Monday, November 29, 2021

TAFSIR TEMATIKPENDIDIKAN, PEMBANGUNAN KARAKTER,PENGEMBANGAN SDM

TAFSIR TEMATIK
PENDIDIKAN, PEMBANGUNAN KARAKTER,PENGEMBANGAN SDM


A. PENGERTIAN TAFSIR TEMATIK/MAUDHU’I 
Tafsir tematik dalam bahasa Arab disebut tafsir maudhu’I . Tafsir Maudhui’I terdiri 
dari dua kata, yaitu kata tafsir dan kata maudhu’I. Kata tafsir termasuk bentuk mashdar (Kata benda) yang berarti penjelasan,keterangan,uraian,Kata maudhu’I dinisbatkan kepada kata maudhu’, isim maf’ul dari fi’il madhi wadhu’a, yang memiliki makna beraneka ragam, yaitu : yang diletakkan, yang diantar, yang ditaruk, atau yang dibuat-buat,yang dibicarakan/tema/topik. Makna yang terakhir ini (tema/topik ) yang relevan dengan konteks pembahasan disini. Jadi secara harfiah tafsir atau topic tertentu. 
Pengertian tafsir tematik/maudhu’I secara terminologis banyak dikemukakan oleh 
para pakar tafsir yang pada prinsipnya bermuara pada makna yang sama. Salah satu definisi maudhu’I/tematik yang dapat dipaparkan disini ialah definisi yang dikemukakan DR. Abdul Hayyi al-Farmawi sebagai berikut : 
Tafsir maudhu’I/ tematik adalah pola penafsiran dengan cara menghimpun ayat-ayat 
al-Qur’an yang mempunyai tujuan yang sama dengan arti sama-sama membicarakan satu topik dan menyusun berdasarkan masa turun ayat serta memperhatikan latar belakang sebabsebab turunnya, kemudian diberi penjelasan, uraian, komentar dan pokok-pokok kandungan hukumannya. 
Definisi tafsir maudhu’I ini memberikan indikasi bahwa mufassir yang menggunakan 
metode dan pendekatan tematik ini dituntut harus mampu memahami ayat-ayat yang 
berkaitan dengan topik yang dibahas, maupun menghadirkan dalam benaknya pengertian kosa kata ayat dan sinonimnya yang berhubungan dengan tema yang ditetapkan. Mufassir menyusun runtutan ayat sesuai dengan amasa turunnya dalam upaya mengetahui perkembangan petunjuk al-Qur’an menyangkut persoalan yang dibahas, menguraikan satu kisah atau kejadian membutuhkan runtutan kronologis peristiwa. Mengetahui dan memahami latar belakang turun ayat (bila ada) tidak dapat diabaikan, karena hal ini sangat besar pengaruhnya dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an secara benar. Untuk mendapatkan keterangan yang lebih luas, penjelasan ayat, dapat ditunjang dari hadis, perkataan para sahabat, dan lain-lain yang ada relevansinya. 
Tafsir tematik memposisikan al-Qur’an sebagai lawan dialog dalam mencari kebenaran. Mufassir bertanya, al-Qur’an menjawab. Dengan demikan dapat diterapkan apa yang dianjurkan oleh Ali bin Abi thalib :طق
ٌٱس
ت 
ألقراى artinya : Ajaklah al-Qur’an 
berdialog. Konsep yang dibawah mufassir dari hasil pengalaman manusia dalam realitas eksternal kehidupan yang mengandung salah dan benar dihadapkan kepada al-Qur’an. 6Hal ini bukan berarti bahwa mufassir berusaha memaksakan pengalaman manusia kepada alQur’an dengan memperkosa ayat-ayat untuk mengingkari kehendak manusia, melainkan untuk menemukan pandangan al- Qur’an dalam kapasitasnya sebagai sumber inovasi dan penentu kebenaran Ilahi yang dikaitkan dengan kenyataan hidup.


B.SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR TEMATIK 
Bila ditelusuri perkembangan tafsir al-Qur’an sejak awal pertumbuhannya di masa 
hidup Rosulullah SAW. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa tafsir tematik sudah terwujud, walau hanya sederhana. Upaya mempertemukan beberapa ayat yang semakna atau yang berkaitan dengan masalah tertentu sudah ada dengan munculnya penafsiran ayat al- Qur’an dengan ayat al-Qur’an yang lain. 
Hal ini dapat dimaklumi, sebab al-Qur’an dalam kapasitasnya sebagai pedoman hidup 
bagi manusia dan memberi petunjuk tentang ajarannya diturunkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang membutuhkan, sehingga kadang-kadang diturunkan ayat yang mujmal, mutlaq, dan umum, tetapi kadang-kadang diturunkan ayat yang terinci, tertentu, dan khusus. 
Hal-hal yang diterangkan secara mujmal dalam suatu ayat, lalu dijelaskan secara 
terinci dalam ayat yang lain. Demikian pula halnya petunjuk yang diberikan secara umum dalam suatu ayat, kadangkala dijelaskan secara khusus dalam ayat yang lain. 
Dengan demikian berarti bahwa al-Qur’an telah ditafsirkan dengan sumber dari al
Qur’an sendiri, sehingga dapat diketahui maksud firman Allah itu melalui penjelasan dari Allah itu juga dalam ayat yang lain. Karena Allah yang mempunyai firman itulah yang lebih mengetahui maksud yang dikehendakinya daripada yang lain. 
Contoh tafsir tematik/maudhu’I pada masa Nabi Muhammad SAW. Ialah beliau menafsirkan 
٨٢ 
الذ يي ا
ه
ٌ
ى ولن يلبسىا ايو
ب
ً
هن بظلن اولئل لهن االهي وهن ههتدوى ) االًعبم 
:dalam surat al-An’am ayat 82 الظلن kata 
Dengan الشرك (mempersekutukan Allah dengan yang lain) yang terdalam dalam surat Luqman 
ayat 13 yang berbunyi: 
تشرك بب هلال اى الشرك لظلن عظين ) لقوبى ١٣ 
يب 
ب
ٌ
ي ال 
Dengan penafsiran Nabi tersebut berarti beliau telah menanamkan tafsir maudhu’I/tematik dan memberi isyarat bahwa lafal-lafal yang sukar diketahui maksudnya dalam suatu ayat perlu dicari penjelasannya pada lafal-lafal yang terdapat dalam ayat yang lain. Dalam konteks ini, DR. Abdul Hayyi al-Famawi mengatakan bahwa semua ayat yang ditafsirkan dengan ayat al-Qur’an adalah terkasuk tafsir maudhu’I dan sekaligus merupakan permulaan pertumbuhan tafsir maudhu’I. Kemudian sesudah itu tumbuh pula bibit-bibit tafsir maudhu’I dalam beberapa halaman kitab-kitab tafsir yang besar yang menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, antara lain : al-Bayan fi Aqsam al-Qur’an oleh Ibn al- Qoyyim, Mufradat al-Qur’an oleh al-Raghib, dan Ahkam al-Qur’an oleh al-Jashshas,dan lain sebagainya. 
Kitab-kitab tafsir tersebut dimaksudkan secara khusus sebagai tafsir maudhu’I yang 
berdiri sendiri, walau demikian setidak-tidaknya dapat dikatakan bahwa bentuk tafsir 
maudhu’I ini sudah bukan merupakan bentuk baru. Sebab yang merupakan hal yang baru adalah perhatian para mufassir terhadap metode penafsiran tematik yang dapat dibedakan dari metode penafsiran yang lain, bahkan dapat dipisahkan sebagai metode yang berdiri sendiri. 
Kitab-kitab tafsir yang sudah banyak membahas masalah-masalah tertentu rupanya masih dianggap belum memadahi untuk menjawab aneka ragam permasalahan dalam masyarakat. 
Disini para mufassir mendapat inspirasi baru dan bermunculan karya-karya tafsir yang 
menetapkan satu topik tersebut, sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan dari masalah tersebut menurut pandangan al-Qur’an. Metode tafsir maudhu’I ini di Mesir pertama kali dicetuskan oleh Prof.DR.Ahmad Sayyid al-Kumi, Ketua Jurusan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo samapai tahun 1981 
Beberapa kitab tafsir yang menggunakan metode tematik tersebut antara lain : 
a. Al-Futuhat al-Rahbaniyah fi al-Tafsir al-Maudhu’I li al-Ayat al- Qur’aniyah, karya Prof. DR. Al-Husaini Abu Farhah. 
b. Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’I, karya Prof. DR. Abdul Hayyi al-Farmawi.

C . Tafsir Tematik Yang Membahas Tentang Pendidikan 
Penjelasan Al-Qur’an, surat al-Rahman ayat 1-4

الرَّحْمَنُ (١) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (٢) خَلَقَ الإنْسَانَ (٣) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (٤)
1. (tuhan) yang Maha pemurah,
2. yang telah mengajarkan Al Quran.
3. Dia menciptakan manusia.
4. mengajarnya pandai berbicara.
Pada surah ar-Rahman ayat 1-4 ditegaskan disini bahwa yang menjadi subjek pendidikan adalah seorang manusia yang merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna karena diberikan olehnya sesuatu yang tidak ia berikan kepada makhluk ciptaannya yang lain yakni akal yang mengangkat derajat manusia sehingga manusialah yang berhak menjadi subjek pendidikan baik bagi sesama ataupun bagi makhluk ciptaan Allah yang lainnya.
Ayat 1-2, Allah yang Maha Pengasih, baik di dunia, akhirat ataupun keduanya yang Rahmatnya meliputi segala sesuatu. Allah SWT mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia sehingga Dia memudahkan Al-Qur’an untuk dihafal, dibaca, dipahami, dan diamalkan. Ar Rahman dalam surat ini dapat diartikan sebagai seruan awal agar semua memperhatikan tentang informasi, yaitu informasi mengenai berbagai macam nikmat dari ar Rahman.
Nikmat pertama ialah “Yang telah mengajarkan Al-Qur’an”. Dengan demikian maka jelaslah tujuan Allah mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia yakni agar manusia yang juga sebagai penghuni alam semesta dapat peka dan paham terhadap segala sesuatu yang ada dalam Al-Qur’an.
Ayat 3-4, Allah menciptakan pada diri manusia tenaga untuk menjelaskan apa yang terkandung dalam pemikirannya dengan bahasa yang dapat dipahami. Manusia tidak dapat hidup sendirian, mereka memerlukan orang lain. Oleh karena itu mereka memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi dan alat untuk memelihara ilmu yang diterimanya dari orang-orang sebelumnya untuk disampaikan kepada orang sesudahnya. 
Dalam surat al-Rahman ayat 1-4 pada awal surat menggunakan kata ar-Rahman (الرَّحمن) yang bertujuan untuk mengundang rasa ingin tahu kaum musyrikin Mekkah pada waktu itu, dengan harapan mereka akan tergugah untuk mengakui nikmat Allah dan beriman kepada Allah.
Selain itu, ayat-ayat ini juga turun sebagai bantahan bagi penduduk mekah yang terdapat dalam Surat an Nahl ayat 103 yang mengatakan bahwa Al Qur’an diajarkan oleh Manusia biasa terhadap Nabi Muhammad. Sehingga pada ayat ini Allah menunjukan dan menyatakan bahwa Allah lah yang telah mengajarkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw melalui Malaikat Jibril yang selanjutnya akan diajarkan kepada umatnya.
Selain ayat ini, ada juga ayat lain yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad itu bukan diajar atau dididik oleh manusia biasa melainkan dididik oleh Allah melalui malaikat Jibril yakni Surat an Najm ayat 5 dan 6, yang penjelasannya akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.
Dalam surat ar Rahman juga terdapat kata (عَلّمَ) yang mashdarnya (تَعْلِيْمُ) mempunyai arti proses transportasi ilmu. Ini menunjukan kenyataan bahwa memang benar Al Qur’an itu diturunkan kepada Nabi muhammad secara berangsur-angsur dan pengajaran Al Qur’an kepada manusia itu memang secara bertahap sehingga Al Qur’an bisa dipahami oleh manusia. 
Di ayat selanjutnya terdapat kata al insan (الانسن) kata ini memiliki makna seluruh manusia bukan hanya nabi Muhammad saja. Dalam penciptaan manusia terdapat pula penciptaan alat-alat tubuh yang digunakan untuk berkomunikasi seperti lidah, bibir, tenggorokan, dan paru-paru. Semua organ inilah yang nantinya akan terlibat dalam proses menghasilkan sebuah suara. Sehingga semua proses penghasilan suara ini dapat dimasukan kedalam pengajaran al Bayan. 
Kata (البيان) al bayan pada mulanya berarti jelas. Kata tersebut dipahami oleh Thabathaba’i dalam arti “potensi mengungkap” yakni kalam atau ucapan yang dengannya dapat terungkap apa yang ada dalam benak. Lebih lanjut, ulama’ ini mengatakan bahwa kalam bukan sekedar mewujudkan suara, dengan menggunakan rongga dada, tali suara, dan kerongkongan. Bukan juga hanya dalam keanekaragaman suara yang keluar dari kerongkongan akibat perbedaan makharij al-huruf atau tempat-tempat keluarnya huruf dari mulut. Tetapi juga bahwa Allah Swt menjadikan manusia dengan mengilhaminya, yakni mampu memahami makna suara yang keluar itu.
Lain halnya dengan Thabathaba’i, Ibnu al Qayyim lebih menspesifikan al bayan ke dalam tiga tingkatan yang masing-masing didefinisikan dengan bayan :
Bayan pertama adalah pandai berfikir yakni dapat memilah-milah informasi, bayan pertama ini untuk hati.
Bayan kedua adalah pandai berbicara yakni mampu mengungkapkan informasi dan menerjemahkanya untuk orang lain, bayan kedua ini untuk telinga.
3. Bayan ketiga adalah pandai menulis, yakni dapat menuliskan kata-kata sehingga orang yang melihat dapat mengerti maknanya seperti orang yang mendengar, bayan ini untuk mata. 
Dengan demikian jelas bahwa manusia itu pada dasarnya sudah diajari atau dianugrahi oleh Allah Swt dua buah kemampuan. Pertama, kemampuan untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain, walaupun pengajaran yang dilakukan manusia itu sifatnya terbatas. Kedua, kemampuan untuk menyerap pengajaran dari orang lain. Jika dihubungkan ke dalam hal Pendidikan, maka kedua kemampuan inilah yang akan menjadi kunci bagi sesuatu agar bisa disebut dengan pelaku pendidikan atau yang biasa disebut dengan Subyek pendidikan.
Penjelasan Al-Qur’an, surat al-Nahl ayat 43-44

(43) Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
(44) Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.(Q.S al-Nahl ayat 43-44)
Ayat 43, Allah menyatakan bahwa Dia tidak mengutus seorang rosul pun sebelum nabi Muhammad kecuali manusia yang diberi-Nya wahyu. Ayat ini menggambarkan bahwa rosul-rosul yang diutus itu hanyalah laki-laki dari keturunan Adam sampai nabi Muhammad saw yang bertugas membimbing umatnya agar mereka beragama tauhid dan mengikuti bimbingan wahyu. Oleh karena itu yang pantas diutus untuk melakukan tugas itu adalah rosul-rosul dari jenis mereka dan berbahasa mereka.
Dalam ayat ini juga, Allah swt meminta orang-orang musyrik agar bertanya kepada orang-orang ahli kitab apakah didalam kitab mereka terdapat keterangan bahwa Allah pernah mengutus malaikat kepada mereka. Kalau memang disebutkan didalam kitab mereka bahwa Allah pernah menurunkan malaikat sebagai utusan Allah, mereka boleh mengingkari kerosulan Muhammad. Tetapi, apabila disebutkan dalam kitab mereka bahwa Allah hanya mengirim utusan seorang manusia yang sejenis dengan mereka , maka sikap mereka mengingkari kerosulan Muhammad saw itu tidak benar.
Ayat 44, Allah menjelaskan bahwa para rosul diutus dengan membawa bukti-bukti tentang kebenaran mereka, yaitu berupa mukjizat-mukjizat. Allah juga menurunkan Al-Qur’an kepada nabi Muhammad supaya beliau menjelaskan kepada manusia mengenai ajaran, perintah, larangan, dan aturan hidup yang harus mereka perhatikan dan mereka amalkan. Al-Qur’an juga mengandung kisah-kisah umat terdahulu agar dijadikan suri tauladan dalam menempuh hidup di dunia.
Telah diketahui sebelumnya bahwa kaum musyrikin selalu melakukan penolakan menyangkut kerasulan Nabi Muhammad. Dalam penolakan itu mereka selalu berkata manusia tidak wajar menjadi utusan Allah. Mereka menginginkan bahwa yang diutus itu haruslah Malaikat. Kemudian ayat ini turun dan menegaskan tentang jawaban dari penolakan itu. Selain memberikan jawaban mengenai penolakan kaum musyrikin, ayat-ayat ini juga dapat dipahami sebagai perintah Allah untuk mereka yang tidak mengetahui agar bertanya kepada yang tahu. Adapun orang yang berpengetahuan itu disebut (اهل الذكر) ahluz-zikri.
Dalam hal ini ahluz-zikri yang dimaksud adalah ahli kitab. Kaum musyrikin diperintakan untuk bertanya kepada para ahli kitab sebab mereka lah yang dianggap tahu mengenai isi dari kitab-kitab terdahulu. Walaupun ayat ini dirujukan kepada Ulama yahudi dan nasrani, tetapi cakupan ayat ini juga bisa berarti lebih umum lagi, yakni bagi mereka yang kurang memahami suatu hal perlu bertanya kepada ahlinya, termasuk diantaranya Ulama Islam.
Sejatinya yang diperintahkan untuk berfikir serius atau mendetail mengenai isi dan kandungan Al Qur’an bukan hanya Nabi Muhammad seorang, tetapi seluruh manusia. Sebab Al Qur’an itu merupakan hidayah dari Allah yang fungsi utamanya adalah sebagai petunjuk bagi manusia dalam mengelola hidupnya di dunia secara baik, dan merupakan rahmat untuk seluruh alam semesta.
Dari berbagai penjelasan diatas jika dihubungkan dengan pendidikan, maka akan muncul 2 hal penting. Pertama, Mengenai Gambaran seperti apa seharusnya pelaku pendidikan atau yang sering disebut dengan Subyek pendidikan itu, dan yang Kedua, Mengenai bahan ajar atau sesuatu yang akan diajarkan dan diterima oleh para pelaku pendidikan tersebut.

Penjelasan Al-Qur’an, surat al-Najm ayat 5-6
عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلْقُوَىٰ
yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. (An-Najm 53:5)
«علمه» إياه ملك «شديد القوى».
(Yang diajarkan kepadanya) oleh malaikat (yang sangat kuat). (Tafsir Al-Jalalain, An-Najm 53:5)
Ayat 6
ذُو مِرَّةٍ فَٱسْتَوَىٰ
yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. (An-Najm 53:6)
«ذو مرة» قوة وشدة أو منظر حسن، أي جبريل عليه السلام «فاستوى» استقر.
(Yang mempunyai kecerdasan) yang mempunyai kekuatan dan keperkasaan, atau yang mempunyai pandangan yang baik, yang dimaksud adalah malaikat Jibril a.s. (maka menetaplah ia) maksudnya, menampakkan diri dengan rupa aslinya. (Tafsir Al-Jalalain, An-Najm 53:6)
Ayat 5, dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa nabi Muhammad SAW diajari oleh malaikat jibril. malaikat jibril itu sangat kuat, baik ilmunya maupun amalnya. Dari sinilah jelas bahwa nabi Muhammad itu bukan diajari oleh manusia, tapi beliau diajari oleh malaikat yang sangat kuat.
Ayat 6, Allah SWT menerangkan dalam ayat ini, bahwa malaikat jibril memiliki kekuatan yang luar biasa. Seperti dalam suatu riwayat yang menjelaskan bahwa malaikat jibril pernah membalikkan perkampungan nabi Lut kemudian mereka diangkat ke langit lalu dijatuhkan ke bumi. Ia juga pernah menghembuskan kaum nabi samud hingga berterbangan. Dan apabila ia turun ke bumi hanya dibutuhkan waktu sekejap mata. Ia juga dapat berubah bentuk seperti manusia.
Kata ( (علّمه‘allamahu/ diajarkan kepadanya bukan berarti wahyu tersebut bersumber dari malaikat jibril. Malaikat menerima wahyu dari Allah dengan tugas menyampaikannya secara baik, dan benar kepada nabi Muhammad saw, dan itulah yang dimaksud dalam pengajaran disini.
Kata ( (مرّةmirrah berarti melilitkantali guna menguatkan sesuatu. Kata ) ذو مرّة) dzu mirrah digunakan untuk menggambarkan kekuatan nalar dan tingginya kemampuan seseorang.
Penjelasan Al-Qur’an, surat al-Kahfi ayat 66
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
Ayat ini menyatakan bahwa maksud Nabi Musa as datang kepada al-Khidir, yaitu untuk berguru kepadanya. Nabi Musa as memberi salam kepada al-Khidir seraya berkata, “Saya adalah Musa”. Al-Khidir bertanya kepadanya (Nabi Musa as), “Musa dari Bani Isra’il?”. Musa menjawab, “Ya benar!”. Maka al-Khidir memberi hormat kepadanya seraya berkata, “Apa keperluannmu datang kemari?”. Nabi Musa as menjawab, bahwa beliau datang kepadanya supaya diperkenankan mengikutinya dengan maksud supaya al-Khidir mau mengajarkan kepadanya sebagian ilmu yang telah Allah ajarkan kepada al-Khidir itu, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal yang shaleh. 
Dalam ayat ini Allah menggambarkan secara jelas sikap Nabi Musa as sebagai calon murid kepada calon gurunya dengan mengajukan permintaan berupa bentuk pertanyaan, itu berarti Nabi Musa as sangat menjaga kesopanan dan merendahkan hati. Beliau menempatkan diri sebagai orang yang bodoh dan mohon diperkenankan mengikutinya supaya al-Khidir sudi mengajarkan sebagian ilmu yang telah Allah berikan kepadanya.

D . Tafsir Tematik Yang Membahas Tentang Pembangunan Karakter
Pengertian Pendidikan Karakter 
Analisis Kebahasaan Al-Qur’an menyebutkan batasan pengertian tentang pendidikan karakter secara terpisah namun jika dianalisis mendalam menyatu dalam satu pengertian, terutama jika ditinjau secara kebahasaan melalui pengertian pendidikan dan pengertian karakter. Melalui ayat-ayat al-Qur’an sekurang-kurangnya ditemukan tiga kata yang merujuk pada makna pendidikan, yakni tarbiyah, ta’līm dan ta'dīb. Sedangkan kata karakter ditemukan dalam kata al-tab’u ay al-tabīah dan al-akhlāq yang jika dijabarkan dalam sebuah definisi ditemukan sisi-sisi persamaan dan perbedaan pengertian yang perlu dianalisis lebih lanjut. Khusus kata pendidkan dengan penyebutan tarbiyah yang akar katanya adalah rabb dan segala derivasinya terulang sebanyak 872 kali di dalam al- Qur’an,1 dan digunakan untuk menjelaskan arti yang bermacam-macam. Salah satunya, digunakan dalam konteks sifat Tuhan, yaitu rabb al-‘ālamīn yang diartikan pemelihara alam.
    M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Allāhu Rabb (Tuhan Pemelihara) mempunyai banyak sekali aspek yang dapat menyentuh makhluk. Pengertian Rubūbiyyah (pemeliharaan) mencakup pemberian rezeki, pengampunan dan kasih sayang, juga amarah, ancaman, siksaan dan sebagainya. Ini tidak jauh berbeda dengan sesuatu yang sering mengancam, bahkan memukul seorang anak, dalam kegiatan pendidikan. Walaupun anak yang dipukul itu merasa diperlakukan tidak wajar, kelak setelah dewasa akan sadar bahwa pukulan tersebut merupakan sesuatu yang baik baginya. Jadi, apapun bentuk dari perlakuan Tuhan kepada makhluk-Nya sama sekali tidak terlepas dari sifat kepemeliharaan dan kependidikannya, walau perlakuan itu dinilai oleh sebagian manusia sesuatu yang negatif. Ini berarti bahwa jika al-tarbiyah digunakan dalam konteks pendidikan, maka seorang peserta didik harus menerima segala ajaran dan perlakuan yang diberikannya dari orang yang mendidiknya secara ikhlas. Selanjutnya adalah term al-ta’līm yang di dalam bahasa Arab kata ini merupakan bentuk mashdar dari kata ‘allama-yu’allimu. Term tersebut, berasal dari ‘alima dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dapat diulang dan diperbanyak sehingga menghasilkan bekas atau pengaruh pada diri seseorang. Dengan demikian, jika kata ta’līm digunakan dalam konteks pendidikan, maka pendidikan pada hakikatnya adalah usaha untuk melatih peserta didik secara terus menerus sehingga ada bekas pada dirinya. 
    Namun yang lazimnya dipahami, kata ta’lim yang berasal dari ‘alima tersebut mengandung makna “pengetahuan” karena ia berasal dari kata dasar ‘alima-ya’lamu-‘ilm (علم .(Kata ini dalam Al-Qur’an dan derivasinya terulang sebanyak 840 kali, dan digunakan juga dalam arti yang bermacam-macam sebagaimana kata tarbiyah tadi. Dalam hal ini, kata ‘alima terkadang digunakan untuk menjelaskan pengetahuan-Nya yang diberikan kepada segenap manusia, juga terkadang digunakan untuk menerangkan bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu yang ada pada diri manusia. Dengan demikian, konsep ta’līm mengacu kepada adanya sesuatu berupa pengetahuan yang diberikan peserta didik. Muhammad Rasyid Ridhā’ dalam mendefinisikan al-ta’līm, mengacu pada arti proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada diri individu tanpa adanya batasan dan persyaratan tertentu, dan proses transmisi itu dilakukan secara bertahap sebagaimana Nabi Adam as. menyaksikan dan menganalisis asma-asma yang diajarkan oleh Allah kepadanya.Sedangkan term al-ta’dīb dan akar katanya addaba-yu’addibu-ta’dīban yang berarti memberi adab, atau perilaku. Secara tekstual memang term ini tidak ditemukan dalam al-Qur’an yang mengacu pada makna pendidikan, tetapi dalam hadis kata tersebut banyak disebutkan. Antara lain hadis Nabi saw. menyatakan:
الله بنىّأد (Allah telah menanamkan adab pada diriku). Sehingga untuk
mengkorelasikannya dapat disinonimkan dengan kata al-rabb sebagai kata dasar tarbiyah juga mempunyai pengertian menumbuh kembangkan potensi bawaan seseorang, baik potensi fisik (jasmani), akal maupun potensi psikis-rohani(akhlak). Dengan demikian, kata tarbiyah dalam hal-hal tertentu dapatdigunakan untuk menamai suatu bentuk pendidikan akhlak, misalnya memperbaikipeserta didik dan memelihara aspek fisiknya dan psikisnya. Arti yang lebih luaslagi, al-tarbiyah dengan makna al-tanmiyah (pertumbuhan atau perkembangan),mengindikasikan bahwa aspek fisik dan psikis peserta didik dapat ditumbuhkembangkan lebih lanjut sesuai dengan tujuan pendidikan. Hal ini dapat dipahamidengan menelusuri beberapa ayat yang terkait, seperti firman Allah swt dalam QS.Ali-Imrān/3: 120:
يَاأَيـُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتـَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تـُقَاتِهِ وَلاَ تمَُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُونَ
Terjemahnya :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwakepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaanberserah diri.
Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah (muslim), merupakan ujung
dari takwa sebagai aplikasi dari hidup akhlak muslim, yakni kepribadian yang
bertakwa, dan inilah tujuan akhir pendidikan pendidikan karakter. Tujuan ini 
sejalan dengan dalil-dalil yang bersumberkan dari ayat-ayat al-Qur’an maupunhadis sebagai sumber utama ajaran Islam. Dalam hal ini, secara umum dalamberbagai nash disebutkan bahwa karakter dalam al-Qur’an lebih dominandiinterpretasi dari term khuluq dan yang semakna dengannya.
Term khuluq dalam al-Qur’an ditemukan dua kali, yakni pada QS. al- Syu’arā’/26: 137 dan QS. al-Qalam/68: 4. Demikian halnya ada beberapa ayat
yang terkait dengan pendidikan karakater selain dari term khuluq tersebut,
terutama ayat-ayat tentang tujuan manusia diciptakan untuk menghambakan
dirinya pada Allah swt, sehingga manusia harus memiliki karakter kehambaan
yang tulus. Lebih mendalam batasan pendidikan secara kebahasaan dengan merujukpada ketiga yang telah diurai, yakni al-tarbiyah, al-ta’līm, dan al-ta’dīb memangpada dasarnya ketiga term ini secara etimologis, kesemuanya bisa berartibimbingan dan pengarahan. Namun sebagaimana yang telah ditegaskan bahwa yang menjadi acuan dalam merumuskan definisi pendidikan karakter yang lebih identik dengan akhlak, maka lebih tepat digunakan al-ta’dīb, yakni kegiatan pendidikan yang menekankan prilaku, etika, budi pekerti yang baik dan hal inimenjadi bagian integral dari term tarbiyah yang secara konseptual pendidikanIslam yang dikemukakan para pakar, misalnya 'Abd. Rahmān al-Nahlāwiy, merumuskan:
التربية الإسلامية هي التنظيم المنفسي والإجتماعي الذي يؤدي إلى اعتناق الإسلام13 وتطبيقه كليا فى حياة الفرد والجماعة
Artinya : Pendidikan Islam ialah pengaturan pribadi dan masyarakat yang karenanya dapatlah menunaikan (ajaran) Islam secara utuh dan menyeluruh, baik dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Term al-tarbiyah dan al-ta’dīb demikian halnya term al-ta’līm dari segi konseptualnya memang berbeda. Ta'dīb merupakan bentuk masdar dari kata addaba (دَّبَأ (yang memberi adab, perangai, atau kebiasaan baik dan akhlak. Adab dalam kehidupan sehari-hari sering diartikan sopan santun yang mencerminkan karakter seseorang. Istilah ta'dīb ini dalam kaitan dengan arti pendidikan Islam, telah dikemukakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attās yang menurutnya bahwa inti pendidikan adalah menanamkan akhlak, yakni adab pada manusia. Di sisi lain, addaba mengandung arti pengajaran Tuhan kepda nabi- Nya sebagaimana dalam hadis berikut: عَـنْ إِبْــنُ مَسُـعُوْدِ رع قَــالَ :قَــالَ رَسُـوْلُ االلهِ صـلم أَدَّبَــنىِ االلهُ فَأَحْسَـنَ تَــأْدِيْبىِ (رواه 16 البخاري) Artinya: Hadis dari Ibn Ibn Mas'ūd berkata, telah bersabda Rasululullah saw, Tuhan telah mendidikku, maka Dia sempurnakan pendidikanku. (HR. al-Bukhāriy). Al-Attās menjelaskan lebih lanjut bahwa makna adab ialah pengetahuan tentang akhlak yang dengannya mencegah manusia dari kesalahan-kesalahan penilaian. Di sini adab berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkatan dan derajat tingkatan mereka, dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmani, intelektual, maupun rohani seseorang. Penggunaan term ta'dīb dalam arti pendidikan Islam yang focus untuk membentuk karakter, bukannya ta'līm dan tarbiyah oleh karena kemungkinan ada dua alasan pokok. Pertama, term tarbiyah yang berakar dari kata rabba, yarubbu, rabba mengandung arti sesuatu yang tumbuh, seperti anak-anak, tanaman, dan sebagainya. Jadi pada dasarnya, tarbiyah bukan sasarannya pada manusia saja, sementara pendidikan Islam dikhususkan pada manusia. Kedua, term rabba tadi memiliki arti kontekstual yang berhubungan dengan Tuhan, misalnya pada kata Rabbayāni dalam QS. al-Isrā/17: 14 dan didalamnya mengandung arti rahmah, yakni ampunan kasih sayang. Sementara pendidikan karakter bukan saja untuk ketuhanan, tetapi juga untuk kemanusiaan. Adapun makna ta'līm beorientasi kepada pengenalan saja yang berarti pengajaran, sedangkan yang dikehendaki dalam pendidikan karakter sampai kepada pengakuan, dan term ta'dīb mencakup unsur pengetahuan dan pengakuan tentang akhlak sebagai bagian integral dari karakter itu. Kaitannya dengan itu, Abd. Rahman Abdullah menjelaskan bahwa ta'dib dalam arti pendidikan karakter adalah usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi sedemikian rupa, sehingga anak terdorong dan tergerak jiwa dan hatinya untuk berprilaku dan bersifat beradab atau sopan santun yang baik sesuai yang diharapkan.18 Bila dianalisis lebih lanjut, tentu term ta'dīb, ta'līm, dan tarbiyah secara jelas memiliki perbedaan yang mendasar walaupun dalam berbagai segi ditemukan persamaan karena sama- sama fokus pada batasan pendidikan. Term ta'līm berasal dari kata 'allama ( َلَّـمَع (yang berarti mengajar. Jadi ta'līm berarti pengajaran dalam kalimat bahasa Arab "والتعلـيم التربيـة "diartikan pendidikan dan pengajaran. Jadi secara etimologis, ta'līm mengandung pengertian sekedar memberi tahu, atau memberi pengetahuan, tanpa ada penekanan pada pembimbingan moralitas sebagaimana yang terkandung dalam term addaba yang telah dijelaskan. Atau dengan kata lain, term ta'līm tidak mengandung arti pembinaan karakter sebagaimana dalam QS. al-Baqarah/2: 31 وَعَلَّمَ ءَادَمَ الأَْسمَْـاءَ كُلَّهَـا ثمَُّ عَرَضَـهُمْ عَلَـى الْمَلاَ ئِكَـةِ فـَقَـالَ أَنْبِئُـونيِ بِأَسمَْـاءِ هَـؤُلاَ ءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ(31( Terjemahnya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang- orang yang benar!".19 Juga dalam QS. al-Naml/27: 16
 وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَقَالَ يَاأَيـُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّي
Terjemahnya : Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengajaran tentang suara burung …20 Berkenaan dengan ayat di atas, dipahami bahwa ta'līm adalah pengajaran, yaitu transfer ilmu pengetahuan. Muhammad Rasyid Ridā lalu mendefinisikan bahwa al-ta'līm adalah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada diri individu tanpa adanya batasan dan persyaratan tertentu. Proses transmisi itu dilakukan secara bertahap sebagaimana Adam menyaksikan dan menganalisis asma-asma yang diajarkan oleh Allah swt. kepadanya. Dengan demikian, ta'līm merupakan usaha untuk menjadikan seseorang mengenal tanda-tanda yang membedakan antara satu dengan lainnya, dan mempunyai pengetahuan serta pemahaman yang benar tentang sesuatu. Jadi term ta'līm mempunyai konotasi khusus dan merujuk pada ilmu pengetahuan semata. Selanjutnya term tarbiyah, di samping merujuk pada akar kata rabba (bertambah dan bertumbuh), juga merujuk pada akar kata rabiya (tumbuh dan berkembang), serta merujuk pada akar kata rabba (memperbaiki, menguasai, dan memimpin). Term tarbiyah juga, berasal dari kata rab (al-rab) yang berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaan secara bertahap atau membuat sesuatu mencapai kesempurnaannya secara bertahap dan berangsur. Berkenaan dengan itulah, maka kata al-rab yang biasa diartikan Tuhan, juga mempunyai kesamaan arti dengan tarbiyah. Tetapi, Abd. Muin Salim justru memberi pengertian term Rab yang beragam. Menurutnya, kata ini bisa digunakan dalam arti al-sayyid (tuan), al-muslih (pemelihara), al-mudabbir (pengatur), al-jabīr (penguasa), al-qayyim (penopang). Dengan demikian, dipahami bahwa asal kata dan arti term tarbiyah bermacam-macam. Namun para pakar pendidikan Islam telah bersepakat bahwa arti tarbiyah adalah pendidikan dan kata ini mengandung makna yang sangat luas. Bisa berarti mengasuh, memelihara, menumbuh kembangkan segala potensi yang dimiliki manusia ke arah kesempurnaannya, dan banyak ayat yang menunjuk pada arti-arti yang demikian ini. Selain itu, ditemukan hadis yang redaksinya sebagai berikut: عَـنْ أَبُــو ذَرٍّ قَـالَ النَّـبيِ ُّ صـلم كُونُــوا رَبَّــانِيِّينَ حُلَمَـاءَ فـُقَهَـاءَ وَيـُقَـالُ الرَّبَّــانيِ ُّ الَّـذِي يـُـرَبيِّ 26 النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قـَبْلَ كِبَارِهِ ( رواه البخاري( Artinya: Dari Abū Żar, Nabi saw bersabda, jadilah kamu para pendidik yang penyantun, faqih dan berilmu pengetauan. Dikatakan juga, jadilah predikat rabbaniy apabila seseorang telah mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan, dari yang sekecilnya sampai yang paling tinggi. Berkenaan dengan itu, term tarbiyah adalah padanan dari term rabbāniyyīn yang mengandung arti proses transformasi ilmu dan sikap pada peserta didik untuk menjadi penyantun, memahami, dan menghayati sesuatu untuk sampai pada derajat tinggi dan kemuliaan. Itu berarti bahwa pendidikan dengan term tarbiyah adalah bermula dari proses pengenalan (introducting), hafalan (memorazing), kemudian berlanjut terus menerus sampai pada proses pemahaman (analizing). Berkenaan dengan uraian di atas, dirumuskan pendidikan karakter jika diterminologikan dengan istilah al-ta’dīb (bukan tarbiyah dan atau ta’līm), sudah mencakup unsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’līm), dan pembinaan yang baik (tarbiyah). Adab juga digunakan dalam konteks yang merujuk pada kajian etika profesional dan kemasyarakatan.Al-Quran menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab adalah Nabi saw, dan juga dalam hadis yang telah disebutkan bahwa “Allah telah menanamkan adab pada diriku (االله بنىّأد .“(Karena itu, ta’dīb dalam arti pendidikan adalah untuk menunjukkan intelektual, spritual, sosial, dan akhlak yang pada intinya adalah pendidikan karakter baik seperti yang telah diuraikan yang fokus pada pembentukan akhlak mahmudah adalah suatu karakter yang mulia atau terpuji seperti, al-Amanah (jujur), al-A'ifah (disenangi), al-Afwu (pemaaf), al-Khusyu (tekun dan sambil memundukkan diri), al-Ghufran (suka memberi maaf), al-Hilmu (menahan diri dari berlaku maksiat), al-Ihsan (senang berbuat baik), al-Itatah (memelihara kesucian diri), al-Muru'ah (berbudi tinggi), al-Rahmah (belas kasih), al-Sabru (selalu sabar) dan lain-lain. Dengan demikian, akhlak sesungguhnya bagian dari karakter yang dalam pandangan ajaran Islam merupakan kepribadian menitikberatkan pada beberapa komponen sebagaimana yang telah disebutkan, yakni tahu (pengetahuan), sikap dan perilaku. Heri Gunawan menegaskan bahwa karakter ini sangat penting karena menjadi penanda manusia. Bila baik akhlaknya, praktis karakternya baik dan disenangi banyak orang. Untuk mengasahnya diperlukan usaha berupa pendidikan karakter yang tidak sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga seseorang menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Semakin disadari saat ini betapa pentingnya pendidikan karakter atau juga dalam Islam disebut dengan istilah pendidikan akhlak mulia, sebab kecerdasan intelektual tanpa diikuti oleh karakter atau akhlak yang mulia maka tidak akan ada gunanya. Dengan demikian sebenarnya, karakter atau akhlak adalah sesuatu yang sangat mendasar. Masyarakat yang tidak berkarakter atau berakhlak mulia maka disebut sebagai tidak beradab dan tidak memiliki harga atau nilai sama sekali. Oleh karena itu, maka aspek tersebut dipandang sangat penting di sini adalah langkah utama secara metodologis dalam penerapan pendidikan karakter dalam rangka pencapaian tujuan. Perspektif metologis ini, sebagai bagian penting dalam kiat-kiat pelaksanaan pendidikan karakter.



E . Tafsir Tematik Yang Membahas Tentang Pengenbangan SDM

A. Esensi Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia merupakan sebuah cabang pembahasan dari manajemen pendidikan islam. Beranjak dari ini semua tentu di dalam aspek pembahasan manajemen sumber daya manusia tidak terlepas dari fungsi manajemen itu sendiri. Manajamen Sumber daya manusia adalah suatu proses yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pemimpin dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis pekerjaan, evaluasi pekerjaan, pengadaan, pengembangan, kompensasi, promosi, dan pemutusan hubungan kerja guna mencapai tujuan yang ditetapkan.

B. Komponen Manajemen Sumber Daya Alam Pendidikan Islam Sebagai Hasil Kajian Terhadap Alquran
Strategi pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. meliputi: (1) merencanakan dan menarik sumber daya manusia yang berkualitas, (2) mengembangkan sumber daya manusia agar berkualitas, (3) menilai kinerja sumber daya manusia, (4) memberikan motivasi, dan (5) memelihara sumber daya yang berkualitas. Sejalan dengan langkah yang diambil Nabi Muhammad tersebut, Mujamil Qomar mengungkapkan bahwa manajemen sumber daya manusia mencakup tujuh komponen, yaitu: 
(1) perencanaan pegawai, (2) pengadaan pegawai, (3) pembinaan dan pengembangan pegawai, (4) promosi dan mutasi, (5) pemberhentian pegawai, (6) kompensasi, dan (7) penilaian pegawai.
Komponen manajemen sumber daya manusia tersebut merupakan proses yang dilakukan suatu lembaga agar memperoleh sumber daya manusia yang unggul dan mampu mengemban tanggung jawab sesuai keahliannya.

C. Penafsiran Ayat-ayat Tentang Manajemen Sumber Daya Manusia 
QS. Ar-Rum : 30
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
Artinya: 
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”


Tafsir:
1) Tafsir Al Mukhatshar
Allah memerintahkan Rasulullah dan umatnya untuk menghadapkan wajah kepada Allah dengan berpegang teguh di atas agama-Nya. Allah mengkhususkan wajah karena penghadapan wajah merupakan hasil dari penghadapan hati, dan keduanya membutuhkan usaha dari badan. Dan teguhlah di atas agama Islam, ia merupakan agama Allah yang manusia diciptakan Allah dengan agama Islam sejak kelahiran mereka, maka janganlah merubah fitrah yang telah Allah tetapkan bagi hamba-Nya itu. Namun teguhlah di atas agama yang agung dan jalan yang dapat mengantarkan kepada keridhaan Allah. Akan tetapi mayoritas hamba tidak mengetahui keagungan agama yang benar ini. Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda: 
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Namun kedua orangtuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana hewan yang dilahirkan oleh hewan yang terpotong telinganya, apakah kalian melihat pada anaknya itu ada yang terpotong telinganya?” 

2) Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir 
Tetaplah berpegang teguh wahai nabi dan orang yang mengikutimu kepada agama Islam. Murnikanlah pandangan dan tujuanmu hanya kepadaNya seraya berpaling dari setiap agama lain dan menuju jalan lurus serta mengikuti fitrah yaitu suatu keadaan yang mana Allah menciptakan manusia sesuai keadaan itu yaitu tunduk kepada Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana dan Maha Esa yang mana tidak ada sekutu bagiNya. Tidak ada satupun yang mampu mengubah fitrah ketuhanan, yaitu dari fitrah bertauhid menjadi fitrah untuk syirik. Kelaziman fitrah itu adalah agama yang lurus yang tidak ada penyimpangan di dalamnya. Akan tetapi kebanyakan manusia seperti orang-orang kafir Mekah tidak mengetahui kebenaran dan ilmu Tauhid karena mereka tidak mau berpikir.
3) Tafsir Quraish Shihab
Dari itu, luruskanlah wajahmu dan menghadaplah kepada agama, jauh dari kesesatan mereka. Tetaplah pada fitrah yang Allah telah ciptakan manusia atas fitrah itu. Yaitu fitrah bahwa mereka dapat menerima tauhid dan tidak mengingkarinya. Fitrah itu tidak akan berubah. Fitrah untuk menerima ajaran tauhid itu adalah agama yang lurus. Tetapi orang-orang musyrik tidak mengetahui hakikat hal itu.
4) Tafsir Al-Muyassar
Maka tegakkanlah -wahai Rasul- wajahmu dan orang-orang yang bersamamu, dan hadapkanlah kepada agama yang telah dihadapkan oleh Allah kepadamu -dengan meninggalkan seluruh agama lainnya- yaitu agama Islam yang mana Allah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama lurus yang tidak bengkok, akan tetapi kebanyakan manusia tidak tahu bahwa agama yang benar adalah agama ini.

Q.S. As – Shaad : 27

وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَٰطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنَ ٱلنَّارِ


Artinya:  
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”

Tafsir:
1) Tafsir Jalalain
(Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan batil) dengan main-main. (Yang demikian itu) yakni penciptaan hal tersebut tanpa hikmah (adalah anggapan orang-orang kafir) dari penduduk Mekah (maka neraka Waillah) Wail adalah nama sebuah lembah di neraka (bagi orang-orang yang kafir karena mereka akan masuk neraka.)
2) Tafsir Quraish Shihab
Kami tidak menciptakan langit dan bumi beserta semua yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu hanya sangkaan orang-orang kafir sehingga mereka semena-mena memberikan keputusan sesuai hawa nafsunya. Dari itu, mereka akan memperoleh siksa yang pedih berupa api neraka.
3) Tafsir al-Al-Muyassar
Kami tidak menciptakan langit dan bumi karena iseng. Itu hanyalah dugaan orang-orang kafir. Celakalah orang-orang kafir yang menduga dengan dugaan demikian, mereka mendapatkan azab Neraka pada hari Kiamat bila mereka mati di atas kekufuran dan prasangka buruk kepada Allah.
4) Tafsir Al - Mukhtashar
Tidaklah Kami menciptakan langit, bumi, dan seisinya -berupa berbagai makhluk yang menakjubkan, beraneka ragam, dan penuh ketelitian- untuk sesuatu yang batil dan sia-sia. Dan keyakinan bahwa makhluk-makhluk ini diciptakan tanpa mengandung hikmah merupakan keyakinan orang-orang kafir. Maka neraka bagi mereka akibat pada hari kiamat kekafiran dan prasangka buruk mereka terhadap Allah Yang Menciptakan mereka.

QS. Al – Mujadalah : 11

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: 
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-
lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Tafsir :
1) Tafsir Jalalain
(Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, 
"Berlapang-lapanglah) berluas-luaslah (dalam majelis") yaitu majelis tempat 
Nabi saw. berada, dan majelis zikir sehingga orang-orang yang datang kepada 
kalian dapat tempat duduk. Menurut suatu qiraat lafal al-majaalis dibaca al-
majlis dalam bentuk mufrad (maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi 
kelapangan untuk kalian) di surga nanti. (Dan apabila dikatakan, "Berdirilah 
kalian") untuk melakukan salat dan hal-hal lainnya yang termasuk amal-amal 
kebaikan (maka berdirilah) menurut qiraat lainnya kedua-duanya dibaca 
fansyuzuu dengan memakai harakat damah pada huruf Syinnya (niscaya Allah 
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian) karena 
ketaatannya dalam hal tersebut (dan) Dia meninggikan pula (orang-orang yang 
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat) di surga nanti. (Dan Allah Maha 
Mengetahui apa yang kalian kerjakan).
2) Tafsir Al - Muyassar
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan melaksanakan apa
yang disyariatkan kepada mereka, jika dikatakan kepada kalian, “Berlapang-
lapanglah kalian di dalam majlis-majlis.” Maka lapangkanlah, niscaya Allah 
melapangkan bagi kalian kehidupan dunia dan di Akhirat. Dan jika dikatakan 
kepada kalian, “Bangkitlah dari majlis agar orang yang memiliki keutamaan 
duduk padanya.” Maka bangkitlah, niscaya Allah -Subḥānahu- mengangkat 
orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu 
pengetahuan dengan beberapa derajat yang agung. Dan Allah Maha 
Mengetahui apa yang kalian kerjakan, tidak ada sesuatu pun dari perbuatan 
kalian yang luput dari-Nya, dan Dia akan membalas kalian atas perbuatan 
tersebut.
3) Tafsir Quraish Shihab
 Wahai orang-orang yang mempercayai Allah dan rasul-Nya, apabila 
kalian diminta untuk melapangkan tempat duduk bagi orang lain agar ia dapat 
duduk bersama kalian maka lakukanlah, Allah pasti akan melapangkan segala 
sesuatu untuk kalian! Juga apabila kalian diminta untuk berdiri dari tempat 
duduk, maka berdirilah! Allah akan meninggikan derajat orang-orang Mukmin 
yang ikhlas dan orang-orang yang berilmu menjadi beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang kalian perbuat.




No comments:

Post a Comment

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA'RIFAT DAN RIDHLO  Oleh : Qonita Salma Safira (21311103) A. MA'RIFAT 1. DEFINISI MA’RIFAT  Secara bahasa b...