sosialnya. 

Kelima, Menjamin kesejahteraan para guru dengan gaji yang pantas. Keenam, Menyesuaikan kurikulum pada tiap jenjang pendidikan. 

6. Tasawuf Masa Keemasan Islam (661 M – 1258 M) 

    Pada masa ini, pengaruh dan praktik-praktik Tasawuf kian tersebar luas melalui thariqah-thariqah, dan para Sulthan serta pangeran tak segan-segan pula mengeluarkan perlindungan dan kesetiaan pribadi mereka. Pada masa ini terlihat tanda-tanda keruntuhan kian jelas, penyelewengan dan sekandal melanda dan mengancam kehancuran reputasi baiknya dengan ditandainya munculnya bid’ah, khurafat, mengabaikan syari’at dan hukum-hukum moral dan penghinaan terhadap ilmu pengetahuan, berbentangkan diri dari dukungan awam untuk menghindarkan diri dari rasionalitas, dengan menampilkan amalan yang irrasional. Azimat dan ramalan serta kekuatan ghaib ditonjolkan. Sehingga muncul Ibn Taimiyah untuk menyerang semua itu, dengan mengembalikan ajaran tasawuf berlandaskan alQur’an dan Al-Hadits. Kepercayaan yang menyimpang diluruskan, seperti kepercayaan kepada wali, khurafat dan bentuk-bentuk bid’ah pada umumnya. Menurut Ibn Taimiyah yang disebut wali (kekasih Allah) ialah orang yang berperilaku baik (shaleh), konsisten dengan syari’ah Islamiyah. Ibn Taimiyah mengkritik terhadap ajaran Ittihad, Hulul, dan Wahdat Al-Wujud sebagai ajaran yang menuju kekufuran (atheisme), meskipun keluar dari orang-orang yang terkenal ‘arif (orang yang telah mencapai tingkatan ma’rifat), ahli tahqiq (ahli hakikat) dan ahli tauhid (yang mengesakan Tuhan). Pendapat tersebut layak keluar dari mulut orang yahudi dan Nasrani. Mengikuti pendapat tersebut hukumnya sama denganyang menyatakan, yakni kufur. Yang mengikutinya karena kebodohan, masih dianggap beriman.




No comments:

Post a Comment

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO  Oleh : Qonita Salma Safira (21311103) A. MA'RIFAT 1. DEFINISI MA’RIFAT  Secara bahasa b...