1. Manfaat membaca Al-Qur'an
Menurut Nasim Surahman
a. Dapat mendapat Pahala dan kebaikan
b. Membersihkan derajat dan wibawa lebih baik
c. Memperoleh rahmat dan lindungan oleh Malaikat
d. Memberikan syafa'at ketika hari kiamat tiba
e. Perilaku mulia
f. Hati tenang dan tentram
g. Selamat dunia dan akhirat
h. Menyembuhkan penyakit di tubuh dan hati
i. Memberikan kenikmatan pada kedua orang tua di hari kiamat
2. Adab membaca Al-Qur'an
Adab ketika membaca Al-Qurān seharusnya memenuhi beberapa hal, antara lain:
a. Membaca dengan tartil Tartil artinya bagus.
b. Memperindah bacaan
c. Membaca Al-Qurān dengan suara yang keras
d. Mengingat isi bacaan Al-Qurān
e. Menghayati bacaan Al-Qurān
f. Menangis ketika membaca Al-Qurān
3. Sejarah adanya 7 Macam Bacaan Al-Qur'an (Qira'ah Sab'ah)
Secara lahir, al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Ia diturunkan di tengah-tengah kehidupan bangsa Arab yang merupakan komunitas dari berbagai suku yang secara sporadis tersebar di sepanjang jazirah Arab. Setiap suku memiliki format dialek atau lahjah yang berbeda. Perbedaan dialek tersebut tentunya sesuai dengan letak geografis dan sosio-kultural dari masing-masing suku. Namun demikian, setiap suku telah menjadikan bahasa Quraisy sebagai bahasa bersama dalam berbagai hal, baik dalam berkomunikasi, berniaga atau yang lainnya. Tidaklah heran, ketika Usman bin Affan melakukan pengumpulan Al-Qur’an, salah satu syarat yang ditetapkan adalah harus disesuaikan dengan bahasa Quraisy. Di sisi lain, perbedaan-perbedaan dialek merupakan suatu sebab yang dapat melahirkan bermacam-macam qiraat (bacaan) dalam melafazkan al-Qur’an (Suarni, 2018).
Dengan kata lain, lahirnya bermacam-macam qiraat merupakan akibat dari beragamnya dialek. Adanya keberagaman dialek merupakan sesuatu yang bersifat alami. Artinya, fenomena tersebut tidak dapat dihindari karena setiap bangsa, suku, tetap memiliki dialek atau lahjah yang berbeda. Nabi sangat memahami keberagaman atau perbedaan-perbedaan dialek tersebut. Akibat beragamnya dialek di tanah Arab, Nabi berusaha menjaga umatnya dari berbagai kesulitan dan memberikan kemudahan untuk memahami al-Qur’an. Hal ini tercermin ketika Jibril datang membawa perintah kepada Nabi untuk membacakan al-Qur’an kepada umatnya dengan satu huruf. Nabi dengan memohon ampun kepada Allah, melalui malaikat Jibril meminta agar hurufnya ditambah. Setelah itu, hurufnya di tambah hingga tujuh huruf.
Dalam beberapa hadis dijelaskan;
“Rasulullah bersabda “Malaikat Jibril telah membacakan (al-Qur’an) kepadaku atas beberapa huruf. Lalu, aku berulang kali meminta kepadanya agar ditambahkan bacaan tersebut. Jibril pun menambah bacaan itu sehingga sampai tujuh huruf (macam)”. (HR. Muslim)
Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf. Artinya Nabi memberikan isyarat bagi umat bahwa al-Qur’an tidak hanya di baca dengan satu cara (satu huruf), tetapi dapat dibaca dengan beberapa cara. Namun, bukan berarti bahwa setiap kata dalam al-Qur’an itu dapat dibaca sebanyak tujuh bacaan yang berbeda, karena kata serupa itu tidak ditemukan dalam al-Qur’an kecuali sedikit sekali. Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa Nabi memberikan kelonggaran dalam membaca al-Qur’an sesuai dengan bacaan yang mudah, selama sebutan rahmat tidak ditutupi dengan sebutan azab. Sebaliknya, sebutan azab tidak diakhiri dengan sebutan rahmat.
Dalam sebuah hadis dijelaskan Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya al-Qur’an diturunkan atas tujuh bacaan, maka bacalah jangan merasa sulit (karena harus membaca dengan bacaan yang sukar sekali melafazkannya), namun jangan kamu akhiri ayat yang berisi (me- nyebutkan) rahmat dengan azab dan jangan pula mengakhiri azab dengan rahmat. Dengan demikian, ahruf sab’ah (tujuh huruf) muncul ketika Nabi masih hidup. Dalam kajian Ilmu Tafsir, tujuh huruf bermakna tujuh macam bacaan yang diajarkan Nabi, dan muncul ketika al-Qur’an di turunkan.Sementara, qiraat tujuh baru muncul jauh setelah Nabi wafat. Menurut catatan sejarah, qiraat muncul pada masa tabi’in, yaitu pada abad ke II H. Oleh karena itu, tujuh huruf itu sangat tidak identik disamakan dengan qiraat tujuh. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa qiraat itu telah ada sejak Nabi masih hidup, yaitu ketika Nabi membacakan al-Qur’an kepada sahabat dengan bacaan yang berbeda-beda.
Dalam beberapa hadis dijelaskan; Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat al-Furqan di masa hidup Rasulullah. Lalu aku sengaja mendengarkan bacaannya. Tiba-tiba dia membacanya dengan bacaan yang bermacam-macam yang belum pernah di bacakan Nabi kepadaku. Hampir saja aku serang dia dalam shalat, namun aku berusaha menunggu dengan sabar sampai dia salam. Begitu dia salam aku tarik leher bajunya, seraya aku bertanya, “siapa yang mengajari bacaan surat ini?” Hisyam menjawab, “yang mengajarkannya adalah Rasulullah sendiri”. Aku gertak dia, kau bohong, demi Allah, Rasulullah telah membacakan kepadaku surat yang kau baca tadi (tetapi tidak seperti bacaan mu). Maka kuajak dia menghadap Rasulullah dan kuceritakan peristiwanya. Lalu Rasulullah menyuruh Hisyam membaca surat al- Furqan sebagaimana yang dibacakan tadi. Kemudian Rasulullah berkomentar, “Demikianlah bacaan surat itu di turunkan. Lalu Rasulullah berkata lagi, “Sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan dalam tujuh huruf”, maka bacalah mana yang kamu anggap mudah.
Demikianlah kemudahan dan kelonggaran yang diberikan Nabi Muhammad kepada sahabat-sahabatnya untuk membaca al-Qur’an lebih dari satu huruf (dialek). Ini sesuai dengan yang diajarkan Jibril demi memudahkan umatnya membaca dan menghafalkan al-Qur’an. Dispensasi yang diberikan itu menimbulkan berbagai macam bentuk bacaan di kalangan para sahabat. Diantara para sahabat yang terkenal dalam mengajarkan bacaan al-Qur’an ( Qiraat) adalah Ubay, Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Masud, Abu Musa Al-Asy’ari, dan lain-lain. Dari mereka itulah sebagian besar sahabat dan tabiin berbagai negeri belajar qiraat, mereka semua bersandar kepada Rasulullah saw.
Pada permulaan abad pertama hijriyah di masa tabiin, tampillah sejumlah ulama yang kosen terhadap masalah qiraat secara sempurna dan menjadikannya sebagai suatu disiplin ilmu yang dapat berdiri sendiri sebagaimana ilmu-ilmu syariat yang lain, sehingga mereka menjadi imam dan ahli dalam bacaan qiraat. Para imam dan ahli qiraat pada dasarnya memiliki jumlah yang banyak, namun berdasarkan hasil penelitian dan ketetapan aturan syarat kemutawatiran sebuah qiraat, maka terpilihlah hanya tujuh qiraat yang dianggap memenuhi syarat mutawatir yaitu qiraat tujuh. Diantara imam-imam qiraat tersebut adalah Abu Amr, Nafi’, Ashim, Hamzah, Al-Kisa’i, Abnu Amir, dan Ibnu Katsir.
4. Hikmah atas adanya Qira'ah Sab'ah
Hikmah adanya qiraat sab’ah salah satunya adalah untuk keberagaman. Adapun hikmah yang lainya yaitu:
1. Menunjukkan betapa terjaganya dan terpeliharanya kitab allah dari perubahan dan penyimpangan padahal kitab ini mempunyai sekian banyak segi bacaan yang berbeda-beda.
2. Meringankan umat islam dan memudahkan mereka untuk membaca al-qur’an.
3. Kita dapat menyimpulkan dua hukum tanpa perpanjang lebar kata.
4. Bisa menjelaskan apa yang mungkin masih global dalam qiraat lain.
05. Sejarah munculnya ilmu tajwid dan makharijul huruf
Ilmu tajwid
Berdasarkan sejarah masuknya islam ke nusantara dapat disimpulkan disimpulkan bahwa dimulainya sejarah al-qur’an bersamaan dengan sejarah ilmu tajwid di nusantara. Merupakan sebuah sebuah keprihatinan ketika banyaknya para pecinta,pembaca dan penghafal al-qur’an yang mana harus memulai dasar mempelajari dengan ilmu tajwid akan tetapi tidak mengetahui secara jelas sejarah ilmu tersebut.
Sejarah islam di nusantara=sejarah al-qur’an di nusantara=sejarah ilmu tajwid al-qur’an di nusantara. Pada masa awal datang islam tajwid diajarkan secara lisan, pada masa awal pendidikan islam tajwid diajarkan melalui kitab-kitab ulama timur tengah yang dibawa ke nusantara, pada masa selanjutnya tajwid diajarkan melalui kitab-kitab karya ulama nusantara, terkait isi kitab-kitab tajwid yang ada di nusantara hampi semuanya sama. Kendatipun begitu tetap ada perbedaan pada masing-masing kitab, seperti bahasa yang digunakan ataupun sistematika penulisan yang diterapkan pada kitabnya masing-masing.
Makharijul huruf
Sejarah makharijul huruf ini berasal dari kata makhraj dan huruf, makhraj adalah daerah arkutulasi (Dalam pengucapan atau sistem ajaran), sistem pengucapan yang tepat,ketetapan ucapan dalam melafalkan rangkaian huruf-huruf. jadi dapat dikatakan makhrojul huruf merupakan tempat-tempat keluarnya huruf-huruf hijaiyah.
Makhraj di tinjau dari morfologi berasal dari fi’il madli: kharajh yang artinya keluar yang dijadikan ber-wazan (mafngal) yang ber-sighat isim makan,maka menjadi makhraj. Sedangkan bentuk jamaknya adalah makharij oleh karena itu makharijul huruf berarti tempat-tempat keluar huruf. Secara bahasa makhraj artinya tempat keluar,sedangkan menurut istilah makraj adalah suatu nama tempat yang padanya huruf dibentuk atau diucapkan.
6. Hikmah adanya Ilmu Tajwid dan Makharijul Huruf
Hikmah mempelajari ilmu tajwid
mencapai kesempurnaan dalam penetapan (pengucapan) lafadz allah yang disampaikan oleh nabi muhamad SAW yang lisannya lebih fasih. Tidak hanya itu saja hikmah dari mempelajari tajwid yaitu untuk menjaga lisan dari kesalahan saat membaca kitab allah. Oleh karena itu kita sebagai orang muslim harus menjaga dan memelihara kehormatan serta kesucian al-qur’an dengan membacanya secara baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwidnya.
Hikmah mempelajari makharijul huruf
gar kita bisa membedakan setiap huruf-huruf saat membaca al-qur’an,sehingga mencegah terjadinya kesalahan pengucapan huruf, karena jika terjadi kesalahan pengucapan huruf maka akan terjadi kesalahan pengartian.
Daftar Pustaka
Musthofa. (2017). Adab Membaca Al-Qur’an. An Nuha Vpl. 4 No 1.
Suarni. (2018). Ahruf Sab’ah Dan Qiraat Sab’ah. Al-Mu’ashirah Vol. 15 No. 2.
https://jabar.kemenag.go.id/portal/read/10-manfaat-baca-al-quran-setiap-hari-yang-luar-biasa
https;//news.detik.com “hikmah qiraat sab’ah”&Pengantar studi ilmu al-qur’an by syaikh manna al qathan.
Inayatul Mustautina, 2018. “Sejarah Ilmu Tajwid Al-Qur’an di Nusantara”. Skripsi. Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta
Syeh Muhamad al-Mthmud, Hidayatul Mustafid fi Ahkmit Tajwid (Semarang:Pustaka al-Alawiyah, 1408 H),hlm 4
M. Mamun Salman.”Makharijul huruf dan sifatul huruf”Panduan tahsin tilawah al-qur’an.
https://obrolan-hikmah.blogspot.com ”Hikmah makharijul huruf
No comments:
Post a Comment